Podium MI: Batas Sabar

Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto- Media Indonesia (MI)/Ebet

Podium MI: Batas Sabar

Abdul Kohar • 8 June 2026 06:38

'SABAR ada batasnya'. Kalimat itu sudah sedemikian akrab di telinga kita sehingga terdengar seperti ayat yang turun bersama hujan dan kemacetan.

Ia diucapkan suami yang menunggu istrinya bersiap sejak azan Magrib, padahal undangan tertulis pukul 7 malam. Ia juga diucapkan istri yang sudah tiga kali bertanya, "Jadi berangkat atau tidak?" tetapi suaminya masih khusyuk menatap layar gawai seperti sedang menerima wahyu.

Ia diucapkan sejumlah jemaah haji yang kembali tiba di Tanah Air, tapi koper besar mereka tertahan di Mekah karena 'alasan teknis' yang agak sumir. Padahal, di koper besar itu terdapat oleh-oleh khas jemaah haji. Ada kurma ajwa, ada cokelat arab, kismis, gamis, parfum aroma kiswah Kabah atau Raudhah, dan kawan-kawan.

Semua barang itu hendak didedikasikan untuk kerabat dan para tetangga yang bertamu, begitu 'pak haji' dan 'bu hajah' tiba di rumah. Namun, berhubung koper masih tertinggal, para hujjaj itu terpaksa mengganti kurma, kacang, kismis, cokelat, dan parfum dengan martabak, singkong goreng, pisang goreng, dodol, dan aroma terapi. Beruntung, masih ada air zamzam yang dibagikan di debarkasi.

Karena itu, saat jemaah bertanya kepada otoritas haji tentang kapan koper mereka tiba, lalu dijawab dengan, "Sabar, ini ujian," sebagian ada yang membalas, "Sabar ada batasnya." Mereka malu kepada tetangga yang, mungkin, berbisik, "Katanya pulang haji, kok suguhannya martabak?"

Kalimat 'sabar ada batasnya' pun demikian populer sampai-sampai orang menganggapnya sebagai hukum alam. Seolah-olah Newton menemukan tiga hukum gerak dan satu hukum tambahan, yakni benda yang terus-menerus diuji akan berkata, "Sabar ada batasnya."

Padahal, kalau dipikir-pikir, siapa yang pertama kali menemukan batas sabar itu? Tidak ada peta yang menunjukkan letaknya. Tidak ada prasasti yang menerangkan koordinatnya. Para ahli geografi gagal menemukannya. Para insinyur belum pernah mengukurnya.

Bahkan, petugas pertanahan pun belum pernah menerima sertifikat atas nama Tuan Sabar dengan luas tanah sekian hektare dan batas-batas sebagai berikut: sebelah utara emosi, sebelah selatan kemarahan. Yang ada hanyalah keyakinan bersama bahwa batas itu pasti ada.

Ilustrasi ibadah haji. Dok. Kemenag

 

Baca Juga: 

Jemaah Haji Indonesia Gelombang 2 Mulai Diberangkatan ke Madinah

Mungkin asal usul kalimat itu lahir dari pengalaman manusia yang terlalu sering diminta bersabar oleh orang lain. Yang menarik, orang yang menyuruh bersabar biasanya bukan orang yang sedang menanggung masalah. Orang yang meminta jemaah haji bersabar menunggu koper bagasi tiba umumnya tidak mengalami kasus serupa.

"Sabarlah." Nasihat itu sangat murah ketika tagihan listrik dibayar orang lain. "Sabarlah." Kalimat itu sangat ringan ketika antreannya bukan antrean kita. "Sabarlah." Frasa itu mudah dikatakan kala koper yang tertinggal bukan koper kita.

Karena itulah, suatu hari seseorang yang sudah terlalu sering menerima petuah tersebut barangkali bangkit dan berkata dengan penuh harga diri, "Baik, saya sabar, tapi sabar ada batasnya." Sejak saat itu, kalimat tersebut beredar dari mulut ke mulut seperti warisan budaya tak benda.

Namun, ada keanehan kecil yang patut dicatat. Hampir semua orang percaya sabar ada batasnya, tetapi hampir tidak ada yang percaya marah ada batasnya. Padahal, dalam praktik sehari-hari, justru kemarahanlah yang biasanya lebih pendek umurnya.

Orang bisa marah selama 5 menit lalu lupa sebab kemarahannya. Namun, kesabaran seorang ibu menghadapi anaknya bisa berlangsung bertahun-tahun. Kesabaran seorang guru menghadapi muridnya bisa bertahan puluhan semester. Kesabaran seorang pedagang menghadapi pembeli yang bertanya panjang lebar lalu pergi tanpa membeli apa-apa sering kali melampaui kemampuan kalkulator untuk menghitungnya.

Kalau begitu, jangan-jangan yang terbatas bukan sabarnya. Yang terbatas ialah tenaga, waktu, dan kesempatan manusia untuk terus menanggung sesuatu tanpa perubahan.

Karena itu, kalimat 'sabar ada batasnya' sesungguhnya bukan ancaman. Ia lebih mirip pengumuman bahwa manusia tetaplah manusia. Ia bukan malaikat yang kebal terhadap rasa lelah, bukan pula batu yang tidak memiliki perasaan. Di situlah letak kebijaksanaannya.

Sabar bukan berarti membiarkan ketidakadilan berlangsung tanpa akhir. Sabar bukan berarti menyerah pada keadaan. Sabar ialah kemampuan menahan diri sambil mencari jalan keluar.

Ketika jalan keluar itu harus ditempuh, orang bertindak bukan karena kehilangan kesabaran, melainkan karena kesabarannya justru mengajarkan bahwa sesuatu perlu diperbaiki.

Jadi, dari mana asal usul kalimat 'sabar ada batasnya'? Barangkali tidak lahir dari kamus. Tidak pula dari kitab filsafat.

Ia lahir dari antrean panjang, janji yang tidak ditepati, suara tetangga yang menyetel pengeras suara terlalu keras, birokrasi yang berbelit-belit, dan berbagai peristiwa kecil seperti koper haji berisi oleh-oleh perjalanan ke Tanah Suci yang tertinggal, yang membuat manusia belajar satu hal penting, bahwa kesabaran ialah kebajikan yang besar, tetapi ia tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan akal sehat.

Dengan demikian, ketika seseorang berkata, "Sabar ada batasnya," sering kali yang sebenarnya ia maksudkan ialah, "Saya masih sabar, tetapi tolong jangan meminta saya menemukan di mana batas itu berada."

(Achmad Zulfikar Fazli)