Setelah 25 Tahun Berlalu, Tragedi 9/11 Masih Membayangi Warga AS

Lokasi bekas gedung WTC yang hancur dalam seragan 9/11. Foto: Metrotvnews.com

Setelah 25 Tahun Berlalu, Tragedi 9/11 Masih Membayangi Warga AS

Muhammad Reyhansyah • 11 September 2026 16:04

New York: Setelah 25 tahun serangan teror 11 September 2001, tragedi 9/11 masih menjadi salah satu peristiwa paling membekas dalam ingatan masyarakat Amerika Serikat (AS).

Jajak pendapat terbaru Ipsos menunjukkan sekitar separuh warga dewasa AS secara spontan menyebut 9/11 sebagai salah satu peristiwa paling signifikan dalam hidup mereka. Angka tersebut bahkan melampaui pandemi Covid-19, terpilihnya Barack Obama dan Donald Trump sebagai presiden, serta Badai Katrina pada 2005.

Sekitar sembilan dari 10 warga AS mengatakan serangan 9/11 mengubah negara mereka “sangat banyak” atau “cukup banyak”. Sebagian besar warga juga masih dapat mengingat dengan tepat lokasi mereka ketika pertama kali mendengar kabar serangan tersebut.


Lokasi bekas gedung WTC yang hancur dalam seragan 9/11. Foto: Metrotvnews.com

Meski luka akibat tragedi itu masih membekas, hanya sekitar satu dari 10 warga AS yang berencana secara aktif memperingati 25 tahun serangan tersebut. Bagi mereka yang memperingatinya, mengheningkan cipta dan mengibarkan bendera menjadi bentuk penghormatan yang paling umum.

Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah AS mencegah serangan serupa juga terus menurun sejak mencapai titik tertinggi pada hari-hari setelah tragedi 2001.

Peringatan 25 Tahun 9/11

Melansir EuroNews, Jumat, 11 September 2026, peringatan 25 tahun 9/11 akan digelar di tiga lokasi utama yang menjadi sasaran atau terkait dengan serangan tersebut.

Di New York, keluarga korban akan berkumpul di area Memorial 9/11 untuk membacakan nama-nama korban. Prosesi akan diselingi tujuh kali mengheningkan cipta, satu kali lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya untuk menghormati orang-orang yang meninggal akibat penyakit terkait 9/11.

Upacara juga digelar di Pentagon, Arlington, serta Flight 93 National Memorial di Shanksville, Pennsylvania.


Bunga di atas monumen yang berisi daftar nama korban serangan 9/11. Foto: Metrotvnews.com

Presiden AS Donald Trump tidak akan menghadiri upacara di New York dan memilih menghadiri serta menyampaikan pidato di Pentagon.

Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan menghadiri peringatan di Ground Zero, lokasi pencarian korban selamat pertama kali dilakukan. Sejumlah mantan presiden AS, yakni Joe Biden, Barack Obama, Bill Clinton, dan George W. Bush, juga diperkirakan menghadiri acara di New York.

Mengapa Disebut 9/11?

Istilah 9/11 berasal dari cara penulisan tanggal di AS yang menempatkan bulan sebelum tanggal. Serangan terjadi pada 11 September, yang dalam format penulisan AS menjadi 9/11.

Istilah tersebut juga menyerupai nomor darurat 911 yang digunakan di AS.

Hampir 3.000 Orang Tewas

Hampir 3.000 warga AS tewas dalam serangan 9/11. Ratusan warga negara asing dari sekitar 60 negara juga menjadi korban.

Inggris mencatat jumlah korban warga negara asing terbesar setelah AS, dengan 67 warganya tewas. Warga Jerman, Italia, Irlandia, dan sejumlah negara Eropa lainnya juga termasuk korban, banyak di antaranya merupakan pekerja sektor keuangan yang bekerja atau sedang berada di World Trade Center.


Museum 9/11 dibangun di atas lokasi bekas gedung WTC. Foto: Metrotvnews.com

Perusahaan jasa keuangan AS Cantor Fitzgerald menempati lantai 101 hingga 105 Menara Utara World Trade Center, tepat di atas lokasi pesawat American Airlines Penerbangan 11 menabrak gedung.

Sebanyak 658 karyawan perusahaan tersebut tewas dalam serangan, menjadikannya perusahaan dengan jumlah korban jiwa terbesar akibat tragedi tersebut.

Nasib Para Pelaku

Ke-19 pembajak pesawat tewas saat melancarkan serangan. Sebanyak 15 di antaranya merupakan warga negara Arab Saudi, dua berasal dari Uni Emirat Arab, sementara masing-masing satu berasal dari Mesir dan Lebanon.

Jaringan teroris al-Qaeda berada di balik serangan tersebut dan mengklaim bertanggung jawab. Pemimpinnya saat itu, Osama bin Laden, berhasil menghindari penangkapan selama hampir satu dekade sebelum tewas dalam operasi pasukan khusus AS di Pakistan pada 2011.

Penggantinya, Ayman al-Zawahiri, tewas dalam serangan pesawat nirawak AS di Kabul pada 2022.

Sementara itu, Khalid Sheikh Mohammed yang menyebut dirinya sebagai “dalang” serangan ditangkap di Pakistan pada 2003 dan ditahan di Guantanamo sejak 2006. Dia didakwa atas pembunuhan tingkat pertama terhadap 2.977 orang.

Seorang hakim militer AS telah menetapkan persidangannya dimulai pada Juni 2028 bersama sejumlah terdakwa lain. Persidangan tersebut sebelumnya tertunda selama bertahun-tahun, termasuk akibat perselisihan mengenai bukti yang diperoleh melalui penyiksaan, termasuk metode waterboarding di fasilitas rahasia CIA.

(Fajar Nugraha)