Lahan TPSA Kuningan Terbakar, BNPB: 200 Personel Dikerahkan

Ilustrasi-Petugas melakukan pemadaman kebakaran lahan di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Pasirbajing, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Minggu, 2 Agustus 2026. ANTARA/HO-Disdamkar Garut

Lahan TPSA Kuningan Terbakar, BNPB: 200 Personel Dikerahkan

Lukman Diah Sari • 14 August 2026 18:18

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa kebakaran lahan terjadi di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPSA) Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Kebakaran tersebut masih dalam penanganan tim gabungan.

"Area yang terbakar diperkirakan sekitar lima hektare dan upaya pemadaman dilakukan oleh sekitar 200 personel," ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, dalam siaran pers, Jumat, 14 Agustus 2026.

Ia menerangkan bahwa evaluasi penanganan lanjutan dilakukan berdasarkan hasil *briefing* dan perkembangan kondisi di lapangan. Sementara itu, kata dia, sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau dan potensi El Nino, BNPB bersama pemerintah daerah terus memperkuat upaya mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pembangunan sumur bor, pipanisasi, serta dukungan distribusi air bersih di wilayah yang mengalami kekeringan.

"Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bersih sekaligus mengurangi risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta dampak lanjutan terhadap masyarakat dan sektor pertanian," jelas dia.

Ilustrasi-Petugas memadamkan api di TPA Ciniru, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan. (MI/UL)

BNPB mengimbau seluruh unsur untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah maupun kering melalui penguatan pemantauan dan deteksi dini terhadap banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, serta kebakaran hutan dan lahan.

Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap perubahan cuaca, menggunakan air secara bijak, tidak melakukan pembakaran lahan, serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah, BPBD, BMKG, dan instansi terkait. Kesiapsiagaan dan respons cepat diperlukan untuk meminimalkan risiko serta dampak bencana.

(Lukman Diah Sari)