IES 2026: Airlangga Tegaskan Posisi Indonesia sebagai Middle Power Global

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Indonesia Economic Summit di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026. (Metrotvnews.com)

IES 2026: Airlangga Tegaskan Posisi Indonesia sebagai Middle Power Global

Willy Haryono • 3 February 2026 12:00

Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai kekuatan menengah (middle power) yang stabil di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.

Hadir dalam forum Indonesia Economic Summit 2026 di Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026, Airlangga memaparkan strategi pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Airlangga menekankan bahwa di tengah dominasi kekuatan besar (superpower) dunia, Indonesia tetap konsisten menjalankan peran sebagai negara non-blok untuk menjaga keseimbangan kekuatan. 

"Dunia saat ini tidak lagi hanya didasarkan pada ideologi ekonomi, melainkan pada realisme politik," ujarnya mengutip pesan Presiden Prabowo.

Pemerintah mencatat terdapat sejumlah indikator ekonomi positif yang memperkuat resiliensi nasional. Pertama, terdapat Indeks Manajer Pembelian (PMI) yang berada di level ekspansi 52,6 pada Januari dan telah bertahan selama enam bulan terakhir dan kepercayaan konsumen, meningkat ke angka 123,5.

Sementara itu neraca perdagangan mencatat, terjadi surplus selama 68 bulan berturut-turut dalam lima tahun terakhir. Sedangkan, cadangan devisa, berada di atas 142 miliar dolar AS (sekitar Rp2.3 triliun) cukup untuk membiayai impor lebih dari enam bulan.

Selain itu, Airlangga mengumumkan reformasi pasar modal yang berfokus pada empat pilar, Likuiditas, Transparansi, Tata Kelola (Governance), dan Penegakan Hukum (Enforcement). Respons positif pasar terlihat dengan kembalinya zona hijau pada lantai bursa.

Salah satu mesin pertumbuhan yang disoroti adalah program makan gratis yang ditargetkan mencapai 83 juta orang pada akhir tahun. Airlangga memproyeksikan belanja program ini mencapai Rp80 triliun setiap kuartal dan mampu menciptakan sekitar tiga juta lapangan kerja baru.

"Program ini setara dengan kontribusi pertumbuhan sebesar tujuh persen jika rantai pasoknya berjalan efektif," jelasnya.

Dalam aspek kerja sama internasional, Indonesia memperkuat kemitraan di berbagai sektor strategis, seperti berkolaborasi dengan Malaysia dalam sektor semikonduktor dan bekerja sama dengan Russell Group untuk membangun 10 universitas baru yang berfokus pada bidang STEM dan kedokteran.

Dalam sektor energi hijau, Indonesia akan memfinalisasi rencana ekspor energi hijau ke Singapura serta pengembangan hidrogen bersama Sarawak. Selain itu, Indonesia akan menyepakati sanksi dan kerja sama perdagangan melalui skema SEPA dengan Kanada, Uni Eropa, Eurasia, serta persiapan dengan Inggris dan Amerika Serikat.

Menutup pidatonya, Airlangga menekankan bahwa kekuatan sebuah negara ditentukan oleh empat faktor utama, yaitu ekonomi, militer, populasi, dan teknologi. Dengan pondasi ini, Indonesia optimistis melangkah menuju visi Indonesia Emas 2045 melalui manufaktur bernilai tambah tinggi dan sektor jasa yang kuat. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Indonesia Economic Summit 2026 Resmi Dibuka, Soroti Tantangan Ekonomi Global

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)