Hari Raya Siwaratri, dok: Medcom.id
Kapan Hari Raya Siwaratri 2026? Ini Jadwal dan Makna Perayaannya
Putri Purnama Sari • 13 January 2026 17:31
Jakarta: Hari Raya Siwaratri diperingati satu kali dalam setahun berdasarkan kalender Isaka, yaitu pada purwaning Tilem atau panglong ping 14 sasih Kepitu (bulan ketujuh) dalam perhitungan kalender Bali, tepat sebelum bulan mati (Tilem).
Dalam kalender Masehi, perayaan ini umumnya jatuh pada bulan Januari. Di tahun 2026, Hari Raya Siwaratri diperingati pada 17 Januari.
Hari Raya Siwaratri dirayakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Siwa. Perayaan ini ditandai dengan suasana keheningan dan meditasi. Hari suci ini kerap dibandingkan dengan Hari Raya Nyepi (Hari Keheningan), meskipun fokus utama Siwaratri adalah pada introspeksi diri yang mendalam, bukan keheningan total di seluruh Bali.
Siwaratri terdiri dari dua kata, yaitu Siwa dan Ratri. Siwa berasal dari bahasa Sansekerta yang mempunyai arti baik hati, suka memaafkan, memberi harapan dan membahagiakan, sedangkan Ratri adalah malam yang dapat diartikan juga sebagai kegelapan. Jadi Siwaratri adalah malam pelebur kegelapan dalam diri dan hati untuk menuju jalan yang lebih terang.
Baca Juga :
Jadwal dan Rute Terbaru Trans Metro Dewata Bali
Makna Hari Raya Siwaratri
Makna Hari Raya Siwaratri adalah sebagai malam perenungan suci, yakni malam untuk mengevaluasi dan mengintrospeksi diri atas perbuatan atau dosa-dosa yang telah dilakukan.Pada malam Siwaratri, umat Hindu memanjatkan doa kepada Dewa Siwa. Tidak sedikit pula yang memaknai Siwaratri sebagai malam peleburan dosa, di mana dosa-dosa manusia diyakini dapat dilebur melalui pelaksanaan brata semadi dan pemujaan kepada Dewa Siwa.
Umat Hindu Bali menjalankan tiga prinsip utama selama Siwaratri, yaitu berpuasa, menahan diri dari tidur (jagra), dan keheningan (mauna). Ketiga prinsip ini diyakini dapat membantu membersihkan pikiran dan tubuh.
Tempat-tempat ibadah di Bali, seperti Pura Besakih, Pura Lempuyang, serta pura-pura di desa, menjadi lokasi yang tenang untuk melaksanakan persembahyangan. Masyarakat biasanya datang bersama-sama untuk berdoa pada malam hari dan menjaga suasana dengan penuh ketenangan.
Selain itu, keluarga juga dapat melaksanakan upacara di tempat ibadah rumah dengan menyalakan dupa serta mempersembahkan canang sari sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Siwa.
(Jessica Nur Faddilah)