Wabah Ebola yang menyerang Kongo. Foto: Anadolu
Krisis Kemanusiaan di RD Kongo Kian Memburuk Akibat Wabah Ebola
Fajar Nugraha • 17 June 2026 10:29
Kinsasha: Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengatakan bahwa epidemi Ebola yang melanda wilayah timur Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) memperparah kerentanan masyarakat yang sebelumnya telah terdampak oleh konflik bersenjata dan berbagai bentuk kekerasan lainnya.
Pihak ICRC merinci bahwa sepanjang periode 15 Mei hingga 15 Juni, lima rumah sakit yang mereka dukung di Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan mencatat adanya 303 korban jiwa. Angka tersebut menunjukkan lonjakan sebesar 30 persen jika dibandingkan dengan data periode 14 April hingga 14 Mei lalu.
Kementerian Kesehatan Kongo dalam pembaruan data terbaru melaporkan telah mendeteksi lebih dari 800 kasus terkonfirmasi Ebola, termasuk 196 korban meninggal dunia, sejak wabah yang dipicu oleh virus Ebola varian Bundibugyo ini resmi diumumkan pada 15 Mei.
ICRC mengingatkan bahwa meskipun epidemi Ebola di provinsi terdampak menuntut kewaspadaan tingkat tinggi, terdapat kekhawatiran besar bahwa krisis kesehatan ini dapat mengaburkan fakta mengenai kebutuhan akut yang terus dialami oleh warga terdampak perang dan kekerasan.
Koordinator Medis ICRC di Kongo, Moussa Badji menjelaskan bahwa krisis kesehatan akibat wabah Ebola ini sama sekali tidak menurunkan jumlah kasus darurat yang dipicu oleh konflik bersenjata. Kondisi tersebut membuat tim bedah rumah sakit berada di bawah tekanan konstan akibat terus mengalirnya pasien dengan luka tembak atau luka akibat senjata perang.
Sebagai indikator dari kian sengitnya pertempuran di lapangan, pihak ICRC mengonfirmasi bahwa sejumlah rumah sakit yang berada di wilayah Bukavu, Uvira, dan Fizi di Kivu Selatan telah menerima sedikitnya 170 korban luka. Kepala Delegasi ICRC di Kongo, Francois Moreillon, memperingatkan bahwa perpaduan antara kecamuk konflik militer dan penyebaran epidemi penyakit berpotensi menimbulkan dampak yang sangat mengerikan bagi warga sipil.
“Kombinasi dari konflik bersenjata dan epidemi ini berpotensi menimbulkan dampak yang sangat merusak,” ujar Moreillon, seperti dikutip Anadolu, pada Rabu, 17 Juni 2026.
Ia menegaskan bahwa dalam situasi pelik ini, sangat penting bagi pihak-pihak yang bertikai untuk bertindak secara bertanggung jawab guna memastikan adanya kerja sama dan koordinasi yang optimal di bidang kesehatan, termasuk memfasilitasi ruang gerak organisasi kemanusiaan serta mempercepat pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
“Langkah-langkah ini sangat penting untuk memastikan bahwa korban luka dan sakit menerima perawatan medis yang tepat secepat mungkin,” tambah Moreillon.
Secara geografis, virus mematikan ini dilaporkan terus menyebar luas di wilayah provinsi timur seperti Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan, di mana wilayah Ituri menyumbang hampir 95 persen dari keseluruhan total kasus yang ditemukan.
Sementara itu, organisasi kemanusiaan medis Doctors Without Borders (MSF) mengatakan pada Senin bahwa meskipun telah ada peningkatan skala respons di lapangan, kesenjangan besar dalam hal pengawasan, diagnosis, pelacakan kontak erat, serta pelibatan masyarakat lokal masih terus menghambat upaya untuk mengendalikan wabah setelah satu bulan berjalan.
(Kelvin Yurcel)