Presiden Prabowo Subianto saat melihat maket proyek hilirisasi dan ekspor baterai EV di IWIP. Foto: dok IWIP.
11 Proyek Hilirisasi di IWIP Perluas Rantai Industri, dari Nikel hingga Baterai EV
Husen Miftahudin • 9 October 2026 15:31
Maluku Utara: Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) memasuki fase baru pengembangan ekosistem industri setelah Presiden Prabowo Subianto meluncurkan 11 proyek hilirisasi senilai Rp180 triliun sekaligus melepas ekspor perdana baterai kendaraan listrik di kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis, 8 Oktober 2026.
Momentum tersebut menandai perluasan mata rantai industri di kawasan Weda Bay, dari pengolahan dan pemurnian nikel menuju industri manufaktur bernilai tambah tinggi. Ekosistem industri yang berkembang kini mencakup produksi material baterai, baterai kendaraan listrik, aluminium, truk dan alat berat berbasis listrik, hingga industri pendukung energi terbarukan.
Perluasan tersebut mencerminkan perkembangan hilirisasi dari pengolahan bahan mentah menuju produksi berbagai komponen dan produk industri. Keterhubungan antarsektor ini menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem manufaktur yang terintegrasi di dalam negeri.
Dari 11 proyek yang diluncurkan, empat proyek memasuki tahap komersialisasi yang ditandai dengan ekspor perdana. Keempatnya bergerak di sektor material baterai kendaraan listrik, baterai, aluminium elektrolitik, serta alat berat berbasis listrik.
Proyek tersebut meliputi PT Blue Sparking Energy yang berfokus pada material baterai kendaraan listrik, PT REPT Battero Energy Indonesia yang memproduksi baterai kendaraan listrik, PT Pioneer Aluminium Industries yang memproduksi aluminium elektrolitik, serta PT XCMG Indonesia Manufacturing yang memproduksi alat berat berbasis listrik.
Keberadaan proyek-proyek tersebut memperluas aktivitas industri di kawasan Weda Bay, sekaligus menambah jenis produk manufaktur yang dihasilkan dari pengembangan hilirisasi.
Perkuat ekosistem industri
Selain empat proyek yang memasuki tahap komersialisasi, tujuh proyek lainnya mulai memasuki tahap pembangunan. Proyek-proyek tersebut mencakup material dan komponen baterai, peleburan aluminium, kendaraan listrik, serta industri pendukung energi surya.
PT Guang Ching Nickel Cobalt akan memproduksi material baterai, sementara PT Inno Prima Material berfokus pada produksi separator baterai dan PT Tinci Materials Indonesia pada elektrolit baterai. Di sektor aluminium, PT Weda Bay Aluminium membangun fasilitas peleburan aluminium, sedangkan PT Bintang Karya Aluminium mengembangkan fasilitas serupa.
Sementara itu, PT Foton Guangqing Motor Indonesia berfokus pada produksi truk listrik atau electric dump truck. Adapun PT Flatsolar Energy Indonesia akan memproduksi kaca fotovoltaik, komponen yang digunakan dalam panel surya untuk mendukung pemanfaatan energi surya.
Pengembangan tujuh proyek tersebut memperluas cakupan industri di kawasan Weda Bay, tidak hanya pada rantai pasok nikel dan baterai, tetapi juga pada kendaraan listrik, aluminium, serta komponen pendukung energi terbarukan.
Presiden Direktur IWIP Kevin He mengatakan, perkembangan tersebut menunjukkan semakin luasnya keterhubungan mata rantai industri di kawasan Weda Bay, mulai dari pengolahan bahan baku hingga manufaktur produk bernilai tambah.
"IWIP telah memasuki fase baru. Dari pengolahan dan pemurnian nikel, kini semakin banyak mata rantai industri hadir dan terhubung di dalam kawasan, mulai dari bahan baku baterai, aluminium kendaraan listrik, truk dan alat berat listrik. Bagi kami, perkembangan ini menunjukkan bahwa hilirisasi tidak berhenti pada pengolahan bahan baku, tetapi harus berlanjut menjadi industri manufaktur dengan teknologi, investasi, lapangan kerja, dan nilai tambah yang semakin besar di Indonesia," kata Kevin.
Menurut Kevin, perluasan kegiatan industri turut membuka peluang ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja, peningkatan kebutuhan barang dan jasa, serta tumbuhnya kesempatan usaha di sekitar kawasan. Saat ini, lebih dari 100 ribu karyawan disebut telah menjadi bagian dari ekosistem industri Weda Bay. Sementara itu, 11 proyek yang diluncurkan diproyeksikan membuka hingga 13.950 lapangan kerja.
"Perkembangan kawasan industri Weda Bay bukan hanya tentang bertambahnya fasilitas industri, tetapi juga tentang semakin banyaknya aktivitas produksi, kesempatan kerja, dan peluang usaha yang dapat tumbuh di Indonesia. Kami ingin keberadaan industri di kawasan ini memberikan manfaat yang semakin luas, termasuk terbukanya ruang bagi peningkatan investasi, produksi, penyerapan tenaga kerja, dan penciptaan nilai tambah," ujar Kevin.

(Peresmian proyek hilirisasi dan ekspor baterai EV di Weda Bay oleh Presiden Prabowo Subianto. Foto: dok IWIP)
Perluasan rantai industri jadi tahap lanjutan hilirisasi
Kevin menambahkan, pengembangan industri di kawasan Weda Bay membutuhkan dukungan pemerintah serta kolaborasi antara pelaku usaha, tenaga kerja, dan berbagai pemangku kepentingan.
"Kami berterima kasih kepada Bapak Presiden Republik Indonesia dan Pemerintah Indonesia atas dukungan terhadap pengembangan hilirisasi di kawasan industri Weda Bay. Bersama seluruh karyawan, mitra industri, dan pemangku kepentingan, kami akan terus melanjutkan pengembangan industri, memperkuat sumber daya manusia, dan memperluas manfaat ekonomi kawasan industri Weda Bay bagi Indonesia," kata dia.
Peluncuran 11 proyek hilirisasi dan ekspor perdana baterai kendaraan listrik menjadi bagian dari perkembangan ekosistem industri Weda Bay. Perluasan dari pengolahan dan pemurnian nikel ke material baterai, baterai kendaraan listrik, aluminium, kendaraan dan alat berat listrik, serta komponen energi terbarukan menunjukkan semakin beragamnya mata rantai produksi yang dikembangkan di kawasan tersebut.
Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas manufaktur dan meningkatkan nilai tambah sumber daya di dalam negeri.