Tren Industri Tas di Indonesia Mengalami Pergeseran Signifikan

Industri tas perjalanan di Indonesia mengalami pergeseran signifikan seiring perubahan gaya hidup masyarakat urban. Dok. Istimewa

Tren Industri Tas di Indonesia Mengalami Pergeseran Signifikan

Achmad Zulfikar Fazli • 20 February 2026 21:58

Jakarta: Industri tas perjalanan di Indonesia mengalami pergeseran signifikan seiring perubahan gaya hidup masyarakat urban. Tas tidak lagi dipandang sekadar sebagai alat membawa barang, tapi menjadi identitas dan kebutuhan mobilitas harian yang semakin kompleks.

Perpaduan antara fungsi, ketahanan, dan estetika menjadi pertimbangan utama konsumen, terutama di kota-kota besar. Perubahan ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya mobilitas lintas aktivitas.

Bekerja, berkreasi, hingga bepergian sering terjadi dalam satu hari yang sama. Situasi tersebut mendorong lahirnya kategori pop-urban, di mana produk dirancang agar adaptif untuk berbagai konteks tanpa kehilangan karakter visual yang konsisten.

Di tengah lanskap tersebut, posisi industri tas perjalanan berkembang menjadi lebih berlapis. Pasar tidak lagi terbagi sederhana antara produk murah dan premium, melainkan diisi segmen menengah yang menawarkan keseimbangan antara kualitas, desain, dan nilai guna. Segmen ini yang menjadi ruang kompetisi baru bagi pelaku industri lokal.

Salah satunya, Taylor Fine Goods sebagai representasi brand lokal yang bergerak di kategori mid–premium. Brand ini berdiri didirikan Edwin Yani Widjaja di Surabaya pada 2012.

“Dalam peta industri travel goods di Indonesia, Taylor Fine Goods berada di posisi mid–premium, di antara produk massa dan brand premium. TFG tidak bermain di segmen tas murah yang fokus ke harga, tapi juga tidak sekadar menjual fungsi dasar,” ujar CEO Taylor Fine Goods, Dwi Hanni Yunianto Purwanto Putro, dalam keterangannya, Jumat, 20 Februari 2026.
 

Baca Juga: 

Produk Lokal Didorong Perluas Pangsa Pasar



Industri tas perjalanan di Indonesia mengalami pergeseran signifikan seiring perubahan gaya hidup masyarakat urban. Dok. Istimewa

Segmentasi pengguna juga menjadi faktor penting dalam membentuk karakter brand. Dwi menjelaskan pengguna utama TFG adalah milenial dan gen Z di usia 20-25 thn, dengan gender unisex.

“Jangkauan area terbesar Jabodetabek dan Surabaya, profil pengguna TFG biasanya orang-orang art creative industry (desain, foto, video dan fashion), pekerja, entrepreneur," ujar dia.

Di sisi industri, Dwi memandang perkembangan tas lokal berada pada fase yang lebih matang. Banyak yang sudah naik level tidak hanya bersaing di harga tapi juga kualitas dan design. 

“Konsumen juga semakin kritis dan teredukasi. Tantangannya ada di konsistensi dan kejelasan identitas brand,” kata dia. 

Tantangan tersebut menuntut pelaku industri menjaga arah tanpa terjebak perubahan tren jangka pendek. Untuk menjawab kebutuhan pengguna urban, struktur produk disusun sebagai solusi menyeluruh. 

"Kategori produk TFG, yaitu Backpack, Tote Bag, Sling Bag, Travel Bag, Hand Bag, Wallet, Pouch dan Camera Strap,” jelas Dwi. 

Ragam ini dirancang untuk mengakomodasi berbagai aktivitas perjalanan dan keseharian dalam satu ekosistem produk. Pendekatan kualitas juga diwujudkan melalui komitmen jangka panjang atau 100 years warranty. Garansi ini mencakup kerusakan akibat cacat produksi non-material seperti jahitan atau resleting dalam penggunaan normal. 

Lebih dari sekadar garansi, konsep ini dimaknai sebagai filosofi untuk mendorong penggunaan yang lebih bertanggung jawab dan mengurangi konsumsi berlebihan. Ke depan, visi yang diusung juga berfokus pada keberlanjutan eksistensi.

"Membangun kepercayaan konsistensi dan relevansi sehingga eksistensi brand tidak bergantung pada tren tapi pada nilai dan kualitas yang bertahan lama,” ujar Dwi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)