KLB Campak di Cirebon, Dinkes Gencarkan Imunisasi

Ilustrasi campak. (Freepik)

KLB Campak di Cirebon, Dinkes Gencarkan Imunisasi

Lukman Diah Sari • 15 April 2026 19:59

Cirebon: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon, Jawa Barat, menggencarkan pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) untuk menekan penyebaran kasus campak yang masih ditemukan hingga awal 2026 di wilayahnya. Kepala Dinkes Kota Cirebon Siti Maria Listiawaty mengatakan, penanganan kasus campak dilakukan melalui sejumlah tahapan mulai dari survei, kajian epidemiologi, hingga koordinasi dengan pemerintah provinsi dan Kementerian Kesehatan.

“Setelah itu kami melaporkan ke pimpinan daerah, melakukan survei cepat komunitas, sampai pelaksanaan ORI sebagai respons kejadian luar biasa (KLB) di Kota Cirebon,” kata Siti  di Cirebon, Rabu, 15 April 2026, melansir Antara.

Kepala Dinkes Kota Cirebon Siti Maria Listiawaty (tengah) saat memberikan keterangan di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (15/4/2026). ANTARA/Fathnur Rohman.

Ia menjelaskan, setelah penetapan KLB campak pada 20 Februari 2026, pihaknya juga mengevaluasi capaian ORI yang belum memenuhi target sehingga dilakukan perpanjangan selama satu minggu. Selanjutnya, Dinkes melaksanakan catch up campaign (CUC) untuk mengejar target imunisasi yang belum tercapai, dan hasilnya dinyatakan sudah memenuhi sasaran.

Ia merinci berdasarkan data, jumlah suspek campak di Kota Cirebon pada 2025 tercatat sebanyak 238 kasus, kemudian dari hasil pemeriksaan laboratorium terkonfirmasi sebanyak 44 kasus. Maria menuturkan, pada 2026 hingga minggu ke-13 atau per 4 April, jumlah suspek mencapai 150 kasus, yang menunjukkan masih tingginya temuan kasus secara klinis.

“Adapun pada 2026, dari 150 kasus suspek, yang terkonfirmasi positif laboratorium sebanyak sembilan kasus,” jelas dia.

Ia menyebutkan tren kasus campak saat ini mulai melandai, namun status KLB belum dapat dihentikan sebelum melewati dua kali masa inkubasi tanpa kasus baru.

“Masa inkubasi campak 14 hari, sehingga jika 28 hari tidak ada kasus, maka status KLB bisa dinyatakan selesai,” ungkap Siti.

Maria menambahkan untuk sebaran wilayah, kasus suspek tertinggi pada 2026 ditemukan di Kelurahan Argasunya sebanyak 30 kasus. Kemudian disusul Kalijaga 28 kasus, serta Majasem dan Pegambiran masing-masing 10 kasus.

“Terdapat pula wilayah yang tidak mencatatkan kasus selama 2026, seperti di wilayah kerja Puskesmas Pekalangan dan Perumnas,” ucap dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)