Masyarakat Perlu Mempererat Persatuan untuk Hadapi Tantangan Global

Ilustrasi persatuan masyarakat Indonesia. Foto: Istimewa

Masyarakat Perlu Mempererat Persatuan untuk Hadapi Tantangan Global

M Sholahadhin Azhar • 8 April 2026 20:21

Jakarta: Indonesia dinilai memerlukan persatuan untuk menghadapi tantangan global. Apalagi, di tengah dinamika geopolitik yang tak menentu.

“Menjadi kewajiban moral kita tanpa terkecuali untuk menjaga situasi tersebut untuk keselamatan bersama,” kata inisiator 98 Resolution Network Haris Rusly Moti, dikutip dari Antara, Rabu, 8 April 2026.

Ia menilai stabilitas nasional yang kondusif, dari sisi ekonomi maupun politik, menjadi faktor penting di tengah ketidakpastian global. Menurut dia, kondisi tersebut perlu dijaga secara kolektif agar Indonesia tidak terdampak lebih dalam oleh dinamika geopolitik dunia.

Haris juga menyoroti pendekatan dialog yang dilakukan pemerintah dalam merespons perbedaan pandangan di masyarakat. Ia menyebut ruang komunikasi tetap terbuka, termasuk terhadap kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Dalam konteks pengelolaan program prioritas, Haris menyatakan kritik publik menjadi bagian dari proses perbaikan tata kelola, termasuk pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai pemerintah telah merespons kritik tersebut melalui langkah korektif.
 


“Ini adalah bukti Presiden Prabowo tidak menutup mata dan telinga terhadap kritik dan koreksi terhadap tata kelola program pemerataan gizi nasional melalui MBG,” katanya.

Ia menambahkan, perbaikan tata kelola menjadi penting mengingat sejumlah program sosial sebelumnya juga masih menghadapi tantangan dalam implementasi.

“Apalagi program yang baru dirintis oleh Presiden Prabowo, dan baru berjalan satu tahun lebih, tentu kita akui belum sempurna dalam pelaksanaannya, masih membutuhkan perbaikan pada level tata kelola,” kata Haris.


Inisiator 98 Resolution Network Haris Rusly Moti/Foto: Antara

Terkait kondisi global, Haris menilai sejumlah negara saat ini menghadapi tekanan serius akibat krisis energi dan gangguan rantai pasok. Namun, ia menilai Indonesia relatif mampu menjaga stabilitas pasokan energi dan kebutuhan pokok.

“Namun, di dalam negeri, kita bersyukur kepada Tuhan, berkat kerja keras Presiden Prabowo berhasil memastikan pasokan energi yang stabil dan terjangkau,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kebijakan antisipatif pemerintah, termasuk percepatan program swasembada pangan sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor di tengah ketidakpastian global.

“Kita saat ini bisa berdiri tegak tanpa kekuatiran kelangkaan beras, itu juga karena keberhasilan pemerintah dalam menjalankan program swasembada pangan,” tegasnya.

Menurut Haris, stabilitas tidak hanya dimaknai dari sisi politik dan keamanan, tetapi juga harus mencakup aspek ekonomi yang berdampak langsung pada masyarakat, seperti harga kebutuhan pokok, keberlangsungan industri, dan perlindungan tenaga kerja.

“Kita bisa bayangkan jika situasi ekonomi tidak stabil, harga-harga kebutuhan tidak terkendali, maka banyak pabrik bisa tutup dan terjadi PHK yang merugikan buruh,” ujarnya.

Melalui berbagai program prioritas, menurut dia, pemerintah berupaya mendorong pemerataan kesejahteraan dan memperkuat ketahanan nasional di tengah tekanan global yang semakin kompleks.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)