Fenomena El Nino Diprediksi Turunkan Curah Hujan di Papua

Cuaca buruk yang disertai mendung dan hujan deras memengaruhi visibilitas pengendara kendaraan bermotor. ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo.

Fenomena El Nino Diprediksi Turunkan Curah Hujan di Papua

Whisnu Mardiansyah • 17 April 2026 09:56

Jayapura: Balai Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura memprediksi fenomena El Nino yang akan melanda Papua berdampak pada penurunan curah hujan.

"Memang benar fenomena El Niño berkontribusi terhadap penurunan curah hujan, khususnya saat puncak musim kemarau," kata Prakirawan BMKG Jayapura, Finnyalia Napitupulu, dilansir Antara di Jayapura, Kamis, 16 April 2026.

Dikatakan, berdasarkan prediksi iklim, terdapat potensi berlangsungnya fenomena El Nino dengan kategori lemah hingga sedang. Fenomena ini berdampak pada penurunan curah hujan, khususnya saat memasuki puncak musim kemarau.

Potensi Karhutla Meningkat pada Juli-Agustus

Dengan berkurangnya curah hujan dan meningkatnya periode kering, potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga dapat meningkat. Wilayah yang berisiko meliputi kawasan Kota Jayapura, terutama pada periode bulan Juli hingga Agustus.

Walaupun demikian, kata Finny, saat periode kemarau atau kondisi relatif kering, peluang terjadinya hujan masih tetap ada. Namun, frekuensi dan intensitas hujan tidak setinggi pada periode musim hujan.

Terkait keberadaan siklon tropis di sekitar wilayah Papua, saat ini terdapat satu siklon tropis yang masih aktif, yaitu Siklon Tropis Sinlaku. Siklon ini terpantau berada di wilayah Laut Filipina.
 


Posisi siklon ini relatif jauh dari Papua. Dengan demikian, siklon tersebut tidak memberikan dampak langsung terhadap kondisi cuaca di Papua dan sekitarnya.

Sementara itu, Siklon Tropis Maila yang sebelumnya terpantau di wilayah sekitar Indonesia saat ini telah mengalami pelemahan. Siklon tersebut bergerak menjauh ke arah selatan sehingga diprakirakan akan segera punah.

Finny menjelaskan, siklon tropis secara umum merupakan sistem pusat tekanan rendah yang terbentuk di atas perairan hangat dengan suhu muka laut yang cukup tinggi, umumnya di atas 26–27 derajat celcius. Kondisi ini didukung oleh suasana atmosfer yang tidak stabil.

Kondisi tersebut memicu pertumbuhan awan konvektif yang intens hingga menyebabkan sirkulasi angin yang kuat di sekitar pusat tekanan rendah. Hal ini menimbulkan massa udara dari sekitarnya tertarik dan berkumpul menuju pusat siklon.


Ilustrasi Medcom.id

"Saat masih aktif, Siklon Tropis Maila memberikan dampak tidak langsung terhadap wilayah Papua, seperti peningkatan kecepatan angin dan potensi gelombang tinggi di perairan," kata Finny.

Dalam menghadapi fenomena tersebut, masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama pada periode puncak musim kemarau. Masyarakat juga diminta terus memantau informasi resmi BMKG guna mengantisipasi potensi cuaca yang dapat terjadi.

"Masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama pada periode puncak musim kemarau, serta terus memantau informasi resmi BMKG guna mengantisipasi potensi cuaca yang dapat terjadi," kata Finny.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)