Pertamina Bidik Kapasitas Bioetanol 900 Ribu Kiloliter pada 2032, Punya 30 Pabrik

Senior Vice President of Business Sustainability Pertamina Wenny Ipmawan. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan Azhari.

Pertamina Bidik Kapasitas Bioetanol 900 Ribu Kiloliter pada 2032, Punya 30 Pabrik

Andika Fauzan Azhari • 28 October 2026 20:32

Jakarta: Senior Vice President of Business Sustainability PT Pertamina (Persero) Wenny Ipmawan mengatakan, Indonesia telah menunjukkan progres signifikan dalam pengembangan bioetanol, yang didukung oleh kerangka regulasi melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 113 Tahun 2026. Regulasi tersebut menetapkan target implementasi bioetanol untuk mencapai E5 pada 2026-2027 serta E10 pada 2028 hingga 2030.  
 
"Regulasi terbentuk pada 2026 melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 113 Tahun 2026 tentang tahapan implementasi bioetanol, di mana kita harus mencapai E5 pada 2026 dan 2027, dan kemudian kita harus mencapai E10 pada 2028 sampai 2030," ujar Wenny dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.  
 
Ia mengatakan Pertamina sendiri telah memulai bisnis bioetanol khususnya pada jenis E5, bahkan telah menjual produk tersebut sejak tahun 2023. Realisasi penjualan harian produk bioetanol Pertamina saat ini berkisar antara 55 hingga 134 kiloliter per hari.
 


Bahlil: Program BBM Etanol Dimulai Bertahap pada 2027

(Ilustrasi bioetanol. Foto: Warstek.com)

 

Roadmap dan diversifikasi bahan baku

 
Menurut Wenny, Pertamina memiliki target roadmap pengembangan fase dengan kapasitas tahunan lebih dari 900 ribu kiloliter yang melintasi 30 pabrik terintegrasi untuk dibangun pada tahun 2032. Pembangunan ini dilakukan melalui optimalisasi tetes tebu (molasses) dan pemanfaatan aren, serta proyek percontohan di Kamojang pada 2026.  
 
"Kita memiliki target peta jalan pengembangan fase dengan kapasitas tahunan lebih dari 900 ribu kiloliter di 30 pabrik terintegrasi yang akan dibangun pada 2032 melalui optimalisasi tetes tebu yang ada dan juga pemanfaatan aren, terutama kita memiliki proyek percontohan di Kamojang pada 2026,"tambah Wenny.
 
Selain aren dan molase, Pertamina juga memanfaatkan sorgum melalui proyek percontohan di Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Lampung pada 2027. Langkah ini dibarengi dengan peningkatan produksi stok ganda (multi-feedstock) dan produksi 2G, serta membuka potensi pasokan bahan baku di seluruh nusantara agar tidak bergantung pada satu jenis tanaman saja.

(Husen Miftahudin)