Ilustrasi - Kilang minyak lepas pantai. ANTARA/Shutterstock
Pertamina Dinilai Mampu Berperan Besar dalam Pengelolaan Blok Masela
Achmad Zulfikar Fazli • 20 July 2026 18:59
Jakarta: Pertamina melalui Sub Holding Upstream PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dinilai mampu berperan besar dalam pengelolaan proyek raksasa Blok Masela. Pembangunan proyek tersebut telah resmi berjalan usai peletakan batu pertama oleh Presiden Prabowo Subianto pada pekan lalu.
“PHE berpotensi memberi kontribusi besar karena memiliki pengalaman mengelola proyek hulu migas nasional,” kata anggota Komisi XII DPR Sartono Hutomo, Jakarta, Senin, 20 Juli 2026.
Proyek Blok Masela sempat tertunda selama 28 tahun sejak kontrak bagi hasil pertama kali ditandatangani pada 1998. Setelah penantian panjang itu, Blok Masela memasuki babak baru seiring masuknya PHE dengan hak partisipasi sebesar 20 persen pada 2023.
Keikutsertaan Pertamina memberikan dorongan terhadap persetujuan revisi Plan of Development (POD) dari pemerintah pada November 2023.
Menurut Sartono, kehadiran PHE di Blok Masela harus menghasilkan nilai tambah lebih, bukan sekadar kepemilikan saham. Kontribusi PHE yang memiliki hak partisipasi 20 persen di lapangan abadi tersebut juga harus terukur.
Menurut Sartono, pada fase konstruksi, peran besar PHE di antaranya dapat dilakukan melalui peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Selain itu, melalui keterlibatan industri nasional, transfer teknologi, dan pengendalian biaya proyek yang memiliki nilai investasi USD20,94 miliar.
Sartono mengatakan PHE memiliki SDM yang kompeten. Oleh karena itu, dia berharap PHE mempunyai kemampuan mengembangkan aspek teknis, lingkungan, dan komersial.
Namun, Sartono mengingatkanBlok Masela merupakan proyek LNG kelas dunia yang menuntut standar ESG dan daya saing komersial tinggi. Dalam kondisi itu, lanjut dia, tantangannya adalah menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus memastikan proyek tetap kompetitif di pasar LNG global.
“Karena itu, penguatan kolaborasi teknologi dan tata kelola menjadi kunci,” tegas Sartono.
“Kita tentu bangga. Namun, kebanggaan itu harus dibuktikan melalui manfaat nyata bagi rakyat, yaitu pasokan gas untuk industri dan kelistrikan dalam negeri. Bukan hanya keberhasilan membangun proyek atau meningkatkan ekspor LNG,” ujar Sartono.
Sementara itu, anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, menilai positif keterlibatan Pertamina melalui PHE dalam pengelolaan Blok Masela.
Selain berpotensi meningkatkan produksi migas nasional, kebaradaan PHE di blok tersebut membuat Indonesia sangat diuntungkan karena mendapat double split atau pembagian produksi ganda.
“Jadi positif banget ini,” jelas Satya.
Satya berharap proyek ini bisa berjalan lancar. Terlebih, proyek ini sempat tertunda cukup lama.
“Ya, kita doakan lancar. Karena kan sudah terlambat lama,” ucap Satya.

Ilustrasi. Foto: Freepik
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) Lapangan Abadi Blok Masela di Maluku, Kamis, 16 Juli 2026. Peresmian itu menandai dimulainya fase baru pengembangan cadangan gas raksasa tersebut.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, proyek strategis nasional LNG Abadi Masela menyumbang penerimaan negara hingga USD37,8 miliar.
“Proyek Abadi Masela diproyeksikan memberikan manfaat ekonomi dan fiskal yang signifikan, antara lain meningkatkan penerimaan negara dengan proyeksi pendapatan langsung sekitar USD37,8 miliar,” ujar Bahlil dalam Groundbreaking Proyek Strategis Nasional LNG Abadi Masela di Tanimbar, Maluku, Kamis, 16 Juli 2026.
Di sisi lain, kontribusi pajak tidak langsung diperkirakan mencapai sekitar USD6,43 miliar.
Lapangan gas dengan potensi cadangan mencapai 18,54 triliun kaki kubik (TCF) tersebut merupakan PSN dengan nilai investasi sekitar USD20,9 miliar atau setara Rp352 triliun.