Dorong Ketahanan Ekonomi Keluarga, WVI Perkuat Literasi Keuangan Warga di Sumba Timur

Kegiatan Gender Inclusive Financial Literacy Training (GIFT) yang digelar Wahana Visi Indonesia (WVI) di Sumba Timur. Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah

Dorong Ketahanan Ekonomi Keluarga, WVI Perkuat Literasi Keuangan Warga di Sumba Timur

Zein Zahiratul Fauziyyah • 28 October 2026 22:24

Sumba Timur: Wahana Visi Indonesia (WVI) mendorong ketahanan ekonomi keluarga di Sumba Timur melalui program Gender Inclusive Financial Literacy Training (GIFT) yang menggabungkan literasi keuangan dan kesetaraan gender. Program ini membekali keluarga dengan keterampilan mengelola keuangan, menabung, dan mengambil keputusan ekonomi bersama.

Manfaat program ini dirasakan Yanti, warga Desa Kondamara, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur. Sebelum mengikuti pelatihan, ia mengaku keluarganya kerap mengeluarkan uang melebihi pendapatan karena belum membedakan kebutuhan dan keinginan.

"Kalau sebelum ikut kegiatan WVI ini, pengeluaran keuangan itu kadang lebih besar daripada pemasukan. Kadang kami beli saja apa sesukanya yang diinginkan, padahal itu sebenarnya bukan kebutuhan," ujar Yanti di Desa Kondamara, Lewa, Sumba Timur, Rabu, 28 Oktober 2026.

Yanti, Petani dan Ibu rumah tangga Desa Kondomara, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur. Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah

Yanti dan suaminya mengandalkan penghasilan dari pertanian dan peternakan, termasuk beternak babi, ayam, dan kambing. Setelah mengikuti pelatihan, keduanya mulai membicarakan pemasukan, pengeluaran, serta prioritas kebutuhan keluarga. Perencanaan ini juga mencakup tabungan pendidikan anak dan alokasi penghasilan untuk membantu orang tua.

"Keputusan dalam rumah tangga itu harus diobrolin. Apa yang baik, bagaimana perkembangan kebutuhan keluarga, pengeluaran dan pemasukan seperti apa, tabungan masa depan anak, sampai berbagi untuk orang tua, semua harus diobrolin," kata Yanti.

Keluarga Yanti kini menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan pendidikan anak melalui koperasi kredit. Setiap anggota keluarga memiliki nomor tabungan masing-masing, sehingga persiapan kebutuhan pendidikan dapat dilakukan secara bertahap.

"Kebetulan kami punya tabungan anak. Kami satu keluarga punya nomor tabungan masing-masing. Suami setiap bulannya menyisihkan untuk nomor tabungan anak-anak, selain dari penghasilan utamanya," ujar Yanti.

Sebelum mengenal koperasi, Yanti mengaku keluarganya pernah terpaksa meminjam uang saat musim paceklik untuk membeli kebutuhan pokok. Pengalaman itu membuat pengelolaan keuangan dan persiapan dana cadangan menjadi penting bagi keluarganya.

“Dulu kalau pas musim paceklik dan butuh beras atau uang untuk kebutuhan, ya terpaksa pinjam. Kalau tidak pinjam, tidak ada beras di rumah,” katanya.

Kegiatan Gender Inclusive Financial Literacy Training (GIFT) yang digelar Wahana Visi Indonesia (WVI) di Sumba Timur. Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah

Perubahan Pola Pikir hingga Keseteraan Gender

Dalam program GIFT, WVI bersama Gereja Kristen Sumba (GKS) berfokus pada perubahan pola pikir, kesetaraan gender, dan komunikasi suami-istri. Sementara itu, koperasi kredit atau credit union (CU) berperan membantu keluarga menerapkan keterampilan keuangan secara langsung, mulai dari praktik menabung dan penyusunan anggaran rumah tangga hingga akses pinjaman yang sehat.

Kolaborasi ini menghubungkan edukasi di tingkat keluarga dengan layanan keuangan yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Melalui koperasi, keluarga diharapkan tidak hanya memahami pentingnya perencanaan keuangan, tetapi juga memiliki sarana untuk menabung dan mengakses pembiayaan sesuai kebutuhan serta kemampuan membayar.

Pendeta Jemaat di Gereja Kristen Sumba (GKS) Navsari Marumata

Pendeta Jemaat Gereja Kristen Sumba (GKS) Navsari Marumata mengatakan tantangan kesejahteraan masyarakat Sumba bukan semata-mata terletak pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada cara mengelolanya.

“Masyarakat Sumba sebenarnya bukan masyarakat yang miskin. Kita punya tanah, kita mengelola tanah. Tapi karena kita tidak mengelola dengan bijak, tidak mengisi hidup dengan beraktivitas secara baik, serta tidak mengelola uang dengan bijak, akhirnya kita merasa diri miskin dan tidak punya apa-apa,” ujar Sekretaris Komisi Perempuan Sinode GKS itu. 

Fasilitator program GIFT dari WVI itu menekankan literasi keuangan perlu berjalan beriringan dengan kesetaraan gender. Pembagian tanggung jawab yang lebih seimbang dan keterbukaan dalam mengambil keputusan diharapkan memberi kesempatan bagi pasangan untuk mengembangkan ekonomi keluarga.

Melalui GIFT, WVI bersama GKS dan mitra koperasi mendorong keluarga memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara lebih produktif, mengelola pendapatan dengan terencana, dan menyiapkan kebutuhan jangka panjang. Program ini diharapkan memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga, termasuk ketika keluarga menghadapi kondisi sulit seperti musim paceklik.

(Arga Sumantri)