Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro (kedua dari kiri). Foto: Dok istimewa
Kondisi Perbankan Indonesia Disebut Masih Solid
Eko Nordiansyah • 12 May 2026 11:33
Jakarta: Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan kondisi perbankan di Indonesia masih sangat solid.
"Memang secara relatif dan secara umum ya perbankan di Indonesia itu tidak ada masalah yang signifikan. Jadi kondisi perbankan di Indonesia masih sangat solid," ujar dia dalam dalam Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook secara virtual di Jakarta, dilansir dari Antara, Selasa, 12 Mei 2026.
Menurut dia, perbankan sangat menjaga dan menerapkan prinsip kehati-hatian yang sangat tinggi dalam menjaga kualitas aset.
"Kendati peningkatan tren non-performing loan (NPL) pada segmen menengah ke bawah sulit dihindari akibat kondisi global, sistem manajemen risiko perbankan saat ini disebut jauh lebih baik dibandingkan periode krisis sebelumnya," ujar dia.
Perbankan dinilai tetap mampu mengantisipasi gejolak yang ada dengan cadangan yang memadai. Kondisi ini didukung kebijakan pemerintah yang berhasil menjaga daya beli melalui stabilisasi harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan memanfaatkan windfall dari fiskal.

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Dukung program prioritas nasional
Sektor perbankan juga disebut menjadi pilar utama dalam mendukung program prioritas pembangunan nasional. Pertumbuhan kredit tetap solid di high single digit hingga low double digit.“Saya rasa ini adalah level-level yang memang relatif balance ya antara memanfaatkan cycle dari perekonomian dan di saat yang bersamaan juga memitigasi dari risiko ke kualitas aset ke depannya,” ungkap Andry.
Kesolidan perbankan Indonesia juga dibuktikan dari kondisi likuiditas perbankan yang berada pada level yang sangat memadai, misalnya pertumbuhan likuiditas mampu mencapai 21,2 persen dengan kualitas aset yang terjaga di level 1 persen.
“Jadi ini sebenarnya suatu trust yang tetap dijaga oleh sektor perbankan di Indonesia,” ucap dia.
Menghadapi tantangan ke depan, perbankan dikatakan bukan hanya mengandalkan dari bunga (interest rate return), tetapi mulai bergeser ke pendapatan berbasis komisi (fee-based income).
Menurut dia, dengan kemajuan infrastruktur digital kini semakin bisa diandalkan untuk meraih pendapatan lebih besar dari basis transaksi digital.