Ilustrasi. Foto: Dok istimewa
Kinerja Industri Tekstil Moncer, Tumbuh 4,37% di Kuartal IV 2025
Eko Nordiansyah • 5 February 2026 17:53
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 dan kinerja ekonomi sepanjang 2025. Salah satu sorotan utama adalah sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang menunjukkan pemulihan signifikan. Pada kuartal IV-2025, subsektor ini tercatat tumbuh 4,37 persen secara tahunan (year-on-year).
Pertumbuhan ini dinilai sebagai sinyal kuat fondasi industri tekstil nasional masih kokoh dan memiliki daya tahan tinggi. Sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai tepat sasaran turut menjadi penopang, mulai dari penguatan pengawasan impor, penataan perizinan, dukungan pembiayaan, hingga insentif fiskal bagi industri padat karya.
Perwakilan Aliansi Masyarakat Tekstil Indonesia (AMKI) Iqbal menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Keuangan yang dinilai konsisten berpihak pada industri tekstil nasional. Menurut dia, kebijakan yang pro-industri telah membantu menjaga stabilitas produksi, mempertahankan tenaga kerja, dan meningkatkan utilisasi pabrik.
“Langkah-langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan pembangunan industri nasional yang menempatkan sektor padat karya sebagai prioritas. Ini bukti nyata keberpihakan terhadap industri strategis benar-benar dijalankan, bukan sekadar wacana,” ujarnya di Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.
Baca Juga :
Angka Pengangguran RI Turun, Jumlah Pekerja Capai 147,91 Juta Orang

(Ilustrasi industri tekstil. Foto: Dok istimewa)
Permintaan domestik meningkat
Selain faktor kebijakan, pelaku industri juga mencatat adanya perbaikan pada sisi permintaan domestik, terutama menjelang akhir tahun yang biasanya didorong oleh musim belanja dan kebutuhan seragam, fashion, serta perlengkapan tekstil rumah tangga. Beberapa pabrikan bahkan mulai meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap untuk mengantisipasi potensi kenaikan permintaan pada semester I-2026.Meski demikian, AMKI mengingatkan tantangan global belum sepenuhnya reda. Persaingan dengan produk impor berharga murah, fluktuasi nilai tukar, serta ketidakpastian ekonomi global masih menjadi faktor risiko yang perlu diantisipasi bersama. Oleh karena itu, kesinambungan kebijakan proteksi yang terukur dan berbasis data dinilai penting agar momentum pertumbuhan tidak terhenti.
Iqbal juga menyinggung adanya pihak-pihak tertentu yang dinilai kerap menyampaikan narasi negatif terhadap capaian industri tekstil nasional. Ia menyatakan, kritik yang tidak berbasis data justru dapat mengganggu persepsi pasar dan iklim investasi.
Menurutnya, kepentingan nasional harus diutamakan, terlebih industri tekstil telah menyerap jutaan tenaga kerja. Ke depan, pelaku industri berharap pemerintah terus memperkuat ekosistem hulu hingga hilir, termasuk pengembangan bahan baku dalam negeri, modernisasi mesin produksi, serta peningkatan daya saing melalui efisiensi energi dan digitalisasi manufaktur.
“Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah dan dunia usaha, tren positif pada kuartal IV 2025 diharapkan menjadi pijakan kuat untuk pertumbuhan yang lebih berkelanjutan di 2026,” tegas dia.