Pemanfaatan AI Agent  Mulai Masuk ke Dunia Kerja

Ilustrasi pemanfaatan AI Agent. Istimewa

Pemanfaatan AI Agent Mulai Masuk ke Dunia Kerja

Whisnu Mardiansyah • 10 September 2026 05:44

Jakarta: Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/) mulai mengubah cara teknologi dimanfaatkan di tempat kerja. Jika sebelumnya AI lebih banyak digunakan untuk mencari informasi, membuat tulisan, atau menghasilkan ide, kini pemanfaatannya berkembang menuju teknologi yang dapat membantu menjalankan rangkaian pekerjaan secara lebih terstruktur.

Perubahan tersebut terlihat melalui penggunaan AI Agent, teknologi yang dirancang untuk menjalankan tugas berdasarkan peran, instruksi, akses terhadap sejumlah tools, serta alur kerja tertentu. Konsep ini memungkinkan AI tidak hanya memberikan respons atas perintah pengguna, tetapi juga membantu menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan sejumlah tahapan manual.

KomuniTech melihat perkembangan tersebut sebagai fase lanjutan pemanfaatan AI di Indonesia. Founder dan CEO KomuniTech Robbie Jeo mengatakan, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membuat masyarakat mengenal AI, melainkan mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam pekerjaan sehari-hari.

“Indonesia tidak kekurangan orang yang sudah pernah mencoba AI. Tantangan berikutnya adalah bagaimana AI benar-benar masuk ke dalam workflow dan membantu pekerjaan sehari-hari,” ucap Robbie Jeo, September 2026.

Dalam penerapannya, AI Agent dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan di dunia kerja, mulai dari layanan pelanggan, melakukan follow-up, pembuatan konten, riset, pekerjaan administratif, hingga tugas lain yang memiliki alur kerja terstruktur.
 


KomuniTech menggunakan istilah “Karyawan AI” untuk menggambarkan AI Agent yang memiliki peran, instruksi, akses terhadap perangkat atau aplikasi tertentu, serta alur kerja yang telah ditentukan. Dengan pendekatan tersebut, AI ditempatkan sebagai pendamping yang dapat membantu pekerja menyelesaikan tugas, bukan sekadar perangkat untuk memperoleh informasi.

Pemanfaatan ini juga membuka peluang bagi perusahaan untuk mengotomatisasi pekerjaan yang bersifat berulang. Pekerja dapat mengarahkan AI Agent untuk menangani tahapan tertentu dalam sebuah proses, sementara manusia tetap berperan dalam pengambilan keputusan, pengawasan, dan pekerjaan yang membutuhkan pertimbangan.

“Target kami bukan agar peserta pulang hanya dengan tahu lebih banyak soal AI. Kami ingin mereka pulang membawa sesuatu yang sudah mereka bangun sendiri, satu AI Agent yang benar-benar mulai bekerja untuk mereka,” kata Robbie.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari program edukasi KomuniTech yang telah menggelar 10 angkatan lokakarya AI Agent. Setiap angkatan disebut terisi penuh dengan rata-rata lebih dari 80 peserta per sesi. Berdasarkan data pendaftaran internal per September 2026, jumlah peserta yang mengikuti program tersebut telah melampaui 800 orang.

Materi lokakarya tidak hanya membahas cara memberikan prompt kepada AI. Peserta diarahkan memahami konsep AI Agent, menentukan pekerjaan yang dapat diotomatisasi, menyusun instruksi dan workflow, menghubungkan berbagai tools, hingga membangun AI Agent pertama.

KomuniTech menyebut pendekatan tersebut dapat diikuti peserta tanpa latar belakang teknis atau kemampuan coding. Hal ini ditujukan untuk memperluas pemanfaatan otomatisasi AI kepada pekerja dan pelaku usaha yang sebelumnya menganggap teknologi tersebut terlalu rumit.

“Ke depan, kemampuan sekadar menggunakan AI tidak lagi cukup. Sama seperti internet dan smartphone dulu, AI akan jadi bagian dari cara kita bekerja. Bedanya, sekarang teknologi ini mulai bisa menjalankan pekerjaan, bukan cuma memberikan informasi,” tambah Robbie.

Pemanfaatan AI Agent dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan konten atau menjawab pertanyaan. Teknologi ini mulai diarahkan untuk mengambil bagian dalam proses kerja dengan menjalankan tugas berdasarkan instruksi dan sistem yang telah disiapkan.

Perubahan tersebut juga menempatkan pekerja pada kebutuhan baru. Kemampuan menggunakan AI perlu berkembang dari sekadar mengetahui cara memberikan perintah menjadi kemampuan mengidentifikasi pekerjaan yang dapat dibantu teknologi, menyusun alur kerja, serta memastikan hasil yang diberikan AI tetap berada dalam pengawasan manusia.

KomuniTech menargetkan dapat membantu satu juta masyarakat Indonesia menguasai AI Agent. Setelah menyelesaikan 10 angkatan lokakarya, perusahaan tersebut berencana memperluas edukasi, komunitas, contoh penerapan, serta ekosistem pembelajaran terkait pemanfaatan teknologi tersebut.

Dengan perkembangan tersebut, AI Agent berpotensi menjadi salah satu teknologi yang mengubah pola kerja di berbagai sektor. Perannya bukan menggantikan seluruh pekerjaan manusia, melainkan mengambil bagian dari tugas tertentu agar pekerja dapat memusatkan perhatian pada pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, pertimbangan, dan pengambilan keputusan.

(Whisnu M)