Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.
Podium Media Indonesia
Jalan Terjal Iran
Abdul Kohar, Media Indonesia • 6 July 2026 07:32
'ORANG bisa dibunuh, tapi cita-cita tidak bisa dimatikan. Anda membunuh Ayatullah Khamenei, tetapi pada kenyataannya Anda hanya memecahkan sebotol parfum yang aromanya menyebar ke mana-mana. Anda tidak memahami hal-hal seperti ini karena Anda tidak memiliki peradaban, sejarah, dan kehormatan'.
Kalimat di atas ditulis Kedutaan Besar Iran di Armenia melalui akun resmi mereka di X. Tulisan itu menjawab pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut ia bisa saja melenyapkan para pelayat dan pemimpin Iran yang sedang berkumpul di Grand Mosalla, Teheran, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei.
Pekan ini, Iran menggelar pemakaman besar bagi pemimpin tertinggi mereka, Ayatullah Ali Khamenei. Pemimpin Agung Republik Islam Iran itu, beserta sejumlah anggota keluarganya, gugur dalam serangan udara Amerika Serikat. Bagi Teheran, prosesi itu bukan sekadar penghormatan terakhir kepada seorang pemimpin. Ia dijadikan simbol persatuan nasional sekaligus penegasan bahwa hubungan rakyat dengan pemimpin mereka belum tercerabut oleh perang.
Lautan manusia memadati Grand Mosalla. Mereka datang tidak hanya membawa duka, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa sebuah bangsa masih memilih berdiri bersama ketika kehilangan sosok yang selama puluhan tahun menjadi penyangga negara.
Itulah Iran. Sebuah negeri yang sejarahnya nyaris tak pernah menghadiahkan jalan yang rata. Sejak lama ia berjalan di atas bebatuan ujian, tetapi selalu memiliki pijakan yang kukuh berupa warisan peradaban Persia yang berusia ribuan tahun. Peradaban itu tidak hanya hidup dalam buku sejarah, tetapi juga mengalir dalam kesadaran kolektif bangsa mereka.
Ketika monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi runtuh pada 1979, revolusi melahirkan republik baru di bawah kepemimpinan Ayatullah Ruhullah Khomeini. Pemerintahan baru mewarisi kesenjangan ekonomi, birokrasi yang rapuh, dan negara yang belum benar-benar pulih dari gejolak politik.
Belum sempat luka revolusi mengering, perang delapan tahun melawan Irak meledak. Kota-kota dihujani rudal. Anak-anak tumbuh dengan sirene serangan udara yang meraung hampir setiap hari. Dunia menyaksikan, tetapi tidak selalu berpihak. Namun, Iran tidak runtuh.
Sesudah perang, ujian lain datang bergelombang. Sanksi dan embargo ekonomi diberlakukan selama puluhan tahun. Akses terhadap perdagangan internasional, teknologi, hingga sektor energi dipersempit. Banyak yang memperkirakan negeri itu akan lumpuh. Yang terjadi justru sebaliknya. Keterpaksaan perlahan berubah menjadi kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei berlangsung pada 3-9 Juli 2026. (EFE)
Data ekonomi menunjukkan gambaran yang menarik. Produk domestik bruto per kapita Iran berdasarkan paritas daya beli (PPP) berada di kisaran US$16.400 per tahun, sedikit di atas Indonesia yang berada di sekitar US$14.500. Angka itu tentu bukan ukuran tunggal kesejahteraan, tetapi cukup menunjukkan bahwa embargo selama lebih dari empat dekade tidak otomatis mematikan kemampuan sebuah bangsa untuk bertahan.
Di laboratorium, kampus, dan kawasan industri, rakyat Iran belajar membuat apa yang tak lagi bisa mereka beli. Dari obat-obatan hingga satelit, dari teknologi nuklir untuk kepentingan sipil hingga pesawat nirawak, dari rekayasa material hingga ilmu kedokteran. Kekurangan dipaksa berubah menjadi inovasi.
Hal yang sama tampak pada sektor kesehatan. Rasio dokter Iran mencapai sekitar 1,4 hingga 1,7 dokter per 1.000 penduduk, melampaui standar minimal yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia. Indonesia masih berada di kisaran 0,4 hingga 0,7 dokter per 1.000 penduduk. Perbandingan itu menunjukkan investasi jangka panjang pada pendidikan dan kesehatan tetap berjalan meski tekanan ekonomi terus mengimpit.
Embargo juga tidak melahirkan generasi yang kehilangan semangat belajar. Berbagai kajian internasional menempatkan Iran sebagai salah satu negara dengan tingkat kemampuan kognitif yang relatif tinggi. Terlepas dari perdebatan mengenai metodologi pengukuran IQ, satu hal sulit dibantah, bahwa negeri itu berhasil mempertahankan tradisi pendidikan, riset, dan pengembangan ilmu pengetahuan di tengah tekanan yang berkepanjangan.
Di balik semua itu terdapat satu pelajaran penting tentang kepemimpinan. Krisis dijadikan ruang pembentukan karakter. Kesederhanaan dipelihara sebagai laku, integritas dijaga sebagai fondasi, dan pembangunan diarahkan ke institusi, bukan semata-mata ketokohan. Karena itu, ketika seorang pemimpin gugur, negara tidak otomatis kehilangan arah.
Iran memahami bahwa daya tahan bangsa tidak lahir dari kenyamanan. Ia ditempa guncangan yang berulang. Dari setiap ilmuwan yang gugur, lahir ilmuwan baru. Dari setiap pemimpin yang pergi, muncul generasi berikutnya yang melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Pepatah lama, patah tumbuh, hilang berganti, agaknya menemukan maknanya di negeri itu. Sejarah telah berkali-kali menguji Iran. Berkali-kali pula negeri itu memilih bangkit meski harus menempuh jalan yang selalu terjal. Kita tertarik menirunya?