Knetz vs SEAblings: Cuma Nyaring di Medsos?

Gambar AI yang sering digunakan dalam perdebatan antara netizen Korsel dan SEA. (X/@TuanWicak)

Knetz vs SEAblings: Cuma Nyaring di Medsos?

Riza Aslam Khaeron • 19 February 2026 19:56

Jakarta: Bagi mereka yang sering menghabiskan waktu di dunia maya, khusunya pengguna media sosial X, kemungkinan pernah mendengar terkait peristiwa ribuan akun dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam — dan tentu saja Korea Selatan — saling melempar hinaan dan cemoohan antar-pengguna internet.

Tagar-tagar bermunculan, video viral menyebar, bahkan orang-orang yang awalnya tidak tahu apa-apa pun ikut terseret ke pusaran perdebatan. Di satu sisi ada Knetz — sebutan yang sudah lama beredar di komunitas K-pop global untuk merujuk pada netizen Korea (Korean netizens).

Di sisi lain ada SEAblings — sebuah istilah baru yang lahir justru dari konflik ini, gabungan dari SEA (Asia Tenggara) dan siblings (persaudaraan).

“Perang” antara ASEAN dan warga dari negara Asia Timur yang telah berlangsung selama seminggu ini kerap diikuti netizen Ibu Pertiwi dan diberitakan oleh media nasional. Berdasarkan data dari Google Trends, istilah “Knetz” mendapatkan lonjakan pencarian sejak 8 Februari, begitu pula dengan istilah “SEAblings”.

Hal ini menimbulkan banyak kabar terkait dampak dari perang dunia maya tersebut. Beberapa sumber memberitakan industri K-pop kehilangan miliaran akibat “boikot” dari SEA. Adapun kabar bahwa peristiwa ini menimbulkan wacana terkait rasisme sistemik di Korea Selatan.

Namun, apakah kabar tersebut benar? Satu hal yang perlu diingat adalah terkadang suatu peristiwa terasa lebih nyaring di dunia maya daripada aslinya.

Apa Pemantik Perang?

Semua bermula dari konser Day6 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 31 Januari 2026. Saat itu, ribuan penggemar dari berbagai negara hadir — termasuk sejumlah fansite asal Korea yang datang khusus untuk mengabadikan idolanya.

Dalam komunitas K-pop, fansite merupakan akun yang dikelola penggemar untuk mendokumentasikan artis — baik di konser, bandara, maupun acara publik — menggunakan kamera profesional berkualitas tinggi.

Namun, penyelenggara konser Day6 di Malaysia secara eksplisit melarang penggunaan kamera atau perangkat video apa pun di dalam venue. Hal ini memicu keluhan netizen, terutama setelah beberapa fan Malaysia mengunggah keberatan mereka di media sosial pascakonser.

Respons komunitas K-pop pun terbelah. Fan Malaysia berpendapat bahwa fansite seharusnya menghormati aturan tuan rumah. Sebaliknya, fan Korea bereaksi defensif; mereka mempersoalkan etika pengunggahan foto wajah seseorang tanpa izin yang dalam konteks hukum Korea dianggap melanggar privasi individu.

Meski fansite bersangkutan telah meminta maaf, ketegangan tidak mereda. Melansir CNA, netizen Korea Selatan membela fansite tersebut dari kritik netizen Malaysia. Perdebatan ini kemudian merembet ke netizen di kawasan Asia Tenggara lainnya, seperti Filipina, Indonesia, Vietnam, and Thailand.

Perdebatan berubah menjadi saling melempar hinaan bernada rasisme.

“Apakah mereka sangat miskin sehingga mereka hanya bisa menyewa set dan menayangkan acara ini di sawah... Memangnya ini apa? Apakah mereka menanam padi setelah ini,” tulis salah satu netizen Korsel.


Sumber: X

Salah satu unggahan dari debat yang paling viral adalah unggahan dari netizen Korsel yang mengunggah gambar monyet dengan keterangan: “ketika wanita Asia Tenggara sedang marah”.

Boikot Sebabkan Industri Negeri Jiran Rugi Miliaran?

Salah satu dampak perang yang sering diberitakan adalah industri K-pop dan K-drama dikabarkan merugi miliaran akibat boikot oleh fan dari Asia Tenggara. Pasalnya, kawasan ini merupakan salah satu pasar hiburan Korea Selatan terbesar di dunia.

Berdasarkan data tahun 2023 dari Korea Foundation, total anggota klub penggemar Hallyu di kawasan ini diestimasi mencapai 40,44 juta orang, dengan Thailand sebagai penyumbang terbanyak, yakni lebih dari 19 juta penggemar.

Jika penggemar ASEAN memutuskan untuk memboikot, penghasilan industri di Negeri Ginseng tersebut memang bisa terdampak. meskipun jumlah penggemar di Tiongkok melebih jumlah penggemar di SEA.

Namun, sejumlah klaim kerugian muncul dari sumber yang tidak jelas. Sejauh ini, belum ada media independen nasional maupun internasional yang meliput kabar tersebut. Klaim tersebut mayoritas hanya beredar di internet.


Sumber X.

Salah satu unggahan populer berasal dari akun X @A*nk**m pada 18 Februari 2026. Ketika ditanya mengenai sumber berita, pemilik akun hanya menyebutkan “di Tik(Tok)”. Seruan boikot ini pun tidak jelas karena hanya muncul dari beberapa akun secara sporadis. Hingga saat ini, tidak ada organisasi atau petisi resmi, baik daring maupun luring, yang mendorong aksi tersebut.

Seruan boikot paling populer muncul dari akun bot di X, @St*rf**s, yang meraup 961 ribu tayangan sejak 8 Februari 2026. Namun, mayoritas netizen di kolom komentar justru menyatakan ketidaksetujuan mereka.


Sumber: X

“Orang indo boikot orang tlol dinegara sendiri aja gabisa nder, aplagi kpop,” tulis akun @krn**rm*.
 

Debat Online Picu Wacana Rasisme Global?

Dampak lain yang ramai diperbincangkan adalah isu rasisme sistemik di Korea Selatan. Negeri Ginseng tersebut memang beberapa kali menjadi sorotan. pada Mei 2025, Komite HAM PBB menyoroti peningkatan retorika rasis baik secara daring (online) maupun luring (offline).

PBB juga menggarisbawahi eksploitasi pekerja migran, di mana kasus upah yang tidak dibayar menimpa pekerja migran tiga kali lebih sering dibandingkan warga lokal. Namun, klaim bahwa perdebatan ini memicu wacana global mengenai diskriminasi sistemik di Korea Selatan tidaklah berdasar.

Hingga saat ini, belum ada media independen internasional maupun pakar HAM yang mengaitkan isu tersebut dengan perselisihan antara Knetz dan SEAblings. Diskursus ini sepenuhnya masih tertahan di ruang digital.

Lebih Nyaring di Dunia Maya

Ketika berita ini disusun, dampak perdebatan daring antara SEAblings dan Knetz masih terfokus di dunia maya. Klaim-klaim bahwa perselisihan ini berdampak pada kehidupan nyata kebanyakan tidak memiliki sumber yang jelas.

Perdebatan ini sebenarnya bisa menjadi kesempatan bagi kedua pihak untuk membuka dialog, menambah wawasan, serta berbenah dalam menanggapi keluhan netizen. Namun, momentum tersebut justru lebih banyak dijadikan ajang saling ejek atau bahan konten internet dan meme semata.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)