Delegasi ASCOPE di desa energi. Foto: Istimewa
Delegasi ASCOPE Lirik Program DEB karena Gabungkan Energi Bersih dan Ketahanan Pangan
M Sholahadhin Azhar • 31 October 2026 23:38
Jakarta: Program Desa Energi Berdikari (DEB) berbasis urban farming mencuri perhatian delegasi ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE). Program yang dikembangkan PT Pertamina (Persero) dengan model pemberdayaan masyarakat berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) ini dinilai unik dan berpotensi diadopsi National Oil Company (NOC) negara-negara tetangga.
"Dari testimoni para delegasi, mereka menyampaikan belum pernah melihat model pengelolaan community involvement development seperti ini sebelumnya. Bahkan, delegasi dari Timor Leste secara khusus menanyakan estimasi biaya hingga potensi pendapatan petani untuk dipelajari," kata Corporate Secretary PT Pertamina, Arya Dwi Paramita, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Ketertarikan tersebut mengemuka saat para delegasi meninjau langsung kawasan DEB Uma Palak Lestari di Denpasar Utara, Bali. Konsep penggabungan transisi energi bersih dan ketahanan pangan dinilai memberikan dampak langsung bagi masyarakat lokal.
Keunggulan utama model DEB Pertamina terletak pada nilai multiplier effect yang tinggi. Kelompok Usaha Bersama (KUB) petani lokal mampu menghasilkan pendapatan hingga lebih dari USD32.500 per tahun.
Program yang mengoptimalkan lahan seluas 10 hektare ini dikelola 35 anggota kelompok tani dan memberi dampak ekonomi langsung kepada lebih dari 400 warga sekitar. Tingginya pendapatan petani didorong oleh pemilihan komoditas premium, yakni beras jenis Mentik Susu. Beras ini memiliki nilai jual tinggi di pasar berskala high-end karena memiliki indeks glikemik rendah serta kandungan serat yang tinggi.
Perubahan signifikan ini dirasakan langsung penggerak di tingkat tapak. Ketua Subak Sembung I Made Darayasa dan Ketua Komunitas Umepala Lestari Wayan Sukadana mengungkapkan bahwa kehadiran Pertamina menjadi solusi atas kendala klasik petani. Seperti, kelangkaan air dan mahalnya biaya operasional.
Melalui Sistem Suplai Energi Manajemen Irigasi Uma Palak (SIUMA), yang memadukan kincir air (mikrohidro) dan panel surya, petani di wilayah hilir kini tidak lagi kesulitan air saat musim kemarau. Aliran sungai ditarik untuk mengairi sawah, sekaligus menyuplai penerangan jalan usaha tani seluas 10,26 hektar tersebut.
"Sebelum ada Siuma, kami sering berebut air saat musim kemarau. Sekarang, air (sungai) yang terbuang (mengalir) bisa dinaikkan kembali untuk mengairi sawah," ungkap Wayan Sukadana.

Delegasi ASCOPE di desa energi. Foto: Istimewa
Pertamina telah mengoperasikan 310 titik Desa Energi Berdikari di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62 desa telah dinyatakan mandiri penuh melalui skema exit strategy dengan masa pendampingan sekitar 3 hingga 5 tahun.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menekankan ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan saat ini. Tetapi, memastikan keberlanjutan energi untuk generasi mendatang.
“Di sektor energi, ketahanan berarti memastikan bahwa sistem yang kita andalkan saat ini mampu terus memenuhi kebutuhan masyarakat, mendukung perekonomian, dan melayani generasi mendatang,” ujar Simon.
Simon menambahkan, keberadaan DEB yang diinisiatif Pertamina, mendukung penciptaan nilai ekonomi sekaligus mendorong kemandirian masyarakat di desa.