Presiden Haiti Jovenel Moise dibunuh pada 2021. (EPA)
18 Tersangka Pembunuhan Presiden Haiti Jovenel Moise Diekstradisi ke AS
Muhammad Reyhansyah • 21 September 2026 11:26
Port-au-Prince: Sebanyak 18 tersangka yang menghadapi dakwaan federal terkait pembunuhan Presiden Haiti Jovenel Moise pada 2021 telah diekstradisi ke Amerika Serikat (AS).
Mereka diterbangkan dari ibu kota Haiti, Port-au-Prince, menuju Florida untuk menghadapi persidangan atas dugaan keterlibatan dalam rencana pembunuhan tersebut.
Para tersangka diterbangkan menggunakan pesawat militer pada Minggu, 20 September 2026. Mereka akan menjalani proses hukum di Florida terkait dugaan keterlibatan dalam rencana pembunuhan lintas negara terhadap Moise.
Perkembangan tersebut terjadi setelah jaksa federal AS di Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Selatan Florida berhasil memperoleh vonis terhadap empat terdakwa pada Mei lalu. Keempatnya disebut jaksa sebagai pemimpin geng dan konspirator yang terlibat dalam rencana pembunuhan Moise.
Penyelidikan kasus tersebut dipimpin Jaksa AS Jason A Reding Quinones, yang ditunjuk Presiden AS Donald Trump.
"Hari ini menandai tahap besar berikutnya dalam upaya kami mencari pertanggungjawaban atas pembunuhan Presiden Jovenel Moise," tulis Quinones melalui media sosial, dikutip dari Al Jazeera, Senin, 21 September 2026.
Ia mengatakan pihaknya akan mengikuti bukti yang ada untuk mengungkap pihak yang membiayai, memfasilitasi, mendukung, atau melakukan tindak pidana untuk mewujudkan rencana tersebut.
Quinones belum mengungkap identitas 18 tersangka yang diekstradisi. Sementara itu, sejumlah tersangka yang masih berada di Haiti dan menunggu persidangan mencakup lebih dari selusin mantan tentara Kolombia serta seorang mantan pejabat pemerintah Haiti.
Quinones mengatakan FBI dan sejumlah lembaga lain tetap berupaya memastikan seluruh orang yang diduga mencari keuntungan dari pembunuhan seorang kepala negara dimintai pertanggungjawaban.
Agen Khusus FBI Brett Skiles mengonfirmasi bahwa sejumlah penangkapan dilakukan di AS dan luar negeri pada Minggu.
Kasus Pembunuhan Moise
Moise, 53, ditembak mati di kediaman pribadinya di kawasan Pelerin 5, perbukitan di atas Port-au-Prince, pada Juli 2021. Istrinya terluka parah dalam serangan tersebut.Pembunuhan Moise memicu kekosongan politik di Haiti dan membuat negara Karibia tersebut tidak memiliki pemimpin nasional yang terpilih.
Dalam persidangan di Florida pada Mei, juri menyatakan empat orang bersalah dalam kasus pembunuhan tersebut. Sedikitnya lima terdakwa lain telah mengaku bersalah dan menjalani hukuman penjara seumur hidup.
Perkara tersebut diproses di pengadilan federal Florida karena jaksa AS mengatakan rencana pembunuhan sebagian besar dirancang, dibiayai, dan dipersiapkan dari wilayah selatan Florida.
Proses persidangan di Haiti dinilai semakin sulit dilakukan akibat memburuknya kondisi keamanan dan lemahnya sistem peradilan di tengah kekerasan geng, kekacauan politik, dan krisis kemanusiaan.
Aktivis hak asasi manusia Haiti sekaligus Direktur Eksekutif National Human Rights Defense Network, Pierre Esperance, menyebut pemindahan 18 tersangka ke AS sebagai "aib bagi sistem peradilan Haiti". Ia menyerukan reformasi sistem peradilan agar kasus-kasus kompleks serupa dapat diadili di Haiti pada masa mendatang.
Belum ada pemilihan umum nasional yang digelar di Haiti sejak pembunuhan Moise.
Menurut PBB, sedikitnya 8.100 pembunuhan terkait geng tercatat sepanjang 2025, sementara sekitar 1,5 juta orang terpaksa mengungsi akibat situasi keamanan.
Baca juga: Komplotan Pembunuh Presiden Haiti Ditangkap