Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Foto: The New York Times
Tiongkok di pusaran Konflik AS-Iran: Diplomasi Perdamaian atau Kepentingan Strategis?
Harianty • 13 May 2026 14:23
Jakarta: Konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang telah berlangsung lebih dari satu bulan bukan hanya mengguncang stabilitas Timur Tengah, tetapi juga membuka babak baru dalam persaingan pengaruh global.
Di tengah eskalasi perang, ancaman penutupan Selat Hormuz, serta melonjaknya harga minyak dunia, Tiongkok tampil dengan pendekatan yang berbeda dibanding AS.
Beijing memilih jalur diplomasi, bantuan kemanusiaan, dan mediasi politik. Pertanyaannya, apakah langkah Tiongkok murni demi perdamaian, atau bagian dari strategi besar menjaga kepentingan nasionalnya?
Sejak konflik pecah pada 28 Februari, Tiongkok bergerak cepat. Menteri Luar Negeri Wang Yi aktif melakukan komunikasi dengan sejumlah negara penting di Timur Tengah dan Eropa. Utusan khusus Tiongkok untuk Timur Tengah juga melakukan kunjungan diplomatik ke negara-negara Teluk.
Selain itu, Beijing mengumumkan bantuan kemanusiaan bagi Iran serta negara-negara yang terdampak konflik seperti Yordania, Lebanon, dan Irak. Langkah-langkah ini memperlihatkan bahwa Tiongkok ingin tampil sebagai kekuatan penyeimbang di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Di satu sisi, pendekatan Tiongkok memang layak diapresiasi. Ketika AS memilih tekanan militer dan sanksi, Tiongkok mengedepankan dialog dan stabilitas regional. Sikap ini memperkuat citra Beijing sebagai negara besar yang mencoba menghindari konfrontasi terbuka serta mendorong penyelesaian politik. Diplomasi semacam ini memberi alternatif bagi negara-negara berkembang yang lelah dengan politik intervensi dan penggunaan kekuatan militer.
Namun di sisi lain, sulit dipungkiri bahwa langkah Tiongkok juga didorong oleh kepentingan strategis yang sangat besar. Tiongkok merupakan salah satu pengimpor minyak terbesar di dunia dan sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.
Penutupan Selat Hormuz atau gangguan berkepanjangan terhadap jalur distribusi energi jelas menjadi ancaman serius bagi ekonomi domestiknya. Karena itu, menjaga stabilitas kawasan bukan hanya soal moralitas internasional, tetapi juga soal melindungi kepentingan ekonomi dan keamanan nasional Tiongkok sendiri.
Selain faktor energi, konflik ini juga menjadi kesempatan bagi Tiongkok untuk memperkuat posisinya di panggung global. Di saat citra AS di Timur Tengah terus dipandang identik dengan perang, sanksi, dan tekanan militer, Tiongkok mencoba membangun narasi sebagai negara yang membawa pembangunan, investasi, dan perdamaian. Strategi ini sejalan dengan upaya Beijing memperluas pengaruh geopolitik melalui diplomasi ekonomi dan kerja sama infrastruktur.
Meski demikian, Tiongkok tetap menghadapi tantangan besar. Sikap netral yang terlalu berhati-hati bisa dianggap ambigu oleh sebagian pihak. Beijing harus menjaga hubungan baik dengan Iran tanpa merusak relasi ekonominya dengan negara-negara Teluk maupun Barat. Di saat yang sama, meningkatnya ketegangan juga mengancam proyek-proyek investasi Tiongkok serta keselamatan warga negaranya di kawasan konflik.
Pada akhirnya, keterlibatan Tiongkok dalam konflik AS-Iran menunjukkan perubahan penting dalam tatanan global. Tiongkok tidak lagi sekadar menjadi kekuatan ekonomi, tetapi mulai memainkan peran diplomatik yang lebih aktif dalam isu keamanan internasional.
Rencana Pertemuan Trump-Xi
Di tengah memanasnya konflik, Presiden AS Donald Trump minggu ini akan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing. Pertemuan ini dipandang sangat penting karena dapat menjadi momentum untuk meredakan ketegangan global yang semakin meluas, tidak hanya terkait perang AS-Iran, tetapi juga persaingan ekonomi dan geopolitik kedua negara besar tersebut.Dunia kini menaruh perhatian besar pada kemungkinan apakah Washington dan Beijing mampu menemukan titik kompromi demi mencegah konflik kawasan berkembang menjadi krisis internasional yang lebih besar.
Jika pertemuan Trump dan Xi Jinping benar-benar terlaksana dan menghasilkan komunikasi yang konstruktif, dampaknya bisa sangat signifikan. Salah satunya, peluang terciptanya tekanan bersama untuk mendorong gencatan senjata AS-Iran akan semakin besar.
Tiongkok memiliki hubungan strategis dengan Iran, sementara AS tetap menjadi aktor militer utama di kawasan. Kesepahaman kedua negara dapat membuka ruang diplomasi yang lebih luas. Pertemuan tersebut juga berpotensi membantu menstabilkan pasar energi global.
Konflik Timur Tengah bisa menjadi titik uji apakah kedua negara memilih kompetisi terbuka atau kerja sama terbatas demi menjaga stabilitas dunia. Jika dialog berjalan positif, hubungan bilateral mungkin memasuki fase yang lebih pragmatis. Namun jika gagal, persaingan geopolitik justru bisa semakin tajam.
Konflik ini memperlihatkan bahwa persaingan kekuatan besar dunia kini tidak hanya berlangsung melalui perang dan senjata, tetapi juga melalui diplomasi, bantuan kemanusiaan, dan perebutan legitimasi moral di mata dunia.