Kontroversi Spanduk Las Malvinas son Argentinas hingga Ancaman Sanksi FIFA

Para pemain Argentina merayakan kemenangan semifinal Piala Dunia FIFA 2026 atas Inggris dengan memegang spanduk Kepulauan Falkland di Atlanta pada hari Kamis, 16 Juli 2026. (X/@VickyVillarruel)

Kontroversi Spanduk Las Malvinas son Argentinas hingga Ancaman Sanksi FIFA

Riza Aslam Khaeron • 16 July 2026 16:41

Jakarta: Timnas Argentina kini menghadapi ancaman sanksi serius dari FIFA setelah para pemainnya merayakan kemenangan di babak semifinal Piala Dunia dengan membentangkan spanduk berisi klaim kedaulatan atas Kepulauan Falkland (Malvinas).

Mengutip BBC, peristiwa ini terjadi di Atlanta pada Selasa, 14 Juli 2026 malam waktu setempat, sesaat setelah sang juara bertahan mencetak dua gol dramatis di menit-menit akhir untuk menundukkan tim asuhan Thomas Tuchel dengan skor 2-1, sekaligus mengamankan tiket ke final melawan Spanyol pada Senin mendatang.

Begitu peluit panjang berbunyi, skuad Argentina merayakan kemenangan sembari membentangkan spanduk bertuliskan Las Malvinas son Argentinas yang berarti Kepulauan Falkland adalah milik Argentina. Aksi serupa sebenarnya pernah mereka lakukan menjelang laga persahabatan melawan Slovenia pada 2014 silam.

Kala itu, FIFA menjatuhkan denda sebesar £20.000 (sekitar Rp486 juta) kepada Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) karena dinilai melanggar aturan ketat terkait larangan pesan politik dan perilaku tim yang tidak semestinya.

Selain pembentangan spanduk di semifinal, para pemain Argentina kabarnya juga sempat menyanyikan yel-yel bernada serupa yang menyinggung isu Falkland di ruang ganti, mengaitkannya dengan duo legenda mereka, Diego Maradona dan Lionel Messi, pascakemenangan dramatis 3-2 atas Mesir di babak 16 besar lalu.

Apa itu Kepulauan Falkland?

class=big_center
Peta lokasi kepulauan Falklands, tenggara dari Argentina. (Wikimedia Commons)

Kepulauan Falkland, yang berstatus sebagai wilayah seberang laut Inggris di barat daya Samudra Atlantik, hingga kini memang masih menjadi episentrum sengketa kedaulatan yang sensitif antara Inggris dan Argentina.

Berjarak sekitar 300 mil dari pesisir timur Argentina, kedua negara sempat terlibat perang terbuka memperebutkan wilayah tersebut sepanjang bulan April hingga Juni 1982.
Konflik bersenjata selama 74 hari itu merenggut nyawa 655 tentara Argentina, 255 tentara Inggris, serta tiga warga sipil setempat.

Menanggapi aksi para pemain di lapangan, Wakil Presiden Argentina, Victoria Villarruel, langsung menunjukkan dukungannya melalui platform X.

Ini bukan sekadar pertandingan lain, tulisnya sembari mengunggah video yang menampilkan para tentara Argentina.

Kepulauan Falkland adalah milik Argentina. Mereka melarang membawanya ke stadion dan lupa bahwa kami membawanya dalam darah dan hati kami, tambahnya.

Jauh sebelum laga dimulai, Villarruel memang sudah memanaskan atmosfer dengan menyatakan bahwa laga semifinal ini adalah tentang menempatkan para penjajah pada tempatnya.

Pernyataan tersebut kian mempertebal ketegangan menjelang sepak mula, yang bahkan memaksa pihak keamanan memperketat penjagaan di sekitar stadion akibat sensitivitas historis kedua negara.
 
Baca Juga:
Pecahkan Rekor Lagi, Messi Pemain dengan Assist Terbanyak di Piala Dunia 

Protes dari Pemerintah Inggris

Setelah kejadian tersebut, Menteri Negara untuk Bisnis dan Perdagangan Inggris, Peter Kyle, mengecam keras pembentangan spanduk tersebut dengan menyebutnya sama sekali tidak pantas. Ia pun mendesak FIFA untuk segera melakukan investigasi mendalam atas insiden ini.

Saya pikir investigasi pasti akan terjadi karena ini merupakan pelanggaran aturan yang sangat jelas tentang tidak adanya aktivitas politik sebagai bagian dari sepak bola, ujar Kyle saat diwawancarai oleh BBC Breakfast.

Kendati tensi politik di luar lapangan begitu mendidih, pelatih Timnas Argentina, Lionel Scaloni, justru mengambil sikap berseberangan sebelum laga semifinal dimulai. Ia menegaskan komitmennya untuk tidak akan mencampurkan urusan sepak bola dengan politik praktis.

Kenyataannya, ini adalah pertandingan sepak bola. Saya tidak bisa mencampurkan segalanya, terutama untuk menghormati apa yang terjadi bertahun-tahun lalu, tutur Scaloni.

Itu adalah periode yang sangat menyedihkan dalam sejarah kami, dan tidak banyak yang bisa kami lakukan tentang itu, itulah kenyataannya. Hal-hal terjadi di tempat lain di dunia, dan kami mengkritik adanya perang. Kami pasti mengingat orang-orang itu, tentu saja. Tapi ini adalah pertandingan sepak bola - kami tidak boleh mengacaukan keduanya, ia menambahkan.

(Riza Aslam Khaeron)