Bertemu Menhan AS, Menteri Sjafrie Umumkan Kemitraan Pertahanan Utama

Pertemuan Menhan Sjafrie Samsoeddin dengan Menteri Perang AS Pete Hegseth di Washington. Foto: Departement of War

Bertemu Menhan AS, Menteri Sjafrie Umumkan Kemitraan Pertahanan Utama

Fajar Nugraha • 14 April 2026 08:58

Washington: Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin melakukan pertemuan dengan Menteri Perang atau Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth di Washington pada Senin 13 April 2026 waktu setempat.

Kedua petinggi pertahanan dari masing-masing negara itu mengumumkan pembentukan Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama (Major Defense Cooperation Partnership/ MDCP) antara kedua negara.

Kemitraan ini akan berfungsi sebagai kerangka kerja untuk memajukan kerja sama pertahanan bilateral antara AS dan Indonesia guna menjaga perdamaian dan stabilitas di seluruh kawasan Indo-Pasifik.

"Kunjungan Anda menunjukkan pentingnya hubungan keamanan kita yang semakin berkembang -,dan hubungan ini aktif dan terus berkembang,- dengan Indonesia, menurut Departemen Perang," kata Menteri Hegseth kepada Menhan Sjafrie, dikutip dari situs Departement of War.

Sebelum dicatat bahwa kedua negara menyelesaikan lebih dari 170 latihan militer bersama setiap tahunnya.

"Kemitraan ini menandakan kekuatan dan potensi hubungan keamanan kita. Memperkuat pencegahan regional, dan memajukan komitmen bersama kita terhadap perdamaian melalui kekuatan," tambah Hegseth.

Sementara Menhan menegaskan sentimen Hegseth mengenai kekuatan hubungan AS-Indonesia.

"Hari ini, kami hadir sebagai delegasi Indonesia dengan antusiasme yang sangat besar untuk terus mengembangkan hubungan pertahanan kita, (yang) harus langgeng bagi generasi penerus kita di Indonesia dan Amerika Serikat," kata Menhan Sjafrie.

"Kami bekerja atas nama saling menghormati dan saling menguntungkan untuk meningkatkan nilai kepentingan nasional kita,” ujar Menhan Sjafrie.

Perjanjian kerja sama baru ini menampilkan tiga "pilar dasar" yang didasarkan pada kedaulatan nasional dan saling menghormati masing-masing negara: organisasi militer dan pembangunan kapasitas; pelatihan dan pendidikan militer profesional; dan latihan serta kerja sama operasional.

Dalam kerangka perjanjian tersebut, kedua negara akan bekerja untuk mengeksplorasi inisiatif mutakhir, "termasuk mengembangkan bersama kemampuan asimetris yang canggih, mempelopori teknologi pertahanan generasi berikutnya di bidang maritim, bawah permukaan, dan sistem otonom, serta bekerja sama dalam dukungan pemeliharaan, perbaikan, dan perombakan untuk meningkatkan kesiapan operasional," menurut pernyataan bersama tentang kemitraan baru tersebut.

Pernyataan tersebut selanjutnya menjelaskan bahwa AS dan Indonesia telah sepakat untuk meningkatkan pelatihan pasukan khusus gabungan, dan bahwa keterlibatan tersebut akan memperkuat ikatan antara militer kedua negara.

Selain itu, Hegseth mencatat bahwa Indonesia telah membantu AS dalam pemulihan jenazah anggota militer yang gugur.

"Saya menghargai dukungan Anda yang berkelanjutan dalam membantu Amerika Serikat menemukan, mengembalikan, dan melindungi jenazah prajurit kita yang bertempur bersama rakyat Indonesia selama Perang Dunia II," kata Hegseth kepada Menhan Sjafrie.

Hegseth menambahkan bahwa penandatanganan nota kesepahaman kemitraan akan memungkinkan Badan Akuntabilitas Tahanan Perang/Orang Hilang Departemen Perang untuk memulihkan jenazah anggota militer tersebut di Indonesia.

Baik Hegseth maupun Menhan Sjafrie menggambarkan kerja sama pertahanan sebagai "garis keberangkatan" — istilah militer untuk memulai misi baru — bagi negara masing-masing.

"Jadi, mari kita sambut babak selanjutnya dan misi baru kita bersama untuk negara-negara kita yang hebat," kata Hegseth kepada Menhan Sjafrie.

Amerika Serikat dan Indonesia telah menjalin hubungan diplomatik formal selama lebih dari 75 tahun, dan membangun ikatan pada tahun 1949, tepat setelah perang kemerdekaan Indonesia dari Belanda.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)