Buku ‘Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa’ Diharapkan Dapat Perkuat Ketahanan Kesehatan Nasional

Peluncuran buku ‘Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa’ karya Cashtry Meher. Metrotvnews.com/Rona

Buku ‘Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa’ Diharapkan Dapat Perkuat Ketahanan Kesehatan Nasional

Rona Marina Nisaasari • 14 January 2026 22:54

Jakarta: Buku ‘Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa’ karya Cashtry Meher diharapkan dapat memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Buku ini terinspirasi dari pengalaman pribadi sang penulis saat mengunjungi daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Ada pun misi dan visi dalam buku ini adalah terkait melanjutkan dan memperkuat sistem ketahanan kesehatan nasional khususnya di dalam pembangunan, di dalam pelayanan dan lain sebagainya, yang di mana dampak yang diberikan harus dirasakan setiap lapisan masyarakat,” ujar Cashtry, dalam peluncuran bukunya berjudul ‘Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa’, Rabu, 14 Januari 2026.

Dia bercerita soal pengalamannya di Pulau Nias yang menjadi salah satu konsep awal dari lahirnya buku ini. Dia berupaya mengentaskan stunting di daerah 3T, salah satunya Kepulauan Nias.

“Di situ saya melihat secara langsung apa yang terjadi dan apa hambatan yang dialami masyarakat, terutama yang paling keras adalah hambatan infrastruktur. Di mana jarak antara tempat tinggal dengan pelayanan kesehatan tidak memadai,” ungkap Cashtry.
 

Baca Juga: 

Ketahanan Kesehatan sebagai Investasi Peradaban, DR. Cashtry Meher Luncurkan Buku "Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa"


Sejumlah tokoh menghadiri peluncuran buku ini, salah satu Ketua Dewan Pembina BACenter dan Board of Advisors Prasasti, Burhanuddin Abdullah.

Burhanuddin mengaku cukup memahami isi buku ‘Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa’. Dia menilai Indonesia memang memiliki tantangan besar di bidang kesehatan karena letak geografisnya.

“Saya melihat berbagai fakta secara menyeluruh dan kita harus mengakui kita sudah berusaha cukup banyak tetapi tantangan kita juga masih sangat besar. Kita sudah memberikan pelayanan kesehatan hampir ke seluruh rakyat Indonesia. Tentu karena kita ini adalah secara geografis agak sulit negara kepulauan,” kata Burhanuddin.

Dia melihat secara umum, usia harapan hidup masyarakat Indonesia masih rendah daripada Malaysia, Thailand, dan Singapura. Sehingga, buku karya Cashtry menjadi menarik karena menarasikan hal-hal konkret di lapangan.

“Jadi perjalanan ke depan masih panjang. Karena itu buku ini adalah buku yang menarik karena dia berbeda. Dia menuturkan, menarasikan hal-hal yang konkret yang terjadi di lapangan. Di sana ada pemikiran, di sana ada gagasan, di sana ada inisiatif yang secara intelektual akan mendukung kepada upaya-upaya penyihatan bangsa ini ke depan. Produktivitas kita belum begitu tinggi dan karena itu maka kalau ingin 8 persen pertumbuhan bangsa ini harus sehat,” ujar Burhanuddin.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)