Abelardo De La Espriella memenangkan Pilpres Kolombia 2026. (Mauricio Duenas Castaneda/EPA)
Tokoh Sayap Kanan Abelardo De La Espriella Menang Pemilu Presiden Kolombia
Willy Haryono • 22 June 2026 15:37
Bogota: Pengacara konservatif Abelardo De La Espriella meraih kemenangan tipis dalam pemilihan presiden Kolombia setelah unggul atas kandidat sayap kiri Ivan Cepeda dalam putaran kedua pemungutan suara.
Berdasarkan hasil penghitungan awal yang dirilis otoritas pemilu hingga 99,9 persen suara masuk pada Senin, 22 Juni 2026, De La Espriella memperoleh 49,7 persen suara, sementara Cepeda meraih 48,7 persen.
Kemenangan tersebut menandai kembalinya kubu kanan ke kursi kepresidenan Kolombia setelah empat tahun pemerintahan Presiden Gustavo Petro, presiden sayap kiri pertama dalam sejarah negara itu.
Dalam pidato di hadapan para pendukungnya di Kota Barranquilla, De La Espriella berjanji akan memimpin untuk seluruh rakyat Kolombia. “Saya akan memerintah untuk seluruh warga Kolombia,” ucapnya, seperti dikutip dari Al Jazeera.
De La Espriella juga mengungkapkan telah menerima ucapan selamat melalui sambungan telepon dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Kritik terhadap Pemerintahan Petro
Selama kampanye, De La Espriella kerap mengkritik pemerintahan Presiden Gustavo Petro yang dinilainya gagal mengatasi persoalan ekonomi dan keamanan.Ia berjanji akan menghentikan perundingan damai dengan kelompok pemberontak bersenjata, meningkatkan produksi minyak dan gas, serta menurunkan pajak guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, rivalnya, Ivan Cepeda, berkomitmen melanjutkan kebijakan Petro, termasuk program-program sosial dan dialog damai dengan kelompok bersenjata.
Meski kalah tipis, Cepeda belum mengakui hasil akhir dan meminta pemeriksaan ulang terhadap hasil penghitungan suara di sekitar 33.000 tempat pemungutan suara dari total 122.000 lokasi.
“Kami terbuka untuk dialog dan bersedia mencapai kesepakatan selama dilakukan secara hormat dan sungguh-sungguh demi kepentingan bangsa,” ujar Cepeda kepada para pendukungnya di Bogota.
Tantangan Berat Menanti
Kemenangan De La Espriella juga menandai kebangkitan kembali kekuatan politik kanan yang mendominasi Kolombia selama sebagian besar dari dua abad terakhir.Namun, tipisnya selisih kemenangan diperkirakan akan memaksanya membangun kompromi politik untuk memperoleh dukungan dari Kongres yang terfragmentasi.
De La Espriella, yang belum pernah menduduki jabatan politik sebelumnya, juga akan menghadapi tantangan berupa tingginya utang publik dan perlambatan ekonomi.
Selain itu, laporan media lokal menyebut sejumlah bisnis yang pernah dimilikinya mengalami kerugian atau telah dibubarkan, meski ia selama kampanye kerap menampilkan diri sebagai seorang pebisnis sukses.
Keamanan menjadi salah satu isu utama dalam pemilu kali ini.
Banyak pemilih De La Espriella menyuarakan kekhawatiran terhadap meningkatnya pemerasan, perdagangan narkotika, dan aktivitas kelompok bersenjata di sejumlah wilayah.
Selama lebih dari 60 tahun, Kolombia menghadapi konflik yang melibatkan kelompok gerilya kiri, kartel narkoba, kelompok kriminal, dan pasukan pemerintah.
Dalam kampanyenya, De La Espriella menyatakan akan mengakhiri pembicaraan damai dengan kelompok-kelompok pembangkang serta meluncurkan operasi militer selama 90 hari dengan dukungan Amerika Serikat.
Pemilu Kolombia juga dianggap sebagai bagian dari tren pergeseran politik ke kanan yang dalam beberapa tahun terakhir terjadi di sejumlah negara Amerika Latin, termasuk Argentina, Ekuador, Kosta Rika, Bolivia, dan Chile.
Dengan lebih dari 26,3 juta pemilih menggunakan hak suaranya dari total 41,4 juta pemilih terdaftar, hasil pemilu kali ini menjadi salah satu yang paling ketat dalam sejarah politik Kolombia modern.
Baca juga: Capres Konservatif Kolombia De La Espriella Raih Dukungan Penuh Trump