Nama Presiden AS Donald Trump kerap dikait-kaitkan dengan Jeffrey Epstein. (Anadolu Agency)
Anggota DPR AS Tuding DOJ Sengaja Tahan Dokumen Epstein Terkait Trump
Muhammad Reyhansyah • 25 February 2026 21:02
Washington: Anggota Partai Demokrat di Komite Pengawas DPR Amerika Serikat (AS), Robert Garcia, menuduh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) kemungkinan sengaja menahan dan menghapus sejumlah dokumen terdakwa kejahatan seksual Jeffrey Epstein.
Dokumen yang ditahan dan dihapus disebut Garcia berkaitan dengan Presiden AS Donald Trump, termasuk dugaan pelecehan seksual terhadap seorang anak di bawah umur.
Garcia, politikus Demokrat teratas di komite tersebut, mengatakan bahwa jajaran Demokrat selama berminggu-minggu telah menyelidiki penanganan FBI atas dugaan pelecehan seksual anak yang diajukan pada 2019 terhadap Trump oleh seorang penyintas.
Ia menyatakan telah meninjau daftar barang bukti tanpa sensor di DOJ.
“Kemarin saya meninjau daftar bukti tanpa redaksi di Departemen Kehakiman. Demokrat di Komite Pengawas memastikan DOJ tampaknya secara ilegal menahan wawancara FBI dengan penyintas yang menuduh Presiden Trump melakukan kejahatan berat, sehingga kami akan membuka penyelidikan paralel,” katanya, seperti dikutip Anadolu Agency, Rabu, 25 Februari 2026.
“Menutupi bukti langsung atas dugaan penyerangan oleh Presiden Amerika Serikat merupakan kejahatan paling serius dalam dugaan penutupan di Gedung Putih ini," sambung Garcia.
Dugaan Pelecehan oleh Trump
Sebelumnya, lembaga penyiaran radio NPR melaporkan Departemen Kehakiman menahan berkas tersebut. Menurut laporan itu, dokumen mencakup sekitar 50 halaman wawancara FBI serta catatan dengan perempuan yang menuduh Trump melakukan pelecehan ketika ia masih di bawah umur.NPR menyebut telah meninjau beberapa set nomor seri unik yang muncul sebelum dan sesudah halaman yang dimaksud, serta menemukan halaman tersebut telah dikatalogkan oleh Departemen Kehakiman namun belum dipublikasikan, meskipun ada undang-undang yang mewajibkan publikasi.
Jaringan radio itu tidak menyebut identitas perempuan tersebut sesuai kebijakan internal untuk tidak mengungkap nama korban kekerasan seksual.
Menurut laporan NPR, perempuan itu menuduh Trump melakukan pelecehan ketika ia berusia sekitar 13 tahun, sekitar 1983, tak lama setelah Epstein memperkenalkannya kepada pengembang properti yang kemudian menjadi presiden AS tersebut.
Pada 30 Januari, Departemen Kehakiman AS merilis lebih dari tiga juta halaman dokumen, 2.000 video, serta 180.000 gambar berdasarkan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein yang disahkan November lalu setelah Trump menyetujui langkah tersebut di tengah tekanan bipartisan.
Materi yang dibuka mencakup transkrip dewan juri dan catatan penyelidikan, meski banyak halaman masih disensor berat. Para penyintas Epstein dan keluarga korban menilai pengungkapan itu belum memenuhi ketentuan hukum dan masih menghilangkan informasi penting.
Otoritas menemukan Epstein meninggal akibat bunuh diri di penjara New York pada 2019 ketika ia menunggu persidangan atas dakwaan perdagangan seks federal yang melibatkan gadis di bawah umur.
Baca juga: Trump Klaim Dokumen Epstein yang Dirilis Telah Bersihkan Namanya dari Tuduhan