Menemani 15 Ton Logistik Berlayar ke Pulau Palue

Logistik untuk korban gempa dikirim ke Pulau Palue menggunakan KMP Ile Ape. Metrotvnews.com/Anggi

Menemani 15 Ton Logistik Berlayar ke Pulau Palue

Anggi Tondi Martaon • 25 August 2026 00:03

Maumere: Angin semilir menyapa Pelabuhan Lorens Say Maumere sore itu. Embusan angin seolah mempersiapkan pelayaran kapal besar di pelabuhan tersebut.

Kapal Motor Penumpang (KMP) Ile Ape namanya. Berlambung besar, dengan cat dominan putih, dan bersiap pergi dari Pelabuhan Lorens Say Maumere, sore itu.

Kapal yang berlabuh di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur ini, belakangan mengangkut muatan tak biasa. Hari ini, 24 Agustus 2026, KMP Ile Ape memuat total 15 ton logistik yang terdiri atas beras dan beragam bantuan dari Posko Satgas Bencana Kabupaten Sikka.

Sejak gempa bumi NTT pada 15 Agustus 2026, KMP Ila Ape menjadi salah satu pengantar yang diandalkan untuk berlayar ke Pulau Palue, yang terdampak parah gempa.

Kapal yang dibuat pada 1995 itu masih gagah mengantarkan muatan. Metrotvnews.com berkesempatan 'menemani' logistik dengan berat 15 ton menumpang KMP Ila Apa menuju Pulau Palue.

Banyak cerita yang didapat jelang kapal mulai berlayar selama enam jam perjalanan. Salah satunya, KMP Ila Apa selalu siap menerima perintah pengantaran logistik ke Pulau Palue.

"Kita siap kapan saja, kalau diminta berangkat pagi, kita berangkat," kata salah satu anak buah kapal.

Biasanya, KMP Ile Ape berangkat pukul 17.00 Wita lalu berlayar selama enam jam ke Pulau Palue. Semenjak gempa, kapal ferry tersebut difokuskan mengantar bantuan, tanpa kenal waktu.

Tidak hanya membawa kebutuhan pokok, KMP Ile Ape pernah membawa alat berat ke Pulau Palue. Alat tersebut sangat dibutuhkan untuk penanganan pascagempa. Beruntung, tidak ada hambatan berarti selama berlayar. Sehingga, bantuan dapat disalurkan dengan baik kepada korban bencana. 

Berpacu dengan waktu


Menjelang keberangkatan, suasana mendadak sibuk menjelang kendaraan pengangkut logistik mulai berdatangan. Satu per satu penumpang juga mulai menaiki kapal.

Para ABK sibuk mengatur agar deretan mobil tersebut masuk dengan aman. Sebab, tidak semua kendaraan bakal menyeberang ke Pulau Palue. Ada yang sekadar mengantar muatan lalu keluar kembali dari kapal.

Insiden sempat terjadi, karena salah satu truk yang mengangkut berton-ton bantuan mengalami kendala. Saat mundur memasuki kapal, ban belakang truk tersebut tersangkut. Terpaksa, truk bermuatan raturan kilogram telur, ratusan dus air mineral, dan ratusan karung beras harus dibongkar di luar kapal.

Proses bongkar berpacu dengan waktu. Sebab, KMP Ile Ape harus bertolak ke Pulau Palue tepat pukul 17.00 Wita. Terlambat beberapa jam saja, akan mengganggu proses bersandar di Pulau Palue karena dipengaruhi ketinggian air.

Mengandalkan enam sampai 10 orang, barang tersebut harus diangkut ke lambung kapal. Bahkan, satu orang harus mengangkat emapt dus air mineral skaligus agar pemindahan barang bantuan bisa dilakukan dengan cepat. Setelah selesai memindahkan air mineral, mereka langsung mengangkat 250 karung beras yang masing-masing memilki berat 50 kilogram dari truk ke lambung kapal.

Di tengah proses pembongkaran tersebut, datang lagi mobil pick up membawa bantuan para relawan yang harus dipindahkan dari dermaga ke kapal. Suasana semakin riuh karena kuli angkut dan para relawan sibuk memindahkan barang ke lambung kapal. Mereka dibantu para petugas menata barang agar ditumpuk dengan rapi.


Logistik untuk korban gempa dikirim ke Pulau Palue menggunakan KMP Ile Ape. Metrotvnews.com/Anggi

Para pengangkut beras harus berlari kecil sambil membawa barang bantuan agar bisa cepat dipindahkan. Terlihat ekspresi lelah dari wajah mereka, namun pemandangan tersebut tak sedikitpun mengurangi semangat mereka sehingga kapal berlayar tepat waktu.

Proses muat barang dan kendaraan akhirnya selesai. Sekitar pukul 17.20 Wita kapal mulai berlayar. Para penumpang dan relawan mulai menaiki geladak kapal. 

Bagian tersebut terdiri atas beberapa ruangan yang dilengkapi kursi dan tempat tidur dua tingkat. Para penumpang bakal menghabiskan waktu selama enam jam menuju Pulau Palue di ruangan tersebut.

Geladak kapal dalam kondisi bersih. Terdapat beberapa tempat sampah di dekat tempat duduk. Sehingga, penumpang dapat dengan mudah membuang sampah agar geladak kapal tetap bersih.

Selain itu, terdapat kantin yang hanya menjual mi instan dan kopi saset yang bakal menemani perjalanan menuju Pulau Palue. Harganya juga tak memberatkan kantong. Dengan Rp20 ribu, penumpang sudah bisa menikmati mi instan dan segelas kopi hangat.

(Achmad Zulfikar Fazli)