Investasi AI Melonjak, Industri Semikonduktor Asia Jadi Incaran Investor

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Investasi AI Melonjak, Industri Semikonduktor Asia Jadi Incaran Investor

Eko Nordiansyah • 22 October 2026 15:23

Jakarta: Tren investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diperkirakan masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi global dalam 12 bulan ke depan.

Seiring dengan perkembangan tersebut, sektor semikonduktor di Asia dinilai memiliki prospek yang menjanjikan karena berperan penting dalam memenuhi kebutuhan cip untuk pusat data.

Head of Investment Eastspring Al-Wara’ Investments, Lai Eu-Roy, menilai perusahaan yang berada dalam rantai pasok semikonduktor berpotensi memperoleh manfaat dari berlanjutnya investasi AI, terutama dalam jangka waktu 12 hingga 24 bulan mendatang.

Menurutnya, permintaan cip untuk mendukung operasional pusat data menjadi salah satu faktor yang menopang prospek sektor tersebut di tengah meningkatnya investasi infrastruktur AI secara global.

“Kami menilai investasi di pasar seperti Asia, khususnya pada perusahaan yang berada dalam rantai nilai semikonduktor dan memproduksi cip untuk pusat data, akan lebih berkelanjutan dalam 12 hingga 24 bulan ke depan. Kami melihat permintaan cip yang relatif lebih kuat,” ujar Lai dalam Talk Show yang diselenggarakan Permata Bank di The Ritz-Carlton Pacific Place Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, Korea Selatan dan Taiwan menjadi dua negara Asia yang memperoleh manfaat dari perkembangan industri AI. Kedua negara tersebut memiliki peran penting dalam manufaktur semikonduktor yang digunakan untuk mendukung pembangunan pusat data.

Kebutuhan terhadap pusat data terus menjadi perhatian berbagai negara, termasuk Indonesia yang juga berupaya memperluas kapasitas infrastruktur pusat data domestik.

Investasi AI masih menopang ekonomi global

Lai memperkirakan tren investasi AI masih akan berlanjut dalam 12 bulan mendatang. Menurutnya, perkembangan tersebut turut memengaruhi prospek pasar saham Asia karena sektor teknologi informasi memiliki porsi besar dalam komposisi pasar saham kawasan tersebut.

Ia menjelaskan, sektor teknologi informasi mencakup sekitar 40 persen dari komposisi pasar saham Asia berdasarkan tolok ukur indeks pasar negara berkembang MSCI yang digunakan dalam presentasinya.

Kondisi tersebut membuat perkembangan investasi AI menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan investor ketika menilai prospek pasar saham Asia dalam satu hingga dua tahun ke depan.
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Selain memengaruhi pasar saham, investasi AI juga berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi global. Lai mencontohkan pembangunan pusat data di Amerika Serikat yang menurutnya berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) negara tersebut.

Namun, ia mengingatkan bahwa perlambatan investasi AI dapat menjadi risiko bagi perekonomian global. Apabila belanja infrastruktur AI menurun, pertumbuhan ekonomi juga berpotensi kehilangan salah satu sumber penopangnya.

Meski demikian, Lai menilai prospek investasi AI dalam waktu dekat masih cukup kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi global.

Investasi semikonduktor dinilai lebih menjanjikan

Lai menjelaskan, sebagian investor masih memperdebatkan apakah besarnya belanja untuk pengembangan AI akan menghasilkan peningkatan produktivitas dan keuntungan yang sepadan.

“Sebagian investor sangat meyakini AI merupakan inovasi besar berikutnya yang akan melahirkan berbagai aplikasi baru untuk mendorong pertumbuhan produktivitas. Namun, di sisi lain, semakin banyak investor yang mempertanyakan tingkat pengembalian dari besarnya dana yang diinvestasikan dalam pengembangan AI,” ujar Lai.

Di satu sisi, AI berpotensi meningkatkan efisiensi perusahaan, pemerintah, dan berbagai aktivitas ekonomi. Di sisi lain, besarnya investasi yang dibutuhkan menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan imbal hasil bagi perusahaan yang mengembangkan teknologi tersebut.

Dalam konteks ini, Lai memandang perusahaan di rantai pasok semikonduktor memiliki prospek yang relatif lebih menarik karena permintaan cip berkaitan langsung dengan kebutuhan infrastruktur AI.

Meski demikian, ia menilai prospek setiap perusahaan tetap perlu diperhatikan karena perubahan tren teknologi dapat membuat sebagian perusahaan kehilangan daya saing.

“Beberapa perusahaan dan segmen industri akan tetap relevan dan berkinerja baik. Namun, ketika tren ini berakhir, ada pula perusahaan yang berpotensi menjadi usang,” jelas Lai.

Dengan demikian, perkembangan investasi AI tidak hanya membuka peluang bagi industri teknologi, tetapi juga mendorong investor untuk lebih selektif dalam menentukan sektor dan perusahaan yang memiliki prospek pertumbuhan berkelanjutan. (Selsha Septifanie Gunawan)