Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hammam Riza. Foto: tangkapan layar YouTube Medcom.
BRIN Ungkap Strategi Indonesia Hadapi Era Agentic AI
Ade Hapsari Lestarini • 10 September 2026 22:24
Jakarta: Indonesia perlu memperkuat kapasitas riset dan teknologi untuk menghadapi perkembangan agentic artificial intelligence (AI). Kesiapan tersebut tidak cukup hanya diukur dari kemampuan menggunakan AI, tetapi juga dari kemampuan mengembangkan, mengamankan, dan mengendalikan teknologi.
Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hammam Riza mengatakan perkembangan AI masih terus berlangsung. Karena itu, Indonesia perlu membangun kesiapan melalui riset, inovasi, hingga pemanfaatan teknologi di masyarakat.
Menurut Hammam, pengembangan teknologi nasional tidak dapat hanya berfokus pada AI. Ada empat teknologi yang perlu dikembangkan, yaitu semikonduktor, artificial intelligence, biogenomik, dan komputasi kuantum.
AI berperan dalam transformasi digital di berbagai sektor, termasuk layanan publik, kesehatan, pendidikan, keuangan, dan pemerintahan. Sementara biogenomik dapat memanfaatkan AI dan analisis data untuk memahami informasi biologis.
Adapun komputasi kuantum berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan komputasi, keamanan, pengembangan material, hingga penemuan obat.
"Indonesia tidak boleh berhenti sebagai pengguna teknologi. BRIN bersama ekosistem riset dan inovasi nasional mendorong research engine untuk mengubah riset menjadi pengetahuan, teknologi, prototipe, kekayaan intelektual, hingga berdampak bagi masyarakat,” kata Hammam dalam diskusi Techpresso: Agentic AI, Are We Ready?, di Gedung Media Group, Jakarta, Kamis, 10 September 2026.
Hilirisasi riset jadi kunci
Hammam mengatakan kesiapan AI tidak hanya dapat dilihat dari jumlah publikasi ilmiah, tetapi juga dari kemampuan mengubah pengetahuan menjadi teknologi yang dapat digunakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sejumlah riset BRIN telah diarahkan pada pemanfaatan AI, mulai dari computer vision, machine learning, predictive model, autonomous electric vehicle, drug discovery, quantum machine learning, hingga environmental prediction.
Salah satu penerapannya adalah electronic voting untuk pemilihan kepala desa yang telah berjalan di 28 kabupaten dan 15 provinsi. BRIN juga mengembangkan face recognition, biometrik, dan surveillance melalui electronic identity atau e-KTP.

Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital BRIN Hammam Riza. Foto: Citra Larasati/Medcom.id.
Baca Juga :
Agentic AI Makin Mandiri, Perusahaan Sudah Siap?
Dalam bidang computer vision, BRIN mengembangkan AI yang tidak hanya mengenali manusia, tetapi juga artefak warisan budaya seperti arca dan patung melalui heritage biometrics.
Teknologi tersebut digunakan untuk membantu digitalisasi dan identifikasi warisan budaya Indonesia. Data tersebut menjadi salah satu aset yang dapat dikembangkan dalam riset dan pemanfaatan AI.
Sementara itu, machine learning dikembangkan dari sekadar mengenali menjadi memprediksi dan membantu pengambilan keputusan. Penerapannya mencakup deteksi kanker, prediksi target obat, kendaraan otonom, hingga prediksi usia baterai kendaraan listrik.
Keamanan menjadi bagian pengembangan AI
Seiring semakin luasnya penggunaan AI, terutama agentic AI, kebutuhan terhadap keamanan juga meningkat. Aspek yang perlu diperhatikan mencakup privasi, keamanan, identitas terpercaya, kriptografi, dan ketahanan siber.
Karena itu, keamanan perlu dibangun sejak tahap awal pengembangan AI melalui prinsip security by design. AI safety, AI security, dan digital trust menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem AI. Persiapan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghadapi agentic AI, tetapi juga perkembangan AI berikutnya, termasuk Artificial General Intelligence (AGI) dan Artificial Super Intelligence (ASI).
Kesiapan teknologi nasional pada akhirnya diarahkan pada konsep sovereign AI. Melalui konsep tersebut, Indonesia tetap dapat bekerja sama dengan berbagai pihak, tetapi memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengendalikan teknologi AI, termasuk agentic AI. Untuk menuju ke arah tersebut, Indonesia memiliki sejumlah aset yang dapat dikembangkan, seperti peneliti, algoritma, data, infrastruktur, kekayaan intelektual, dan mitra industri.
Pengembangan aset tersebut masih perlu diperluas melalui riset, inovasi, dan pemanfaatan teknologi. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI, tetapi juga memiliki kemampuan menghasilkan teknologi dan kekayaan intelektual yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna AI. Kesiapan nasional juga ditentukan oleh kemampuan mengubah hasil riset menjadi teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat. (Natasya Dwi Putri)