FIFA Buka Investigasi Terkait Kericuhan Usai Laga Spanyol Vs Argentina

Laga Spanyol vs Argentina, Final Piala Dunia 2026. (Instagram/@sefutbol)

FIFA Buka Investigasi Terkait Kericuhan Usai Laga Spanyol Vs Argentina

Riza Aslam Khaeron • 21 July 2026 11:58

Jakarta: FIFA resmi membuka investigasi terhadap tim nasional Argentina menyusul kericuhan pada akhir laga final Piala Dunia 2026 kontra Spanyol di Stadion MetLife, Minggu, 19 Juli 2026 waktu setempat. Komite Disiplin FIFA telah menunjuk jaksa disiplin dan etika untuk mengevaluasi insiden pascapeluit panjang yang melibatkan sejumlah pemain serta staf Argentina.
 
Usai kekalahan 1-0 tersebut, sejumlah pemain dan staf pendukung Argentina terlibat adu mulut hingga kontak fisik dengan skuad Spanyol yang sedang merayakan kemenangan. Nahuel Molina, Leandro Paredes, Thiago Almada, serta asisten pelatih Roberto Ayala terlihat berada di tengah konfrontasi tersebut.

Penyelidikan ini memperpanjang daftar masalah disiplin Argentina. Sebelum insiden ini, mereka juga terancam sanksi akibat membentangkan spanduk bernada politik terkait klaim Kepulauan Falkland setelah mengalahkan Inggris 2-1 di babak semifinal.
 

Apa yang Terjadi Usai Final Piala Dunia?


Tangkapan layar rekaman Roberto Ayala memegangi leher Eric Garcia. (Istimewa)

Saat peluit panjang berbunyi di New Jersey, beberapa pemain Argentina, termasuk Lionel Messi, terlihat langsung terduduk lesu di lapangan.

Sebagian lainnya hanya berdiri terpaku melihat skuad Spanyol merayakan kemenangan mereka. Rodri, yang ditarik keluar pada babak perpanjangan waktu, tampak berlari dari bangku cadangan untuk bergabung dengan rekan-rekannya.

Ketika gelandang Manchester City tersebut melewati Molina, bek Argentina itu tampak melayangkan pukulan ke arah lengan atau perut Rodri. Gesekan ini menjadi pemantik kericuhan. Rodri sempat mengonfrontasi Molina, tetapi bek Argentina itu justru merespons dengan agresif.

Eric Garcia segera berlari untuk membela rekannya. Di momen itulah Paredes ikut campur dengan mengarahkan jarinya ke tenggorokan Garcia. Gavi, pemain pengganti yang tidak diturunkan, mencoba melerai namun justru didorong hingga jatuh oleh Thiago Almada. Paredes kemudian kembali menjatuhkan Gavi dengan meletakkan tangan di wajah gelandang muda Spanyol tersebut.

Sementara itu, asisten pelatih Roberto Ayala terlihat memegangi leher Garcia dan tampak memukul Dani Olmo.

Di sisi lain, pelatih Argentina Lionel Scaloni mencoba meredakan situasi dan cenderung meremehkan insiden tersebut dalam sesi wawancara pascapertandingan.

"Kami anggun dalam kemenangan, dan kami harus anggun dalam kekalahan. Hari ini, kami menunjukkan bahwa kami tahu bagaimana cara kalah. Kami kalah dalam pertandingan, dan kami menerimanya," ujarnya.

Tindakan Apa yang Dapat Dihadapi Argentina?

Mengutip BBC, Pasal 13 Kode Disiplin FIFA mengatur tentang perilaku ofensif dan pelanggaran prinsip fair play. Tindakan skuad serta staf Argentina dapat dikategorikan sebagai pelanggaran.

Jaksa terkait akan mempertimbangkan faktor-faktor yang memberatkan maupun meringankan sebelum mengambil keputusan, termasuk potensi skorsing global.

Klausul ini sebelumnya digunakan FIFA untuk menjatuhkan sanksi kepada mantan Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF), Luis Rubiales, terkait insiden penciuman sepihak terhadap Jenni Hermoso usai final Piala Dunia Wanita. Rubiales diskors dari seluruh aktivitas sepak bola selama tiga tahun pada 2023 dan kalah dalam proses banding.
 
Baca Juga:
Kata-kata Messi Setelah Argentina Gagal Juara Piala Dunia 2026
 

Sejarah Masalah Disiplin Argentina

Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) memang kerap bermasalah dengan kedisiplinan pemainnya dalam beberapa tahun terakhir. Pada final Piala Dunia 2022, mereka sempat didakwa atas pelanggaran terkait perilaku ofensif serta asas fair play.

Meski berhasil mengalahkan Prancis lewat adu penalti, selebrasi tim Tango menuai banyak kecaman. Kiper Emiliano Martinez melakukan gestur tidak senonoh saat menerima penghargaan penjaga gawang terbaik, serta kedapatan mengejek Kylian Mbappe di ruang ganti.

Kala itu, AFA didenda sebesar 18.300 poundsterling (sekitar Rp440 juta) tanpa ada sanksi individu langsung. Namun, Martinez kemudian tetap dijatuhi skorsing dua laga pada 2024 akibat perilaku ofensif serupa saat laga kualifikasi kontra Cile dan Kolombia.

Masalah lain muncul pascaCopa America 2024, saat gelandang Chelsea Enzo Fernandez harus meminta maaf secara terbuka menyusul unggahan video selebrasi yang dinilai rasis dan diskriminatif oleh Federasi Sepak Bola Prancis (FFF).

Pada Piala Dunia kali ini pun, AFA sudah dibayangi ancaman denda akibat pembentangan spanduk politik usai mengalahkan Inggris. Para pemain merayakan kemenangan sembari memegang kain bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" (Kepulauan Falkland adalah milik Argentina).

Pada 2014, AFA juga pernah didenda 20.000 poundsterling (sekitar Rp481 juta) karena aksi serupa sebelum laga persahabatan kontra Slovenia.

Kali ini, FIFA berpotensi melarang tampil para pemain yang ikut membentangkan spanduk tersebut, di antaranya Cristian Romero (Tottenham), Giovani Lo Celso, dan Lisandro Martinez (Manchester United).

Sebagai perbandingan, kapten Spanyol Alvaro Morata dan rekannya Rodri pernah dijatuhi skorsing satu pertandingan oleh UEFA akibat menyanyikan yel-yel bermuatan politik "Gibraltar adalah milik Spanyol" saat merayakan kemenangan Euro 2024.

(Riza Aslam Khaeron)