Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
Konflik AS-Iran Masih 'Bungkam' IHSG
Ade Hapsari Lestarini • 2 March 2026 17:12
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sore ini terjerembab di zona merah. IHSG kembali lagi ke level di bawah 9.000.
Berdasarkan data RTI, Senin, 2 Maret 2026, IHSG sore ambruk 218,652 poin atau setara 2,65 persen ke posisi 8.016. IHSG sebelumnya sempat dibuka ke level 8.092. Sementara itu, IHSG juga berada di level terendah 8.016 dan tertinggi di posisi 8.133.
Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 56,605 miliar senilai Rp29,836 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp14,370 triliun dengan frekuensi sebanyak 3.652.154 kali.
Sore ini, tercatat sebanyak 108 saham bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 671 saham melemah, dan 41 saham lainnya stagnan.

Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto
Faktor serangan AS dan Israel ke Iran
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, memicu perang terbuka dan membuat investor global cenderung menghindari aset-aset yang berisiko.
Menurut dia, kenaikan harga minyak mentah juga memicu kekhawatiran terhadap potensi meningkatnya inflasi yang apabila berlangsung lama dapat mendorong potensi kenaikan suku bunga di tingkat global.
"Namun, mayoritas saham-saham terkait energi dan tambang emas membukukan penguatan, sehingga menahan pelemahan IHSG lebih lanjut," ujar Ratna, dalam kajiannya, dilansir Antara, Senin, 2 Maret 2026.
Sementara dari data ekonomi dalam negeri, data inflasi Indonesia meningkat menjadi 0,68 persen month to mont (mtm) pada Februari 2026, dari sebelumnya deflasi 0,15 persen (mtm) pada Januari 2026.
Kenaikan inflasi terutama dikontribusikan oleh kenaikan Kelompok Pengeluaran Makanan, Minuman dan Tembakau, yang menjadi komoditas penyebab utama andil inflasi di setiap momen Ramadan.
Adapun, inflasi tahunan berakselerasi menjadi 4,76 persen year on year (yoy) pada Februari 2026 dari sebelumnya 3,55 persen (yoy) pada Januari 2026, serta merupakan level tertinggi sejak Maret 2023. Kenaikan itu disebabkan oleh adanya diskon tarif listrik pada awal 2025 dan telah menekan harga tahun lalu.
Sementara itu, surplus neraca perdagangan turun menjadi USD0,95 miliar pada Januari 2026 dari sebelumnya USD3,49 miliar pada Januari 2025, akibat kenaikan impor sebesar 18,21 persen (yoy) dan ekspor hanya tumbuh 3,39 persen (yoy).
Selanjutnya, data Manufacturing PMI Indonesia masih tumbuh di level 53,8 pada Februari 2026, dari sebelumnya di level 52,6 pada Januari 2026, terutama karena kenaikan permintaan domestik.