Dinkes Sumsel Temukan 523 Kasus Suspek Flu Singapura Sepanjang 2026

Ilustrasi: Freepik

Dinkes Sumsel Temukan 523 Kasus Suspek Flu Singapura Sepanjang 2026

Whisnu Mardiansyah • 23 June 2026 15:30

Palembang: Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) menemukan sebanyak 523 kasus suspek Flu Singapura atau Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) pada Januari hingga Juni 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa mengatakan jumlah tersebut merupakan akumulasi kasus suspek yang tercatat sejak Minggu ke-1 hingga Minggu ke-23 tahun 2026.

Kota Palembang mencatat kasus terbanyak dengan 102 kasus. Disusul Kabupaten PALI 75 kasus, Muba 61 kasus, Prabumulih 58 kasus, Lahat dan Muara Enim masing-masing 54 kasus, Lubuk Linggau 49 kasus, OKU 19 kasus, dan Musi Rawas 17 kasus.

Kemudian Kota Pagar Alam sembilan kasus, Banyuasin delapan kasus, OKU Selatan tujuh kasus, serta Empat Lawang, OKU Timur, dan Muratara masing-masing tiga kasus. Kabupaten OKI menjadi wilayah dengan temuan paling sedikit yakni satu kasus suspek.

"HFMD merupakan infeksi virus menular yang bersifat musiman. Kasus di Sumsel biasanya meningkat pada masa pancaroba maupun saat puncak musim kemarau," kata Ira Primadesa di Palembang, seperti dilansir Antara, Selasa, 23 Juni 2026.

 



Ia menjelaskan peningkatan kasus pada masa peralihan musim terjadi karena kondisi lingkungan yang mendukung penyebaran virus. Sementara pada musim kemarau, anak-anak lebih banyak beraktivitas di ruang tertutup berpendingin udara atau area bermain dalam ruangan yang berpotensi meningkatkan risiko penularan.

Flu Singapura bukan berasal dari Singapura dan bukan termasuk penyakit influenza. Penyakit tersebut disebabkan oleh Virus Coxsackie A16 dan Enterovirus 71 yang umumnya menyerang anak-anak.

Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan Sumsel rentan terhadap penularan HFMD, antara lain iklim tropis yang panas dan lembap, tingginya interaksi anak usia sekolah, penggunaan fasilitas umum bersama seperti tempat bermain dan tempat les, serta kebiasaan anak usia dini yang belum mandiri dalam menjaga kebersihan diri.

Seseorang dikategorikan sebagai suspek HFMD apabila mengalami demam akut lebih dari 38,5 derajat Celsius atau memiliki riwayat demam kurang dari lima hari yang disertai ruam berupa bintil atau lenting kemerahan pada telapak tangan, telapak kaki, bokong, lutut, atau siku, dengan atau tanpa sariawan di rongga mulut.



Ilustrasi virus. Foto: Medcom.id


Gejala penyakit tersebut umumnya berkembang dalam tiga fase. Pada fase awal, anak mengalami demam ringan, penurunan nafsu makan, rewel, dan nyeri tenggorokan. Selanjutnya muncul sariawan pada lidah, gusi, atau bagian dalam pipi yang dapat mengganggu asupan makan dan minum.

"Memasuki hari ketiga hingga kelima, timbul ruam berupa bintik merah yang berkembang menjadi bintil berisi cairan pada telapak tangan, telapak kaki, bokong, maupun lutut," jelasnya.

Dinkes Sumsel mengimbau orang tua segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala berat, seperti lemas hebat, kejang, sesak napas, atau tangan dan kaki terasa dingin karena dapat mengarah pada komplikasi serius berupa ensefalitis atau radang otak.

Untuk mencegah penularan, masyarakat diimbau membiasakan cuci tangan pakai sabun, menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan anak, menerapkan etika batuk dan bersin, serta memastikan anak mendapatkan asupan gizi seimbang dan istirahat yang cukup.

Dinkes Sumsel juga terus melakukan pemantauan dan edukasi kepada masyarakat guna menekan potensi penyebaran HFMD, khususnya pada kelompok anak usia dini yang menjadi kelompok paling rentan terinfeksi penyakit tersebut.

Catatan untuk tim redaksi: Naskah telah melalui proses parafrase dan penyesuaian kaidah jurnalistik. Keterangan waktu hanya dicantumkan pada kutipan langsung pertama sesuai permintaan. Tidak ada narasi tambahan dari sumber lain. Fakta dan data tetap dipertahankan sesuai sumber asli. Mohon konfirmasi jika diperlukan penyesuaian lebih lanjut.

(Whisnu M)