912 Warga Tapanuli Tengah Hidup di Tenda Pengungsian

Penyintas bencana di Kelurahan Hutanabolon dan desa di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah beristirahan di dalam tenda pengungsian yang disediakan pemerintah di daerah setempat pada Senin, 26 Januari 2026. ANTARA/Mario Sofia Nasution

912 Warga Tapanuli Tengah Hidup di Tenda Pengungsian

Silvana Febiari • 27 January 2026 08:55

Tapanuli Tengah: Sebanyak 912 warga Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, kini tinggal di ratusan tenda pengungsi yang didirikan pemerintah. Penempatan ini dilakukan pasca-bencana hidrometeorologi melanda kawasan tersebut pada akhir November 2025.

“Sejauh ini seluruh kebutuhan dasar masyarakat sudah terpenuhi di pengungsian ini,” kata Lurah Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Polman Pakpahan, dikutip dari Antara, Selasa, 27 Januari 2026.

Ia menjelaskan seluruh pengungsi mendapatkan kebutuhan pangan dari dapur umum yang telah disediakan. Makanan yang disajikan, termasuk lauk pauknya, berasal dari pemerintah kabupaten, Pemprov Sumut, maupun pemerintah pusat.
 


“Warga ini kami siapkan makanan tiga kali dari dapur umum yang ada menggunakan bahan kebutuhan pokok yang disediakan pemerintah,” ujarnya.

Sementara untuk kebutuhan air bersih, total sekitar 20 sumur bor sudah dibangun pemerintah bersama pihak swasta sejak lokasi pengungsian ada. “Untuk kebutuhan mandi cuci kakus juga telah ada, serta juga ada layanan cuci baju gratis yang disiapkan Kementerian Sosial,” kata dia.

Total terdapat 129 tenda dengan beragam ukuran di kawasan tersebut. Mulai dari tenda besar, tenda umum, hingga tenda keluarga yang ditempati para pengungsi.

Di lokasi ini juga tengah dipersiapkan hunian sementara (huntara). Hunian tetap juga direncanakan dibangun di wilayah tersebut. 


Sejumlah tenda yang ditempati penyintas bencana banjir dan longsor di Kelurahan Hutanabolon dan desa di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah yang disediakan pemerintah di daerah setempat pada Senin, 26 Januari 2026. ANTARA/Mario Sofia Nasution


Beberapa huntara, seperti Rusunawa Pandan dan huntara di Pinang Sori, sudah disiapkan. Namun karena jaraknya jauh, pengungsi tetap bertahan di lokasi ini.

“Kami masih menunggu pembangunan huntara di lokasi ini atau hunian tetap sehingga masyarakat nanti bisa dipindahkan ke sana,” kata dia.

Sementara warga Desa Sait Kalangan II, Kecamatan Tukka, Dowes Dekker mengaku berjalan kaki dari rumahnya saat menyelamatkan diri. “Kami berjalan enam jam dengan membawa barang dan menggendong anak,” kata dia.

Awalnya dia menumpang di rumah keluarga. Namun karena terlalu lama dan sempit terpaksa membawa istri dan tiga anaknya ke lokasi pengungsian.

“Kami baru tiga hari di sini, kebutuhan makan dipenuhi dan anak-anak bisa bersekolah di lokasi yang disediakan,” ujar dia

Dia berharap agar jalan menuju kampung mereka dapat dibuka sehingga dapat diakses kembali. “Banyak rumah yang rusak dan tanah yang turun akibat longsor. Semoga ada jalan keluar,” tandasnya. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)