Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ogan Komering Ilir (OKI) Irwan Sandi. Foto: Bakom RI.
Aksi Heroik Irwan Sandi, Tak Berhenti Padamkan Karhutla Sejak Juni
Siti Yona Hukmana • 22 October 2026 13:13
Jakarta: Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dilakukan pemerintah sudah berlangsung lama. Penanganan dilakukan dari mitigasi hingga pemadaman api jauh-jauh hari.
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ogan Komering Ilir (OKI) Irwan Sandi menjadi saksi. Bersama anggota gabungan lainnya, Irwan sudah diterjunkan memadamkan api di Desa Cengal, OKI, Sumatra Selatan, sejak Juni 2026.
Hingga pertengahan Oktober ini, Irwan dan anggota Satgas tetap berjibaku memadamkan api. Di mana ada api, di situ Irwan dan tim berada. Ritualnya pun tetap sama, yakni sebelum terjun ke lapangan, Irwan harus memastikan sejumlah perlengkapan di Kantor BPBD OKI.
“Kalau persiapan untuk APD-nya mulai dari helm, masker, hingga sepatu boots. Sesudah itu baru peralatan. Menyusun personel, persiapan personel, setelah lengkap, mulai berangkat,“ kata Irwan ditemui sebelum memulai aktivitas memadamkan api, dalam keterangan tertulis, Kamis, 22 Oktober 2026.
Irwan sudah bergabung sebagai petugas BPBD OKI sejak 2018. Terhitung dari awal bergabung di BPBD, Irwan sudah menangani empat siklus karhutla.
“Pada 2018, 2021, 2023, dan sekarang terjadi di 2026,” kata Irwan.

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Foto: BPBD Aceh Barat.
Menurut Irwan, upaya pemadaman karhutla melalui operasi darat yang diinstruksikan Presiden Prabowo Subianto dinilai efektif. Apalagi dalam upaya memadamkan api di lahan gambut, yang sumber api tidak berada di permukaan, melainkan di dalam tanah.
“Kalau tanah mineral tidak memerlukan upaya lebih untuk pemadaman. Hanya perlu disiram dan langsung padam. Berbeda halnya di lahan gambut, ada teknik khusus untuk pemadamannya agar tidak menjalar ke lahan yang belum terbakar,” kata Irwan.
Untuk lahan gambut, kata Irwan, upaya pemadaman via udara atau waterbombing tidak akan meredakan kebakaran yang terjadi.
Sebagai seorang suami dan ayah, tentu Irwan sering meninggalkan keluarganya di rumah. Rasa rindu terhadap keluarga merupakan salah satu harga yang harus dibayar selama menjalankan tugas.
Jika rindu datang, Irwan kadang menelepon. Namun, dengan kondisi lapangan yang tidak menentu, komunikasi antara Irwan dengan keluarga di rumah tidak berjalan mulus akibat sinyal yang terbatas.
“Pasti (berkomunikasi), tapi kalau ada sinyal. Karena, secara keberadaan saya pasti di dalam hutan,” kata dia.
Meski begitu, Irwan mencoba menenangkan anak dan istrinya dengan rutin berkomunikasi. Dia juga selalu meminta keluarganya untuk mendoakan agar selalu diberikan keselamatan, kesehatan, dan keberhasilan bekerja.
“Untuk ibu (istri) di rumah dan anak-anak, doakan Ayah supaya sehat dan selamat dalam bekerja,” ujar Irwan.
Kisah lengkap Irwan sebagai garda terdepan pemadaman karhutla di Sumatra Selatan dapat disaksikan selengkapnya dalam program Podcast Sinergi Indonesia di saluran YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI.