Merkuri, planet terdekat dengan Matahari di sistem tata surya. (NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Carnegie Institution of Washington)
NASA Ungkap Fakta Merkuri, Planet Terdekat dengan Matahari
Willy Haryono • 21 January 2026 16:00
Jakarta: Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mencatat Merkuri sebagai planet yang berada paling dekat dengan Matahari. Posisi tersebut membuat Merkuri memiliki karakter ekstrem yang membedakannya dari planet lain di tata surya, terutama dari sisi suhu, struktur geologi, dan kondisi lingkungannya.
Merkuri berada pada jarak sekitar 46 hingga 70 juta kilometer dari Matahari karena orbitnya yang berbentuk elips. Kedekatan ini menyebabkan perbedaan suhu yang sangat tajam. Di sisi yang menghadap Matahari, suhu permukaan Merkuri dapat mencapai sekitar 430 derajat Celsius, sementara di sisi yang tidak terkena sinar Matahari, suhu bisa turun hingga minus 180 derajat Celsius.
Dari sisi ukuran, Merkuri merupakan planet terkecil di tata surya dengan diameter sekitar 4.880 kilometer, atau sekitar sepertiga diameter Bumi. Meski berukuran kecil, planet ini memiliki kepadatan tinggi yang mengindikasikan keberadaan inti logam besar, terutama besi, di bagian dalamnya.
NASA juga mencatat Merkuri hampir tidak memiliki atmosfer tebal. Ketiadaan atmosfer ini membuat planet tersebut tidak mampu menahan panas maupun melindungi permukaannya dari radiasi dan benturan benda langit. Akibatnya, permukaan Merkuri dipenuhi kawah akibat hantaman meteoroid selama miliaran tahun, mirip dengan permukaan Bulan.
Selain itu, Merkuri tidak memiliki satelit alami maupun cincin seperti planet raksasa. Satu tahun di Merkuri berlangsung sekitar 88 hari Bumi, namun satu hari di planet tersebut justru lebih panjang karena rotasinya yang lambat terhadap porosnya.
Penelitian juga menemukan adanya lapisan es di beberapa kawah di wilayah kutub Merkuri yang selalu terlindung dari sinar Matahari. Temuan ini mengejutkan para ilmuwan mengingat suhu ekstrem yang umumnya terjadi di permukaan planet tersebut.
NASA menilai studi terhadap Merkuri penting untuk memahami proses pembentukan planet dan evolusi awal tata surya. Data dari misi antariksa, seperti MESSENGER dan BepiColombo, terus digunakan untuk mengungkap dinamika planet kecil yang berada di lingkungan paling ekstrem di sekitar Matahari. (Keysa Qanita)
Baca juga: Mengenal Jupiter dan Merkuri, Planet Terbesar dan Terkecil di Tata Surya