Ilustrasi. Foto: Freepik.
Trump 'Berulah', BI Terpaksa Sunat Proyeksi Ekonomi Dunia Jadi 3,2%
Husen Miftahudin • 21 January 2026 15:30
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan perekonomian dunia masih dalam tren melambat dengan ketidakpastian yang meningkat. Kondisi ini membuat bank sentral terpaksa memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini menjadi 3,2 persen.
"Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diprakirakan sedikit lebih rendah menjadi sebesar 3,2 persen dibandingkan dengan capaian 2025 sebesar 3,3 persen," ucap Perry dalam Pengumuman Hasil RDG Bulanan Periode Januari 2026, Rabu, 21 Januari 2026.
Perry menjelaskan, proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang lebih rendah tersebut terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan tarif resiprokal yang dilakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan kerentanan rantai pasok global.
Meskipun, aku dia, prospek perekonomian AS membaik didorong oleh investasi sektor teknologi termasuk artificial intelligence (AI) dan stimulus fiskal pengurangan pajak.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Jepang, Tiongkok, dan India pada 2026 juga diprakirakan melambat akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor di tengah investasi kecerdasan buatan (AI) yang juga meningkat.
| Baca juga: IMF Proyeksi Ekonomi Global Tumbuh 3,3% di 2026 |
.jpg)
(Gubernur BI Perry Warjiyo. Foto: Tangkapan layar YouTube)
Ketidakpastian pasar keuangan global meningkat
Dari pasar keuangan global, ruang penurunan Fed Funds Rate (FFR) berkurang dan disertai masih tingginya yield UST sejalan defisit fiskal AS yang masih besar.
"Ketidakpastian pasar keuangan global juga meningkat terutama dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal AS serta meluasnya eskalasi ketegangan geopolitik," terang Perry.
Menurut dia, perkembangan ini mengakibatkan peningkatan aliran modal ke emerging market (EM) tertahan dan mendorong penguatan indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY).
"Kondisi tersebut memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik dari rambatan global serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi," tegas Perry.