Khotbah Arafah, Menhaj: Haji Harus Hadirkan Kesalehan dan Kemanusiaan

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf. Dok. Kemenhaj

Khotbah Arafah, Menhaj: Haji Harus Hadirkan Kesalehan dan Kemanusiaan

Ficky Ramadhan • 26 May 2026 19:47

Jakarta: Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Moch. Irfan Yusuf, menyampaikan pesan penting dalam Khotbah Arafah 1447 H/2026 M yang berlangsung di Padang Arafah, Arab Saudi. Menhaj menegaskan momentum wukuf di Arafah menjadi pengingat tentang kesetaraan, ketundukan, dan persaudaraan umat manusia di hadapan Allah SWT.

"Hari ini kita berada di Arafah. Di tempat yang mulia ini, jutaan manusia datang dengan pakaian yang sama, doa yang sama, dan harapan yang sama. Semua menundukkan diri di hadapan Allah SWT," kata Menhaj, dalam keterangannya, Selasa, 26 Mei 2026.

Dia menjelaskan seluruh jemaah haji Indonesia telah bergerak menuju Arafah sejak pukul 07.00 waktu Arab Saudi, Senin, 25 Mei 2026. Pemerintah terus memastikan proses pergeseran jemaah berjalan sesuai jadwal, serta memperoleh layanan yang aman dan nyaman menjelang puncak ibadah haji.

Menurut Menhaj, penyelenggaraan haji tahun ini memiliki makna historis karena untuk pertama kalinya dilaksanakan dalam kerangka Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 92 Tahun 2025.

"Tahun ini menjadi tonggak penting. Pelayanan haji harus menjadi bukti bahwa negara hadir lebih fokus, lebih terarah, dan lebih dekat kepada jemaah," ujar dia.

Dalam kesempatan itu, Menhaj memaparkan perkembangan operasional haji Indonesia. Sebanyak 527 kelompok terbang (kloter) dengan total 202.551 jemaah serta 2.098 petugas telah tiba di Mekah. Selain itu, 16.596 jemaah haji khusus juga sudah berada di Arab Saudi.

Fokus layanan saat ini diarahkan pada kesiapan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), mulai dari penempatan tenda, konsumsi, transportasi, layanan kesehatan, pelindungan jemaah, hingga kesiapan petugas lapangan.

Menhaj menegaskan penyelenggaraan haji tahun ini mengusung konsep Tri Sukses Haji. Pertama, sukses ritual agar ibadah jemaah berjalan sah, tertib, dan khusyuk. Kedua, sukses ekosistem ekonomi haji yang memberikan manfaat bagi bangsa dan memperkuat tata kelola dam secara akuntabel. Ketiga, sukses keadaban dan peradaban melalui pembentukan karakter jemaah yang lebih sabar, disiplin, dan santun.

"Haji tidak hanya menghadirkan kesalehan pribadi, tetapi juga harus melahirkan atsar kebaikan bagi masyarakat dan bangsa," ucap dia.

Fase puncak ibadah haji akan dimulai pada Senin, 25 Mei 2026. Dok MCH 2026/Akmal

Baca Juga: 

Jemaah Jalani Wukuf di Arafah Hari Ini, Begini Rangkaian Rukun Haji

Dalam khotbahnya, Menhaj menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara keselamatan jiwa (hifz an-nafs) dan keabsahan ibadah (hifz ad-din). Salah satunya melalui penerapan skema murur bagi jemaah lansia, risiko tinggi, dan penyandang komorbid agar dapat bergerak dari Arafah menuju Mina tanpa turun dan mabit di Muzdalifah.

Skema tersebut dinilai mampu mengurangi kepadatan dan kelelahan jemaah tanpa mengurangi kesempurnaan rangkaian ibadah sesuai bimbingan petugas.

Selain itu, Menhaj menegaskan komitmen pemerintah dalam menghadirkan layanan Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan. Menurutnya, setiap jemaah harus merasa aman, terlindungi, dan mendapatkan pelayanan yang penuh empati.

"Setiap keterbatasan harus mendapat dukungan, dan setiap petugas harus hadir dengan sigap serta memahami kebutuhan khusus jemaah," ucap dia.

Pada aspek layanan, pemerintah menyiapkan makanan siap santap bercita rasa Nusantara selama fase Armuzna. Setiap jemaah akan memperoleh 15 porsi makanan yang distribusinya dimulai sejak 6 Dzulhijjah agar jemaah dapat lebih fokus beribadah.

Digitalisasi layanan turut diperkuat melalui pengawasan berbasis Command Center dan aplikasi Kawal Haji guna mempercepat respons petugas di lapangan. Sementara itu, tata kelola dam juga terus diperbaiki. Hingga saat ini tercatat sekitar 145.341 jemaah telah membayar dam, baik melalui Adahi di Arab Saudi maupun mekanisme pembayaran di Indonesia.

Sebagian besar daging dam jemaah Indonesia juga diarahkan untuk membantu masyarakat Palestina melalui koordinasi dengan Pemerintah Arab Saudi.

Menutup khotbahnya, Menhaj mengajak seluruh jemaah memanfaatkan momentum Arafah sebagai ruang muhasabah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak doa, zikir, dan istighfar.

"Arafah adalah ruang muhasabah. Mari isi waktu wukuf dengan doa terbaik untuk keluarga, para pemimpin bangsa, keselamatan Indonesia, dan semoga seluruh jemaah kembali ke Tanah Air sebagai haji yang mabrur," tutur Menhaj.

(Achmad Zulfikar Fazli)