Greenland saat ini jadi rebutan Denmark dan Amerika Serikat. Foto: the New York Times
Dari Pulau Es ke Pusat Konflik Global, Apa Pentingnya Greenland?
Fajar Nugraha • 22 January 2026 17:46
Nuuk: Sejak awal Januari, Greenland, wilayah Arktik yang luas dan otonom di bawah kedaulatan Denmark bergeser dari pinggiran isu internasional ke pusat perhatian dunia. Perubahan ini dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang semakin terbuka menyerukan agar Amerika Serikat mengambil alih pulau terpencil tersebut.
Prospek negara terkuat di NATO mencaplok wilayah milik sesama anggota aliansi telah mengguncang hubungan Washington dengan sekutu-sekutunya di Eropa. Pernyataan Trump serupa sebenarnya pernah muncul pada 2019, saat masa jabatan pertamanya, dan kembali terdengar di awal periode keduanya pada 2025. Kala itu, banyak pihak menganggapnya tidak serius.
Namun, situasi berubah drastis dalam beberapa pekan terakhir. Setelah pasukan Amerika Serikat menyerang ibu kota Venezuela dan menggulingkan Presiden Nicolás Maduro pada 3 Januari, pernyataan Trump soal Greenland terdengar jauh lebih nyata. Demonstrasi kekuatan militer AS tersebut memicu kekhawatiran di Eropa bahwa NATO bisa menghadapi krisis eksistensial.
Dalam hitungan hari, Trump sempat mengancam akan memberlakukan tarif terhadap negara-negara Eropa, sebelum akhirnya menarik ancaman itu setelah mengumumkan tercapainya sebuah “kerangka kerja” kesepakatan masa depan terkait Greenland.
Seiring detail kesepakatan itu terus bermunculan, perhatian kini tertuju pada mengapa Greenland begitu penting dan mengapa isu ini memicu ketegangan serius dengan Eropa.
Seperti Apa Greenland?
Mengutip CNN, Greenland merupakan pulau kaya sumber daya dengan luas sekitar 2,16 juta kilometer persegi. Wilayah ini adalah bekas koloni Denmark yang kini berstatus otonom dan terletak di kawasan Arktik. Greenland dikenal sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk terendah di dunia.
Sekitar 56.000 penduduknya berpindah antarkota menggunakan kapal, helikopter, atau pesawat karena keterbatasan jaringan jalan. Permukiman mayoritas terkonsentrasi di pesisir barat, termasuk ibu kota Nuuk, yang dipenuhi rumah-rumah berwarna cerah di antara garis pantai berbatu dan pegunungan di pedalaman.
Di luar kawasan perkotaan, Greenland didominasi alam liar, dengan sekitar 81 persen wilayahnya tertutup es. Hampir 90 persen penduduknya berasal dari etnis Inuit, dan perekonomian setempat selama ini sangat bergantung pada sektor perikanan.
Di Greenland, tidak ada kepemilikan tanah secara pribadi. Hal ini membuat gagasan memandang wilayah tersebut sebagai properti untuk diperjualbelikan terasa sangat provokatif bagi masyarakat setempat, sebagaimana diungkapkan pembuat film Greenland, Inuk Silis Høegh.
Sebagian besar warga Greenland menentang gagasan pengambilalihan oleh Amerika Serikat. Ribuan orang turun ke jalan di Nuuk untuk memprotes pernyataan Trump, sementara aksi serupa juga berlangsung di Denmark.
Kepentingan Strategis di Kawasan Arktik
Tiga faktor utama yang kian menonjol akibat krisis iklim menjadikan Greenland sangat strategis: posisi geopolitik, kekayaan sumber daya alam, dan potensi jalur pelayaran utara.
Greenland terletak di antara Amerika Serikat dan Eropa, serta berada di jalur GIUK Gap, yakni koridor maritim antara Greenland, Islandia, dan Inggris yang menghubungkan Samudra Arktik dengan Atlantik. Posisi ini krusial untuk mengontrol akses ke Atlantik Utara, baik dari sisi perdagangan maupun keamanan.
Wilayah ini juga memiliki cadangan minyak, gas, dan mineral tanah jarang yang signifikan. Mineral tersebut sangat penting bagi ekonomi global karena digunakan dalam produksi mobil listrik, turbin angin, hingga peralatan militer. Isu ini semakin relevan ketika Tiongkok memanfaatkan dominasinya di industri mineral tanah jarang untuk memberi tekanan geopolitik.
Mencairnya es Arktik berpotensi membuka akses lebih luas terhadap sumber daya tersebut, sekaligus membuka jalur pelayaran baru. Namun, tantangan geografis, keterbatasan infrastruktur, dan regulasi lingkungan membuat eksploitasi sumber daya tidak mudah.
Trump sendiri meremehkan faktor mineral, dengan menyatakan, “Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional, bukan untuk mineral.” Namun, mantan penasihat keamanan nasionalnya, Mike Waltz, menyebut fokus pemerintahan Trump justru berkaitan dengan “mineral penting” dan sumber daya alam.
Situasi ini membuat Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia semakin bersaing di kawasan Arktik. Rusia, yang lebih dari seperempat wilayahnya berada di Arktik, memandang kawasan ini vital bagi pertahanannya. Tiongkok juga ikut masuk, menyebut dirinya sebagai “negara dekat Arktik” dan mendorong konsep “jalur sutra kutub.”
Ketegangan dengan Eropa dan NATO
Minat Trump terhadap Greenland kembali menguat sehari setelah operasi AS di Venezuela. Ia menyebut Amerika Serikat membutuhkan Greenland “dari sudut pandang keamanan nasional,” seraya menuding Denmark tidak mampu melindungi wilayah tersebut.
Ancaman tarif terhadap sejumlah negara Eropa memicu pertemuan darurat para pejabat Eropa dan mendorong Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta Uni Eropa mengaktifkan instrumen anti-paksaan perdagangan. Parlemen Eropa bahkan sempat memblokir ratifikasi perjanjian dagang AS–Eropa.
Trump kemudian menarik ancaman tarif dan mengumumkan kerangka kerja kesepakatan Greenland setelah bertemu Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte. Ia menyebut perundingan lanjutan akan ditangani oleh sejumlah pejabat tinggi AS. NATO menyatakan diskusi tersebut akan berfokus pada keamanan Arktik dan mencegah Rusia serta Tiongkok memperoleh pijakan di Greenland.
Upaya Trump ini memicu salah satu krisis internal paling berbahaya dalam sejarah NATO. Ancaman terhadap wilayah anggota lain dan tekanan ekonomi dinilai merusak fondasi aliansi transatlantik. Sebagai bentuk dukungan terhadap Denmark, sejumlah negara Eropa mengirim personel militer untuk latihan bersama di Greenland.
Penolakan Kuat dari Masyarakat Greenland
Di Greenland sendiri, rencana Trump nyaris sepenuhnya ditolak. Sekitar 5.000 orang, jumlah signifikan bagi populasi setempat berunjuk rasa di Nuuk dengan membawa spanduk seperti “Yankee go home” dan “Greenland is already great.”
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyebut retorika Amerika Serikat “sama sekali tidak dapat diterima.” “Ketika Presiden Amerika Serikat mengatakan ‘membutuhkan Greenland’ dan mengaitkan kami dengan Venezuela serta intervensi militer, itu bukan hanya keliru, tetapi juga tidak menghormati kami,” ujarnya.
Greenland memiliki sejarah panjang kolonialisme Denmark, memperoleh pemerintahan sendiri pada 2009, meski kebijakan luar negeri, pertahanan, dan moneter masih dikendalikan Kopenhagen. Meski ada aspirasi menuju kemerdekaan, sebagian besar warga tidak ingin mengganti kepemimpinan Denmark dengan Amerika Serikat.
Namun, segelintir politisi oposisi yang lebih pro-AS menilai pernyataan Trump tentang hak menentukan nasib sendiri sebagai tawaran besar. Meski demikian, jajak pendapat menunjukkan penolakan luas, baik di Greenland maupun di Amerika Serikat sendiri, terhadap upaya pengambilalihan wilayah tersebut.