Menhan Jepang Shinjiro Koizumi menyatakan negaranya perlu membuka debat mengenai senjata nuklir. (Anadolu Agency)
Menhan Shinjiro Koizumi Serukan Jepang Bahas Isu Senjata Nuklir
Willy Haryono • 19 July 2026 15:24
Tokyo: Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyatakan negaranya perlu mulai membahas isu senjata nuklir di tengah perubahan lingkungan keamanan global dan meningkatnya upaya sejumlah negara Eropa memperkuat daya tangkal nuklir.
Dikutip dari Kyodo News, Minggu, 19 Juli 2026, Koizumi menyampaikan dalam sebuah program daring bahwa Jepang tidak dapat terus menghindari pembahasan mengenai isu senjata nuklir.
Menurutnya, situasi keamanan Jepang kini semakin berat sehingga diperlukan perubahan terhadap anggapan bahwa sejumlah topik tidak layak untuk didiskusikan.
Koizumi mencontohkan langkah Prancis dan Finlandia yang berupaya memperkuat kemampuan penangkalan nuklir. Pada Juni lalu, parlemen Finlandia menyetujui rancangan undang-undang yang memungkinkan senjata nuklir dibawa masuk ke wilayah negara tersebut.
Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Maret lalu menyatakan negaranya akan menambah jumlah hulu ledak nuklir.
Jepang sendiri selama ini berada di bawah perlindungan payung nuklir Amerika Serikat dan menjadi satu-satunya negara yang pernah mengalami serangan senjata nuklir.
Negeri Sakura juga tetap berpegang pada tiga prinsip non-nuklir, yakni tidak memproduksi, tidak memiliki, dan tidak mengizinkan senjata nuklir berada di wilayahnya.
Isu kepemilikan senjata nuklir sebelumnya sempat memicu kontroversi pada Desember tahun lalu. Saat itu, seorang sumber yang terlibat dalam penyusunan kebijakan keamanan Jepang menyatakan negara tersebut seharusnya memiliki senjata nuklir, sehingga memicu kritik dari partai-partai oposisi dan sejumlah negara.
Mantan Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera juga pernah menyatakan pada akhir tahun lalu bahwa Jepang perlu membuka pembahasan mengenai masa depan prinsip non-nuklir yang selama ini dianut.
Baca juga: Tiongkok Uji Coba Rudal dari Kapal Selam Nuklir, Australia dan Jepang Bereaksi