Podium MI: Bumi semakin Panas

Dewan Redaksi Media Group, Ahmad Punto. Foto- Media Indonesia/Ebet

Podium MI: Bumi semakin Panas

Ahmad Punto • 6 May 2026 06:33

APA itu Hari Bumi Sedunia yang setiap tahun diperingati di seluruh dunia? Apakah itu hari lahir bumi alias hari ketika planet terbesar kelima di jagat tata surya itu diciptakan sebagai bagian kecil dari alam semesta? Lantas apa makna peringatan itu bagi kelangsungan kehidupan makhluk hidup yang menempati bumi?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kerap terlontar menyertai peringatan Hari Bumi Sedunia yang dilakukan rutin pada 22 April setiap tahunnya. Dua pekan lalu pun, ketika 'hari besar' bagi penduduk bumi itu kembali diperingati untuk tahun ini, pertanyaan semacam itu masih muncul.

Sejatinya, Hari Bumi Sedunia ialah ajakan bagi warga global untuk menunjukkan dukungan bagi perlindungan lingkungan dan kesadaran akan krisis iklim, juga melakukan aksi nyata untuk merawat planet ini sebagai tempat tinggal bersama.

Secara konsep dan tujuan yang ingin dicapai, itu sangat ideal. Spirit peringatan Hari Bumi Sedunia sesungguhnya ialah mimpi, cita-cita sebagian penduduk dunia yang masih mendambakan bumi dengan segala idealitasnya. Ekosistem yang sehat, iklim yang stabil, lingkungan yang tidak rusak sehingga mampu menopang seluruh makhluk hidup secara berkelanjutan, dan banyak keidealan yang lain.

Namun, kita semua pasti paham, tidak semudah itu mewujudkan hal-hal yang ideal. Begitu pula dalam perkara ini. Karena itu, memang, cukup sulit untuk menjawab pertanyaan ketiga mengenai makna peringatan itu bagi kelangsungan kehidupan makhluk hidup. Malah akan muncul pertanyaan baru, apakah ada jaminan bumi bakal berubah menjadi lebih baik dan ideal dengan setiap tahun kita memperingati Hari Bumi?

Tentu tidak ada yang bisa menjamin hal itu. Apalagi, dari pengalaman yang sudah-sudah, peringatan Hari Bumi Sedunia kerap terjebak menjadi sekadar seremoni tanpa isi. Saat seremoni berlangsung, kesadaran kita mungkin meningkat bahwa hari ini bumi sangat membutuhkan suplemen berupa aksi nyata dari para penghuninya agar tak semakin lelah dan sempoyongan. Keinsafan kita barangkali seketika akan muncul sehingga diam-diam berjanji tidak akan bertindak semena-mena lagi terhadap bumi.

Namun, setelah acara selesai, seperti biasa, kita selalu kembali ke setelan awal. Lupa kalau kita punya tanggung jawab merawat planet ini. Lupa kalau kita seharusnya menjaga lingkungan, bukan malah merusaknya. Lupa kalau alam sejatinya tidak pernah membutuhkan manusia untuk bertahan hidup, justru manusialah yang mustahil bertahan tanpa alam.

Baca Juga: 

Ada Gangguan Atmosfer di Utara Papua, BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat di Wilayah Ini

Alhasil, bumi tetap saja 'demam'. Panasnya makin tinggi. Bumi tak kunjung sehat, malah makin banyak mengoleksi penyakit. Tanda tandanya nyata. Suhu global terus menanjak. Tahun-tahun terakhir bergantian mencatat rekor terpanas. Es di kutub mencair, muka air laut naik, gelombang panas mematikan datang berulang, cuaca makin tak terprediksi, banjir dan kekeringan bergantian menyergap. Bumi memberikan tanda, tetapi manusia pura-pura buta.

Di negeri ini tanda-tanda itu juga kasatmata. Musim tak lagi patuh pada 'jadwal'. Hujan datang ketika kemarau belum selesai. Kemarau bertahan ketika orang menunggu hujan. Banjir datang di tempat yang dulu tak pernah tenggelam. Kekeringan menghantam wilayah yang dahulu subur. Suhu udara di kota-kota besar terasa makin menyesakkan karena ruang hijau kalah oleh beton, aspal, dan gedung-gedung yang pongah.

Namun, tanda-tanda yang amat jelas itu kiranya belum cukup membuat kita sadar. Manusia masih saja memproduksi 'dosa' di bumi yang kian tertatih ini. Hutan ditebang atas nama investasi. Gunung dibelah atas nama hilirisasi. Sungai dijadikan layaknya pembuangan raksasa demi industrialisasi. Laut dan udara dikotori atas nama pertumbuhan. Yang untung segelintir. Yang buntung rakyat ramai-ramai.

Lebih ngeri lagi, sudah bumi makin memanas, manusia sebagai penghuni utama bumi juga makin beringas. Untuk urusan syahwat, manusia tak pernah berhenti ngegas. Kita lihat saja wajah dunia sekarang ini. Perang berkobar di banyak tempat. Konflik dipelihara di mana-mana. Kejahatan terus direproduksi. Makin ke sini, nyawa dan rasa kemanusiaan terasa kian murah.

Sesungguhnya krisis iklim/lingkungan dan krisis kemanusiaan lahir dari rahim yang sama, yakni kerakusan. Pun keduanya akan menghasilkan produk yang sama, yaitu kerusakan bumi. Lalu apakah kita akan membiarkan hal itu terjadi? Kalau tidak, setidaknya mulailah dengan menjadikan Hari Bumi sebagai hari kita untuk berkaca, apa sumbangsih yang sudah kita berikan untuk bumi, untuk lingkungan dan kemanusiaan?

Bersamaan dengan itu, kita juga mesti terus-menerus mengingatkan bahwa bumi sejatinya tidak membutuhkan seremoni. Ia lebih membutuhkan keputusan yang waras, penegakan hukum yang tegas, tata ruang yang jujur, transisi energi bersih yang serius, industri yang bertanggung jawab, dan pemimpin yang peduli terhadap kemanusiaan dan kelestarian lingkungan.

Bumi sesungguhnya masih sabar. Terlalu sabar, bahkan. Namun, bila manusia tetap keras kepala, bahkan makin beringas, alam punya cara sendiri untuk meluapkan batas kesabarannya. Siap-siap saja, ia bakal datang sebagai banjir, longsor, kekeringan, badai, dan panas yang tak tertanggungkan. Pada saat itu, mungkin bukan lagi bumi yang perlu diselamatkan. Manusialah yang butuh diselamatkan akibat ulah mereka sendiri.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)