Observatorium Boscha di Lembang, Jawa Barat. Istimewa
Observatorium Bosscha Siapkan Pengamatan Hilal 1 Syawal di 2 Lokasi
Roni Kurniawan • 18 March 2026 10:12
Bandung: Astronom dari Observatorium Bosscha akan melakukan pengamatan hilal di dua lokasi berbeda untuk mendokumentasikan visibilitas bulan sabit muda menjelang penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah. Pengamatan bakal dilakukan pada Kamis, 19 Maret 2026.
Peneliti Observatorium Bosscha Yatny Yulianty mengatakan pengamatan dilakukan menggunakan teleskop dan instrumen pencitraan di Lembang serta di Observatorium Lhok Nga, Aceh. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Kementerian Agama Republik Indonesia.
Yatny menjelaskan secara astronomis kondisi hilal saat ini berada pada batas yang menantang untuk diamati.
"Keberhasilan pengamatan sangat dipengaruhi kondisi atmosfer, transparansi langit, serta pengalaman dan metode pengamatan," ujar Yatny dalam keterangan tertulis, Rabu, 18 Maret 2026.
Yatny yang juga Koordinator Kegiatan Publik Divisi Pendidikan dan Penjangkauan Publik Observatorium Bosscha menuturkan lokasi Lhok Nga dipilih karena parameter posisi Bulan di wilayah Aceh berada di sekitar ambang kriteria visibilitas hilal yang digunakan saat ini. Hal ini menjadikan pengamatan di wilayah tersebut penting untuk memverifikasi batas kriteria melalui observasi langsung.
Menurut Yatny, kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian jangka panjang Observatorium Bosscha untuk memperkaya basis data pengamatan hilal di Indonesia.
Berdasarkan perhitungan astronomis, pada 19 Maret 2026 yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H, posisi Bulan berada sangat dekat dengan Matahari saat terbenam di langit Barat. Elongasi geosentrik di Indonesia berkisar antara 4,6 derajat hingga 6,2 derajat, sementara elongasi toposentrik berada pada kisaran 4,0 derajat hingga 5,5 derajat.

Pemantauan hilal. Foto: Metrotvnews.com/Rhobi Sani.
Selain itu, ketinggian bulan saat matahari terbenam tergolong rendah, yakni sekitar 0 hingga 3 derajat di atas ufuk untuk wilayah Indonesia bagian Barat. Kondisi ini menunjukkan hilal berada sangat dekat dengan Matahari dan sulit diamati.
Yatny menegaskan penetapan awal bulan Hijriah, termasuk 1 Syawal 1447 H, tetap menjadi kewenangan pemerintah melalui sidang isbat yang digelar Kementerian Agama Republik Indonesia pada 19 Maret 2026.
"Observatorium Bosscha berperan menyampaikan hasil perhitungan, pengamatan, dan penelitian hilal sebagai masukan ilmiah dalam proses penentuan tersebut," kata Yatny.