LRT Sumatra Selatan. Foto: Dok Metrotvnews.com
Fakta LRT Palembang, Transportasi Modern Pertama di Indonesia
Silvana Febiari • 23 September 2026 14:50
Palembang: Light Rail Transit (LRT) Palembang menjadi moda transportasi baru yang mendapat antusiasme masyarakat sejak mulai dioperasikan pada Juli 2018. Kehadirannya diharapkan tidak hanya menjadi alternatif transportasi, tetapi juga mendorong perubahan gaya hidup masyarakat Palembang dalam menggunakan transportasi umum.
Melansir laman Kementerian Perhubungan, belum seluruh stasiun LRT dapat digunakan saat pertama kali beroperasi. Dari 13 stasiun yang direncanakan, enam stasiun telah dapat digunakan selama perhelatan Asian Games 2018. Keenam stasiun tersebut yakni Stasiun Bandara, Stasiun Bumi Sriwijaya, Stasiun Cinde, Stasiun Ampera, Stasiun Jakabaring, dan Stasiun DJKA.
Sementara tujuh stasiun lainnya masih dalam proses penyelesaian pembangunan. Stasiun tersebut meliputi Stasiun Asrama Haji, Stasiun Punti Kayu, Stasiun RSUD, Stasiun Garuda Dempo, Stasiun Demang, Stasiun Dishub, dan Stasiun Polresta. Berikut fakta-fakta dari LRT Palembang.
Mudah dan Nyaman Digunakan
Menggunakan LRT Palembang tergolong mudah. Setiap stasiun dilengkapi tangga, eskalator, dan elevator sehingga dapat diakses oleh anak-anak, orang tua, maupun penyandang disabilitas.Calon penumpang cukup membeli tiket di loket stasiun. Setelah itu, petugas akan mengarahkan penumpang melewati gate elektronik menuju peron LRT.
Setiap stasiun juga memiliki warna khas masing-masing. Misalnya, Stasiun Jakabaring menggunakan warna kuning, sedangkan Stasiun Bumi Sriwijaya menggunakan warna ungu.
LRT Palembang memiliki delapan trainset yang masing-masing terdiri atas tiga kereta. Rangkaian kereta tersebut diproduksi PT INKA dengan interior yang dirancang modern.
Di dalam kereta tersedia bangku berwarna biru, pendingin udara (AC), layar informasi, CCTV, serta Wi-Fi gratis untuk menunjang kenyamanan penumpang.
Tempuh 23,5 Kilometer
LRT Palembang melayani perjalanan dari Stasiun Bandara hingga Stasiun DJKA dengan jarak sekitar 23,5 kilometer. Waktu tempuh perjalanan saat itu tercatat sekitar 60 menit.Kementerian Perhubungan menargetkan waktu tempuh tersebut dapat dioptimalkan menjadi sekitar 45 menit untuk satu kali perjalanan. Waktu tersebut diharapkan lebih singkat dibandingkan perjalanan menggunakan mobil pada kondisi lalu lintas ramai dengan jarak yang kurang lebih sama.
Selain waktu tempuh, tarif LRT juga menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat. Dengan dukungan subsidi dari Kementerian Perhubungan, tiket perjalanan dari Stasiun Bandara Mahmud Badaruddin II dikenakan Rp10.000. Sementara tarif untuk perjalanan pada rute nonbandara ditetapkan Rp5.000.

Rangkaian Light Rail Transit (LRT) melintas di atas Sungai Musi, Palembang, Sumatra Selatan. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj/aa
LRT Pertama di Indonesia
LRT Palembang menjadi LRT pertama yang dioperasikan di Indonesia. Pembangunannya juga melibatkan perusahaan-perusahaan dalam negeri, mulai dari konstruksi, persinyalan, pengoperasian, hingga produksi rangkaian kereta.PT Waskita Karya mengerjakan konstruksi LRT, sedangkan sistem persinyalan dikerjakan PT LEN. Pengoperasian LRT dilakukan PT Kereta Api Indonesia, sementara rangkaian keretanya diproduksi PT INKA.
Pengembangan dan Integrasi Transportasi
Pengembangan LRT Palembang juga diarahkan agar dapat terintegrasi dengan moda transportasi lain yang tersedia di Kota Palembang, salah satunya Trans Musi.Integrasi antarmoda diharapkan memudahkan masyarakat berpindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya. Dengan begitu, LRT tidak hanya menjadi transportasi yang menghubungkan sejumlah titik di Palembang, tetapi juga bagian dari sistem transportasi perkotaan yang saling terhubung.
Sejumlah pengguna juga berharap jaringan LRT terus dikembangkan, termasuk dengan menambah stasiun hingga menjangkau wilayah yang lebih luas di Kota Palembang.