Tempe Berpeluang Jadi Produk Unggulan Indonesia di Pasar Amerika

Tempe. Foto: Pixabay.

Tempe Berpeluang Jadi Produk Unggulan Indonesia di Pasar Amerika

Husen Miftahudin • 31 July 2026 13:59

Jakarta: Kementerian Perdagangan (tem) menyebut tempe berpeluang menjadi salah satu produk pangan unggulan Indonesia di pasar Amerika Serikat (AS), seiring meningkatnya tren konsumsi pangan nabati dan makanan sehat di negara tersebut.
 
Peluang tersebut terlihat dari tingginya minat pembeli (buyer) terhadap tempe dalam ajang Summer Fancy Food Show (SFFS) di New York, Amerika Serikat. Melalui pameran tersebut, produk pangan olahan Indonesia membukukan potensi transaksi sebesar USD8,3 juta atau sekitar Rp150,7 miliar.
 
Atase Perdagangan RI di Washington D.C. Ranitya Kusumadewi mengatakan pihaknya terus mengawal tindak lanjut penjajakan bisnis yang dilakukan selama pameran agar potensi transaksi dapat terealisasi menjadi kontrak ekspor.
 
"Kami terus mengawal berbagai tindak lanjut dari penjajakan bisnis (business matching) yang terjadi selama pameran agar potensi transaksi dapat terealisasi menjadi kontrak ekspor. Selain potensi transaksi, kami melihat minat buyer terhadap tempe sangat tinggi seiring berkembangnya tren pangan nabati di Amerika Serikat," ujar Ranitya seperti dikutip dari Antara, Jumat, 31 Juli 2026.
 
Menurut Ranitya, dari sejumlah pertemuan bisnis yang dilakukan, tempe dinilai sebagai salah satu produk Indonesia dengan prospek terbesar untuk dikembangkan di pasar AS.
 
Kemendag menilai meningkatnya tren konsumsi plant-based food, makanan fermentasi, dan gaya hidup sehat menjadi faktor utama yang mendorong permintaan terhadap tempe. Kondisi tersebut membuka peluang bagi tempe untuk berkembang menjadi produk unggulan (champion product) Indonesia di pasar Amerika Serikat.
 
Namun, Ranitya mengingatkan tingginya minat pasar perlu diimbangi dengan kesiapan pelaku usaha dalam menjaga kapasitas produksi, konsistensi pasokan, standar mutu, serta penguatan kemasan dan strategi pemasaran.
 
"Tingginya minat buyer perlu diimbangi dengan kesiapan pelaku usaha dalam menjaga kapasitas produksi, konsistensi pasokan, pemenuhan standar mutu, serta penguatan kemasan dan strategi pemasaran. Dengan demikian, peluang bisnis yang tercipta dapat berlanjut menjadi ekspor yang berkelanjutan," katanya.
 



(Gedung Kemendag. Foto: dok Metrotvnews.com)
 

Pangan olahan Indonesia dipromosikan di AS

 
Pada ajang Summer Fancy Food Show, Paviliun Indonesia menghadirkan enam pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
 
Produk yang dipamerkan meliputi kopi, kakao dan produk cokelat, makanan ringan, mi instan, tempe, produk berbahan dasar kelapa, bumbu dan rempah, madu, gula aren, serta berbagai produk pangan olahan lainnya.
 
Amerika Serikat merupakan pasar ekspor pangan terbesar kedua bagi Indonesia setelah Tiongkok. Pada 2025, nilai ekspor produk pangan Indonesia ke AS mencapai USD5,97 miliar, meningkat 14,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD5,23 miliar.
 
Nilai tersebut berkontribusi sekitar 10,1 persen terhadap total ekspor pangan Indonesia ke pasar global yang mencapai USD59,04 miliar pada 2025.
 
Dalam lima tahun terakhir, ekspor pangan Indonesia ke AS tercatat sebesar USD5,62 miliar pada 2021, USD6,03 miliar pada 2022, USD4,96 miliar pada 2023, USD5,23 miliar pada 2024, dan USD5,97 miliar pada 2025.
 
Sementara itu, pada periode Januari-Mei 2026, total perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat mencapai USD18,44 miliar. Dari jumlah tersebut, ekspor Indonesia tercatat sebesar USD12,73 miliar, sedangkan impor mencapai USD5,71 miliar, sehingga Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar USD7,02 miliar.

(Husen Miftahudin)