Ilustrasi, program B50 menjadi peluang strategis dalam mendorong ketahanan energi. Foto: dok Kementerian ESDM.
Diplomasi Jaga Ketahanan Energi Nasional
Husen Miftahudin • 9 October 2026 06:31
Jakarta: Pakar energi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Ary Bachtiar mengapresiasi langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia dalam memperkuat diplomasi energi dengan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Rusia.
Menurut Ary, diplomasi energi tersebut penting untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi mengganggu pasokan dan harga energi.
"Diplomasi yang dilakukan Menteri ESDM ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Rusia, merupakan langkah taktis jangka pendek yang sangat krusial untuk mengamankan pasokan fisik atau supply security dan kepastian harga atau price stability," ujar Ary seperti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat, 9 Oktober 2026.
Ary menilai strategi Bahlil tidak hanya mengandalkan diplomasi internasional, tetapi juga dibarengi dengan upaya meningkatkan produksi minyak dan mengembangkan bahan bakar nabati melalui program B50 dan E50. Menurut dia, kombinasi kebijakan tersebut dapat menjawab tantangan ketahanan energi dari sisi pengamanan pasokan dalam jangka pendek sekaligus memperkuat kemandirian energi dalam jangka panjang.
"Kombinasi tersebut merupakan kebijakan yang sangat tepat dan komprehensif karena menyerang masalah dari dua sisi sekaligus, yakni mengamankan keran pasokan luar negeri dalam jangka pendek dan melepaskan ketergantungan melalui substitusi domestik dalam jangka menengah hingga panjang," jelas dia.
Meski demikian, Ary mendorong pemerintah bergerak cepat mencari sumber minyak mentah dengan keekonomian terbaik dari berbagai negara. Langkah tersebut diperlukan agar kilang domestik, seperti Cilacap, Balongan, dan Balikpapan, tetap memperoleh pasokan bahan baku yang memadai.
Menurutnya, diplomasi energi juga perlu diikuti percepatan modernisasi kilang dan pembenahan tata kelola sektor hulu minyak dan gas bumi (migas). Upaya tersebut penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari luar negeri.
"Diplomasi yang dilakukan Menteri ESDM ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Rusia, merupakan langkah taktis jangka pendek yang sangat krusial untuk mengamankan pasokan fisik atau supply security dan kepastian harga atau price stability," ujar Ary seperti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat, 9 Oktober 2026.
Ary menilai strategi Bahlil tidak hanya mengandalkan diplomasi internasional, tetapi juga dibarengi dengan upaya meningkatkan produksi minyak dan mengembangkan bahan bakar nabati melalui program B50 dan E50. Menurut dia, kombinasi kebijakan tersebut dapat menjawab tantangan ketahanan energi dari sisi pengamanan pasokan dalam jangka pendek sekaligus memperkuat kemandirian energi dalam jangka panjang.
"Kombinasi tersebut merupakan kebijakan yang sangat tepat dan komprehensif karena menyerang masalah dari dua sisi sekaligus, yakni mengamankan keran pasokan luar negeri dalam jangka pendek dan melepaskan ketergantungan melalui substitusi domestik dalam jangka menengah hingga panjang," jelas dia.
Meski demikian, Ary mendorong pemerintah bergerak cepat mencari sumber minyak mentah dengan keekonomian terbaik dari berbagai negara. Langkah tersebut diperlukan agar kilang domestik, seperti Cilacap, Balongan, dan Balikpapan, tetap memperoleh pasokan bahan baku yang memadai.
Menurutnya, diplomasi energi juga perlu diikuti percepatan modernisasi kilang dan pembenahan tata kelola sektor hulu minyak dan gas bumi (migas). Upaya tersebut penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari luar negeri.
B50 dan E50 jadi alternatif energi domestik
Ary menilai pengembangan biodiesel dan bioetanol melalui program B50 dan E50 menjadi peluang strategis untuk memanfaatkan sumber daya domestik. Bahan baku seperti kelapa sawit, tebu, dan singkong dapat dikembangkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi nasional.
Namun, implementasi program tersebut tetap perlu memperhatikan kesiapan industri dan keberlanjutan lingkungan. Pemerintah juga perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan pangan agar pengembangan bahan bakar nabati tidak menimbulkan persoalan baru.
Selain pengamanan pasokan, Ary menilai integrasi kebijakan sektor ESDM dengan agenda hilirisasi menjadi langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan energi Indonesia.
Menurutnya, penyatuan koordinasi tersebut dapat mempercepat pengembangan industri pengolahan sumber daya alam di dalam negeri. Hilirisasi gas bumi dan batu bara, misalnya, berpotensi menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
"Penyatuan portofolio sektor ESDM dan koordinasi hilirisasi di bawah satu komando merupakan langkah strategis yang tepat. Integrasi ini memastikan bahwa rantai nilai energi kita berjalan utuh, dari perut bumi dikelola, diolah di dalam negeri, hingga menjadi produk bernilai tambah tinggi," kata Ary.
(Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto: dok Setneg)
Bahlil soroti dampak geopolitik
Sebelumnya, Bahlil menegaskan pentingnya memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global. Konflik di berbagai wilayah dunia dinilai berdampak terhadap rantai pasok industri dan harga energi.
Bahlil mengatakan ketegangan geopolitik tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat langsung dalam konflik, tetapi juga merembet ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
"Saya ingin menekankan, dalam kondisi geopolitik yang terjadi sekarang, yang tidak menentu, melahirkan ketidakpastian di hampir semua dunia. Dan geopolitik ini tidak hanya menjadi ketegangan antara Amerika, Israel, Palestina, Ukraina, dan Rusia," kata Bahlil dalam acara Investor Daily Summit 2026, Rabu, 7 Oktober 2026.
"Betul mereka yang sedang bersengketa, tetapi dampaknya itu hampir semua, termasuk Indonesia," tambah dia.
Menurut Bahlil, ketidakpastian geopolitik turut memengaruhi rantai pasok industri dan harga bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah juga terus berkomunikasi dengan kementerian energi dari berbagai negara untuk memantau perkembangan situasi global.
"Bagaimana rantai pasok industri, bagaimana harga BBM-nya melambung, dan saya pun melakukan komunikasi lintas negara dengan kementerian-kementerian energi di dunia. Hampir dapat dipastikan tidak ada yang bisa menjawab kapan selesai persoalan yang terjadi. Tidak ada yang bisa meramalkan itu," kata dia.
Kondisi tersebut membuat diplomasi energi, peningkatan produksi migas, pengembangan energi berbasis sumber daya domestik, serta hilirisasi menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat ketahanan energi Indonesia menghadapi ketidakpastian global.