Presiden Prabowo Subianto. Foto: Tangkapan layar
Langkah Presiden dan Menteri ESDM terkait Ketahanan Energi Sangat Tepat
M Sholahadhin Azhar • 11 May 2026 16:15
Jakarta: Langkah Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, di bidang energi sangat tepat. Sebab, memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika global.
“Dinamika perang global yang sangat luas membuat banyak negara menghadapi tekanan besar dalam sektor energi. Karena itu, kita harus mengapresiasi langkah Presiden Prabowo yang fokus menjaga stabilitas dan ketahanan energi nasional," kata calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Anthony Leong, dalam keterangan tertulis, Senin, 11 Mei 2026.
Ketua Bidang Sinergitas Danantara dan BUMN BPP HIPMI ini, membeberkan hal tersebut dalam debat Calon Ketua Umum BPP HIPMI. Anthony menilai kondisi geopolitik dunia yang penuh ketidakpastian, perlu strategi energi yang adaptif, mandiri, dan berkelanjutan.
"Indonesia urutan nomor 2 menurur JP Morgan terkait ketahanan energi dan tahan guncang,” ujar Anthony.
Menurut Anthony, kebijakan pemerintah dalam mengamankan pasokan energi domestik, mempercepat hilirisasi sumber daya alam dan meningkatkan lifting migas. Sekaligus, serta mendorong investasi di sektor energi baru dan terbarukan merupakan fondasi penting dalam menjaga daya tahan ekonomi Indonesia.
Ia menegaskan bahwa ketahanan energi saat ini telah menjadi isu strategis lintas sektor. Karena, berkaitan langsung dengan inflasi, biaya produksi industri, daya beli masyarakat, hingga keberlanjutan UMKM.
“Ketahanan energi bukan lagi isu sektoral semata, tetapi sudah menjadi instrumen utama menjaga stabilitas ekonomi nasional. Jika pasokan energi terganggu, maka dampaknya berantai ke sektor industri, logistik, pangan, hingga kesejahteraan masyarakat,” jelas Anthony.
Lebih lanjut, Anthony menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama energi regional apabila mampu mengoptimalkan potensi sumber daya alam dan memperkuat kebijakan industrialisasi berbasis energi nasional.

Ketua Bidang Sinergitas Danantara dan BUMN BPP HIPMI Anthony Leong. Foto: Istimewa
Menurutnya, agenda hilirisasi yang didorong pemerintah harus dikawal secara konsisten agar Indonesia tidak lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi bagi perekonomian nasional.
"Momentum saat ini harus digunakan untuk membangun industri berbasis energi yang kuat, meningkatkan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” kata Anthony.
Ia menekankan bahwa HIPMI harus mengambil peran strategis sebagai jembatan antara pemerintah dan pelaku usaha dalam mendukung agenda kemandirian ekonomi nasional.
“HIPMI harus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menciptakan ekosistem bisnis yang mendukung kemandirian energi dan ketahanan ekonomi nasional. Pengusaha muda tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi bagian dari solusi pembangunan nasional,” tambahnya.
Anthony optimistis, dengan sinergi kuat antara pemerintah dan dunia usaha, Indonesia tidak hanya mampu menghadapi tantangan perang global dan tekanan ekonomi internasional, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama di kawasan Asia.
“Di tengah ketidakpastian global, negara yang memiliki kemandirian energi akan lebih siap menjaga stabilitas ekonominya. Indonesia punya modal besar untuk itu, tinggal bagaimana konsistensi kebijakan dan kolaborasi lintas sektor terus diperkuat,” tutup Anthony.