Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un bersama Presiden AS Donald Trump. Foto: The New York Times
Trump Isyaratkan Adanya Kontak dengan Kim Jong-Un
18 August 2026 08:43
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa Kim Jong-Un telah menanggapi langkah-langkah pendekatan terbarunya.
Trump mengatakan, hal itu sehari setelah ia mengurangi latihan militer bersama Korea Selatan dan memuji hubungannya dengan pemimpin Korea Utara tersebut.
Trump pada Senin 17 Agustus 2026 mengatakan, ia membuat situasi menjadi "jauh lebih aman" melalui hubungannya dengan Kim, sosok yang pernah ia temui tiga kali selama masa jabatan pertamanya di Gedung Putih, namun belum ia temui lagi selama masa jabatan keduanya.
Sembari memuji pemimpin Korea Utara yang memiliki senjata nuklir itu, ia mengkritik sekutu utamanya, Seoul, karena gagal membantu Washington melawan Iran—sebuah perang yang menurut Trump bertujuan mencegah Teheran mendapatkan bom atom.
Saat ditanya mengapa Kim tidak menanggapi permintaannya untuk berkomunikasi sejak ia kembali menjabat tahun lalu, Trump berkata kepada para wartawan di Ruang Oval: "Bagaimana Anda tahu dia belum menanggapi?"
Ketika didesak mengenai apakah Kim benar-benar telah menanggapi, Trump berkata: "Ya, dia sudah."
Saat ditanya mengenai tahap pembicaraan dengan Kim, Trump mengatakan "sangat positif", namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Trump kemudian kembali menegaskan pujiannya terhadap Kim, dengan mengatakan bahwa hubungan mereka meredakan ketegangan.
"Anda lihat, saya sebenarnya membuat situasi jauh lebih aman. Kim Jong Un selalu memperlakukan saya dengan penuh hormat," kata Trump, seperti dikutip Channel News Asia, Selasa 18 Agustus 2026.
"Saya memahaminya. Dia memahami saya,” ungkap Trump.
Aneh
Trump awalnya melontarkan kritik terhadap Korea Selatan melalui jejaring sosial Truth Social miliknya pada Minggu malam, dengan secara mendadak mengumumkan bahwa ia telah memerintahkan Pentagon untuk mengurangi latihan militer yang dianggapnya "tidak pantas dan bermusuhan" dengan Seoul.Ia juga mengaitkan keputusan tersebut dengan penolakan Korea Selatan untuk membantu dalam perang AS-Israel melawan Iran.
"Tunggu sebentar. Kami memiliki 39.000 tentara di sana, menjaga Anda dari Kim Jong-Un, tetangga sebelah Anda, dan Anda tidak mau membantu kami dalam operasi militer yang sangat mudah di Iran. Itu aneh," kata Trump di Ruang Oval.
Trump sekali lagi mempertanyakan dukungan AS bagi Korea Selatan maupun sekutu NATO yang menolak untuk berkontribusi dalam perang melawan Iran. "Kita tidak bisa terus-menerus melindungi semua negara ini, terutama ketika mereka tidak hadir untuk membantu kita," ujar Trump.
Para pejabat Korea Selatan menyatakan bahwa latihan tersebut telah dimulai sesuai rencana dan mereka berharap hubungan personal yang baik antara Trump dan Kim akan membawa mereka kembali ke meja perundingan.
Korea Utara belum memberikan tanggapan secara terbuka, meskipun sebelumnya mereka telah menyatakan kemarahan terhadap latihan gabungan rutin yang digelar di Korea Selatan.
Senator Demokrat senior yang membidani urusan militer mengecam keras perintah Trump untuk mengurangi skala latihan militer di Korea tersebut, seraya mengatakan bahwa Tiongkok dan Rusia sedang "mengamati betapa mudahnya presiden ini meninggalkan sekutu-sekutu Amerika".
"Ini adalah satu lagi keputusan konyol dan gegabah dari Presiden Trump beserta pemerintahannya yang kacau," kata Jack Reed, anggota senior Komite Angkatan Bersenjata Senat.
Kekhawatiran Asia
Latihan Ulchi Freedom Shield yang berlangsung selama 11 hari ini dirancang sebagai persiapan menghadapi kemungkinan perang dengan Korea Utara.Kolonel Ryan Donald, juru bicara Komando Pasukan Gabungan AS dan Korea Selatan, mengatakan bahwa latihan ini akan menyimulasikan pertempuran melawan pasukan Korea Utara yang telah ditempa pengalaman melalui penempatan mereka di pihak Rusia dalam invasi ke Ukraina.
Kantor kepresidenan Seoul menyatakan kepada AFP bahwa mereka terus menjalin "koordinasi erat" dengan Washington terkait latihan tersebut.
Pyongyang mengecam latihan ini dan menganggapnya sebagai gladi resik untuk sebuah invasi.
Baru-baru ini, mereka meluncurkan uji coba rudal balistik yang melintasi Laut Jepang, dan pada hari Jumat memperingatkan bahwa mereka dapat merespons latihan tersebut dengan "tingkat pencegahan baru".
Selama masa jabatan pertamanya, setelah pertemuan awal dengan pemimpin Korea Utara Kim di Singapura pada Juni 2018, Trump menyatakan bahwa Washington akan menangguhkan latihan yang dianggap "provokatif" tersebut.
Amerika Serikat menempatkan sekitar 28.500 personel militer di Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan negara itu—sebuah warisan dari Perang Korea (1950-1953) yang berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Namun, kritik berulang Trump terhadap aliansi yang telah lama terjalin telah menimbulkan keraguan mengenai komitmen AS terhadap keamanan di Asia Timur.
Pengumuman mengenai pengurangan skala latihan ini muncul di saat satu-satunya kapal induk AS yang beroperasi di kawasan Pasifik, USS George Washington, sedang dipindahkan penugasannya ke Timur Tengah untuk menggantikan USS Lincoln—kapal yang telah lama bertugas dan menjadi sorotan terkait masalah kesehatan mental serta pasokan logistik.