Asyiroh (kiri) bersama anaknya, Aulia (kanan). Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.
Kisah Aulia, Penyandang Down Syndrome yang Mandiri jadi Barista
Fachri Audhia Hafiez • 1 November 2026 17:56
Jakarta: Di tengah bayang-bayang stigma negatif masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK), Aulia, 21, berdiri tegak membuktikan sebaliknya. Terlahir dengan down syndrome (DS), Aulia tak sekadar tumbuh, tetapi mekar menjadi pribadi mandiri yang kini lihai meracik kopi sebagai seorang barista.
“Suka ditanya, namanya siapa. Pesan ini ya, nanti dicatat (pesanan), begitu. Kalau di barisannya suka disuruh mencatat, pesan-pesan ini ya, begitu. Nanti ditanya satu-satu, ibu-ibu ini itu pesan apa, begitu. Nanti mereka yang mencatat,” kata ibu Aulia, Asyiroh, 58, kepada Metrotvnews.com di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Minggu, 1 November 2026.
Bagi Asyiroh, kesibukan di balik meja barista bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang interaktif yang mengasah motorik dan kemampuan sosialisasi putrinya. Aktivitas ini melengkapi rangkaian terapi tumbuh kembang yang tekun dijalani Aulia, mulai dari keterampilan akademik dasar hingga seni ekspresif.
“Kalau saya terapinya kan banyak. Dia ikut calistung (membaca, menulis, berhitung), dia kan bisa sudah bisa baca. Baik, menari, membatik, barista. Itu kan terapi juga biar bisa apa ya, sosialisasi sama teman-teman,” ujar Asyiroh.
Kepiawaian Aulia tak berhenti di mesin kopi. Setiap pekan, setidaknya dua hari selama tiga jam sehari, ia melakoni peran sebagai staf packing di sebuah pabrik kosmetik di Tangerang, Banten. Peluang berharga ini datang melalui fasilitasi Perhimpunan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS).
“Dari POTADS sudah pilih. Pokoknya yang Tangerang nih ada lowongan kan (untuk) anak-anak DS katanya ingin mereka itu di kantornya ingin coba (mempekerjakan) anak-anak (berkebutuhan) khusus gini. Jadi ditawari lah orang tua yang khusus rumahnya Tangerang,” jelas Asyiroh.

Anak dengan down syndrome yang menjadi barista. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.
Potret kemandirian Aulia menjadi bukti nyata dari perjuangan panjang POTADS. Sejak berdiri pada 2003, wadah ini konsisten membersamai ribuan keluarga di seluruh Indonesia agar tidak menyerah dalam menempa potensi terbaik buah hati mereka.
“Kami meng-encourage orang tua supaya tidak putus asa, supaya mereka bersemangat untuk mengembangkan anaknya untuk mencapai titik-titik terbaiknya. Dan kami juga mengadakan berbagai kegiatan juga untuk anak-anak difasilitasi ya, untuk minat bakat mereka,” tutur Ketua Umum POTADS, Eliza Octavianti Rogi.
Tak hanya merangkul bakat, POTADS juga menjalin kerja sama erat dengan penyedia layanan kesehatan serta tenaga ahli. Hal ini demi memperluas jangkauan intervensi medis bagi anak-anak down syndrome.
“Kami berusaha untuk bekerja sama dengan berbagai klinik terapi, kita pernah lakukan dengan salah satu klinik, mereka memberikan terapi gratis lewat POTADS. Atau kami mengundang terapis untuk mereka bikin workshop di kantor kami, diikuti oleh anggota dengan harapan orang tua bisa praktik di rumah,” ujar Eliza.
(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)