Editorial MI: Jaga Regenerasi Bulu Tangkis Kita

Ilustrasi bulu tangkis. Foto: MI.

Editorial MI: Jaga Regenerasi Bulu Tangkis Kita

Media Indonesia • 4 February 2026 08:26

SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar. Di mata dunia, negara yang menang akan terlihat sebagai bangsa yang kuat secara fisik dan tangguh secara mental. Adapun bagi rakyat, menang atas negara lain menjadi pemompa rasa nasionalisme. Kemenangan juga bisa menjadi penawar akan apa pun kondisi mendung di dalam negeri.

Sebab itu, meski semangat Olimpiade pertama yang bahkan sebelum lahirnya IOC ialah untuk perdamaian antara Yunani dan Ottoman, kenyataannya itu menjadi jalan lain untuk unjuk kekuatan. Kemenangan di situ menjadi kebanggaan bagi rakyat yang terpuruk setelah perang.

Hingga era modern ini, makna kompetisi olahraga antarnegara tidak berubah. Ia menjadi jalan diplomasi soft power sekaligus pelecut nasionalisme. Tidak mengherankan jika kita sering melihat negara kecil atau bahkan negara berkonflik masih mati-matian menembus Olimpiade. Bukan sekadar penggembira, atlet-atlet mereka memang mampu unjuk gigi. Bukti bahwa pembinaan olahraga di dalam negeri mereka digarap serius.

Kita patut bangga karena negeri ini bukan bangsa yang asing di kompetisi olahraga antarnegara, termasuk Olimpiade. Sayangnya, tradisi emas olahraga dalam beberapa kali event terbesar dunia itu mulai lepas. Sejak bulu tangkis dipertandingkan di ajang multievent Olimpiade, Indonesia pun bisa berbangga punya tradisi meraih medali emas.

Sayangnya, emas bulu tangkis di Olimpiade gagal kita pertahankan selepas Olimpiade Tokyo 2020. Saat itu Greysia Polii/Apriyani Rahayu meraih emas lewat ganda putri. Tidak berlanjutnya tradisi emas di Olimpiade Paris 2024 memang cerminan masa paceklik gelar bulu tangkis di berbagai laga internasional, termasuk seri BWF World Tour.

Bahkan, di awal 2025, dari sembilan turnamen yang diikuti, Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) hanya bisa menyumbangkan satu gelar di BWF Super 300 Thailand. Dirunut lagi lebih dalam, ini sejurus dengan program regenerasi yang sempat terseok.

Memang, tamparan itu diambil sebagai pelajaran oleh PBSI dengan memperbaiki sistem pembinaan dan regenerasi lewat berbagai langkah. Salah satunya memperketat seleksi Pelatnas Cipayung. Ini memang salah satu langkah krusial agar bibit yang terjaring benar-benar potensial. Bukan sekadar mengandalkan nama besar atau jejak klub, tapi tidak cukup unggul dalam skill.

Tunggal putra bulu tangkis Indonesia, Alwi Farhan. Foto: Antara.

Tidak sia-sia, kini hasil pendekatan tersebut mulai terlihat. Skuad ‘Merah Putih’ sukses di Indonesia Masters 2026 lewat talenta muda bernama Alwi Farhan, serta ganda putra muda yang menembus final. Setelah itu, Indonesia mendominasi ajang Thailand Masters 2026. Indonesia membawa empat gelar juara dan dua titel runner-up.

Pada Indonesia Masters, keberhasilan tunggal putra Alwi Farhan yang berusia 20 tahun merengkuh gelar juara serta capaian pasangan ganda putra Raymond Indra/Nikolaus Joaquin sebagai runner-up menjadi potret nyata keberhasilan regenerasi.

Di Thailand Masters, ganda putri Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti langsung mengukir prestasi dengan meraih gelar juara Super 300 pertama mereka sebagai pasangan baru. Juga, penampilan gemilang M Zaki Ubaidillah yang baru berusia 18 tahun hingga menyabet juara tunggal putra setelah merontokkan sejumlah unggulan. Keberhasilan regenerasi ini harus dijaga dan dipastikan menjadi jalan untuk Olimpiade 2028. Lebih jauh lagi, paceklik lama bulu tangkis harus menjadi pelajaran akan pentingnya estafet regenerasi. Selain seleksi yang lebih ketat, kesempatan bagi para bibit muda harus diperluas.

Ingat, dalam satu setengah dekade terakhir, bermunculan talenta-talenta muda bulu tangkis dari negara-negara yang secara tradisi agak jauh dari prestasi olahraga tepok bulu itu. Jepang, Thailand, dan Singapura, bahkan Vietnam, mulai serius membina bibit-bibit muda bulu tangkis, bahkan beberapa di antara mereka sukses meraih emas Olimpiade.

Maka, tidak ada kata puas bagi proses regenerasi. Tiap waktu kita mesti mengevaluasi efektivitas proses menemukan talenta-talenta hebat di bidang olahraga yang sudah menghadirkan kebanggaan bagi bangsa ini. Kuncinya, konsisten dan jangan direcoki dengan kepentingan-kepentingan lain, di luar kepentingan merebut kembali kejayaan bulu tangkis kita.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggi Tondi)