Pertamina Dipastikan Siap Kembangkan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan memastikan Perseroan siap mengembangkan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau avtur ramah lingkungan. Dok. Istimewa

Pertamina Dipastikan Siap Kembangkan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Achmad Zulfikar Fazli • 30 June 2026 17:32

Surabaya: Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan memastikan Perseroan siap mengembangkan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau avtur ramah lingkungan. Pengembangan SAF sebagai upaya mewujudkan kemandirian energi sekaligus menekan emisi karbon sektor penerbangan.

Hal ini disampaikan Iwan Bule, sapaan Iriawan, saat kunjungan kerja ke wilayah Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatim Balinus) untuk memastikan keandalan pasokan energi nasional sekaligus mengawal percepatan program transisi energi.
 
Kunjungan yang berlangsung mulai Senin, 29 Juni 2026 hingga Jumat, 3 Juli 2026, itu diawali dengan Management Walkthrough (MWT) ke Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda dan Integrated Terminal (IT) Surabaya.
 
"Langkah nyata dari Juanda ini diharapkan mampu membuktikan kepemimpinan Pertamina dalam mewujudkan target Net Zero Emission. Tugas menjaga pasokan avtur juga menuntut toleransi nol terhadap kekurangan stok maupun jeda pelayanan," kata Iwan Bule saat memberikan arahan kepada para pekerja Pertamina di AFT Juanda, dikutip pada Selasa, 30 Juni 2026.
 
Menurut dia, kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia untuk mendukung implementasi SAF sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait penguatan kemandirian energi nasional serta pengurangan ketergantungan terhadap energi fosil impor.
 
Dia menambahkan pengembangan SAF tidak hanya menjadi tuntutan global, tetapi juga peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan sumber daya domestik secara optimal dan berkelanjutan.
 
Iwan Bule kemudian berkunjung ke IT Surabaya, salah satu terminal energi terintegrasi terbesar di Indonesia yang memiliki peran vital dalam distribusi energi di kawasan timur Indonesia.
 

Baca Juga: 

Presiden Prabowo: Juli Kita akan Launching B50



Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan. Dok. Istimewa
 
Dalam kesempatan tersebut, Manager IT Surabaya Indriati Purba Lestari melaporkan seluruh fasilitas dan infrastruktur terminal telah siap mendukung penyediaan, serta distribusi biosolar B50 menjelang rencana peluncuran program tersebut oleh Presiden Prabowo Subianto dalam waktu dekat.
 
Menanggapi laporan tersebut, Iriawan meminta IT Surabaya menjadi pelopor pengembangan energi hijau di lingkungan Pertamina. Dia juga meminta IT Surabaya menjadi contoh bagi terminal lain dalam mengimplementasikan program energi berkelanjutan.
 
"Kedaulatan energi yang sejati adalah ketika kita mampu berdiri di atas kaki sendiri, mengolah apa yang dikaruniai Tuhan di bumi Nusantara ini menjadi energi bersih bagi masa depan bangsa. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang menggantungkan nasibnya pada belas kasihan pasar global," ujar Iwan Bule.
 
Selain menyoroti pengembangan energi baru terbarukan, Iwan Bule menginstruksikan manajemen memperkuat sistem digitalisasi guna meningkatkan efisiensi dan mencegah potensi kebocoran distribusi energi.
 
Dia menilai pemanfaatan sistem digital seperti Pertamina Integrated Command Center (PICC) dan Terminal Automation System perlu terus dioptimalkan untuk menjamin akuntabilitas distribusi energi serta mendukung target zero loss yang menjadi komitmen perusahaan.
 
Di tengah dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi rantai pasok energi, Iriawan menekankan pentingnya menjaga keandalan aset-aset vital, mulai dari tangki timbun, dermaga (jetty), hingga jaringan pipa di IT Surabaya agar tetap beroperasi secara optimal.
 
Menurut dia, penguatan cadangan operasional (operational buffer) penting agar terminal domestik memiliki daya tahan tinggi menghadapi gejolak pasar energi dunia, serta memastikan pasokan tetap aman bagi masyarakat.
 
Meski mendorong transformasi dan efisiensi, Iwan Bule menegaskan aspek keselamatan kerja tetap prioritas utama dalam setiap aktivitas operasional Pertamina.

”Budaya Corporate Life Saving Rules harus melekat dalam perilaku sehari-hari demi melindungi aset negara dan memastikan setiap pekerja pulang dengan selamat,” ujar Iwan Bule.

(Achmad Zulfikar Fazli)